Mengapa Tanpa Vaksin, Resiko Kena Difteri 2000 Kali Lebih Besar? ini Penjelasannya

Ilustrasi

Oleh : Yulia Sofiatin

Banyak data yang menjadi sandaran 'fakta', tapi sebetulnya data juga bisa menyesatkan ..

Dua terminologi: proporsi dan prevalensi, saya ambil contoh difteri aja, bukan HIV.

Kasus difteri yang ramai belakangan ini disebutkan terjadi 66% pada yang tidak divaksin dan 33% pada yang divaksin. Ini namanya proporsi, perbandingan jumlah divaksin dan tidak divaksin pada penderita difteri. Angka ini tidak menunjukkan 'manfaat' vaksin.

Untuk melihat seberapa besar vaksin 'melindungi', kita harus melihat prevalensi. Anggaplah ada 100 (ralat, 99) penderita difteri, yang mendapat vaksin 1jt anak dan yang tidak divaksin 1000 anak. Maka prevalensi difteri pada yang divaksin adalah 33/1jt, sementara pada yang tidak divaksin adalah 66/1rb. Mana yang lebih sering (yaitu yang angkanya lebih besar)?

Mau lebih tepat lagi mengenai perkiraan manfaat vaksin... bandingkanlah prevalensi difteri pada kedua kondisi yang berbeda tersebut. Perbandingan prevalensi yang tidak divaksin dibanding yang divaksin adalah 66/1rb dibagi dg 33/1jt, pakai perkalian jaman SD, menjadi 66/1000 x 1jt/33=2000 (hitung sendiri, kalau ga percaya).

Apa artinya? Tanpa vaksinasi, kemungkinan seorang anak untuk kena difteri bukan cuma 2xlbh besar (66:33), tetapi 2RIBU kali lebih besar kemungkinannya. (Catatan... ini hanya menggunakan angka perumpamaan, bukan data real; yang punya data real... boleh bagi dengan saya, nanti saya hitungkan.

Perhitungan yang sama bisa dipakai untuk memperkirakan kemungkinan seseorang kena HIV dari orientasi/perilaku seksualnya.. katanya sekarang di Indonesia lebih banyak ibu rumah tangga yang kena HIV dibanding gay dkk. Nah masukkanlah jumlah seluruh ibu rumah tangga di Indonesia dan jumlah seluruh gay dkk di Indonesia ke dalam perhitungan... itulah aslinya angka kemungkinan seorang yang IRT atau gay dkk untuk tertular HIV.

Data itu cuma angka, bisa dipakai membela, bisa juga dipakai mencerahkan, tergantung bagaimana mengolahnya; angka mana yg dipakai dan bagaimana angka tsb dimaknai. Mari belajar epidemiologi.

Sumber : Status Facebook Yulia Sofiatin 

Friday, December 22, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: