Mengapa Terawan?

ilustrasi

Oleh : Lutfi Sapto

Apakah Jokowi Mengendus Ada Mafia Kedokteran dan Farmasi yang Harus Dilibas?

dr.DR.Terawan Adi Putranto dipilih Presiden Jokowi sebagai Menkes. Pasti ada latarbelakang dari sebuah keputusan seorang Presiden sekelas Joko Widodo yang bukan kepala negara klas ecek2 seperti Idi Amin Dada.

Mari kita tengok siapa Terawan AP itu. Dia alumnus FK UGM, bekerja sebagai Perwira TNI AD sebagai dokter TNI. Lalu mengambil spesialis radiologi di Unair, dan memperdalam ilmunya di Unhas untuk gelar doktor dengan tesis "Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis". Dia lulus, jadi secara akademik tesisnya diakui. Ingat itu...

Dengan bidang keilmuannya sembari melaksanakan tugas2nya sebagai dokter TNI. Terawan menemukan metode DSA atau Digital Substraction Angiography yang secara populer dikenal publik sebagai metode "cuci otak". Metode DSA ini kemudian dipatenkan di Jerman dan diberi nama "Terawan Theraphy". Ingat itu baik-baik, artinya metode DSA ini secara hukum diakui oleh sebuah bangsa yang terkenal ideologi penalarannya yang tinggi, bukan bangsa katanya2!

Dengan metode DSA ribuan pasien bisa sembuh dan terbebas dari stroke termasuk Aburizal Bakrie, saat itu Ketua Umm Golkar. Dia mengaku terbebas dari ancaman kematian karena metode DSA.

Dunia kedokteran Indonesia dan mungkin dunia geger. Karena puluhan ribu pasien Terawan yang mengalir, datang dari berbagai negara.

Selama ini pasien stroke menerima macam2 pengobatan dari dokter dengan harapan tipis sembuh. JIka kalian divonis stroke beberapa kali, ahaaaa... selamat jalan! Lumpuh atau mati! Dan untuk mempertahankan hidup walau dalam kelumpuhan kalian wajib mengkonsumsi lima enam merk obat tentu dengan harga aduhai. Sebelumnya kalian harus dioperasi ini itu, pasang ring sampai empat lima kali. Dan itu semua berurusan dengan ratusan juta rupiah yang mengalir ke para dokter, rumahsakit, dunia farmasi, dan industri alkes.

Dengan DSA, Terawan melawan arus itu semua. Aliran duit ratusan juta rupiah dari tiap pasien yang jumlahnya jutaan orang terhambat, karena pasien stroke itu "berselingkuh" dengan metode temuan Pak Dokter Tentara itu.

Beberapa belas tahun lalu majalah Tempo pernah menurunkan tajuk utama tentang mafia kedokteran yang bergandeng erat dengan industri farmasi. Dilaporkan dengan metode investigatif, betapa masif, sistemik, dan terstrukturnya kalangan medis mengaduk-aduk emosi pasien "takut mati" sehingga mereka berjibaku dengan tujuan "pokoknya sembuh." Tujuan semacam ini adalah pasar luar biasa, Bung! Apalagi di sebuah ranah di mana hanya kalangan terbatas saja yang tahu sisik-melik teknisnya. Kalau resep masakan 'sih mudah dicari apa dan bagaimananya, tapi resep dokter?

Menjadi pertanyaan, apakah dengan sengaja Presiden Jokowi memilih dr.DR Terawan sebagai Menkes, karena Sang Presiden bermaksud melibas mafia kedokteran dan mafia farmasi yang pernah dikonstatir majalah Tempo, sebagaimana ia sudah melibas mafia minyak dengan pembubaran Petral? Walahualam, kita tunggu saja Sang "Dokter Cuci Otak" berkiprah.

Selamat bekerja, Dok. Tuhan memberkati Anda.

Sumber : Status Facebook Lutfi Sapto

Saturday, October 26, 2019 - 20:15
Kategori Rubrik: