Mengapa Susi Berkeras Melarang Ekspor Benur/Benih Lobster?

Ilustrasi

Oleh : Agoes Ibrahim

Tahun 1999-2000 saya pernah tinggal di pulau terpencil di Sulawesi Selatan, berbisnis ikan kerapu. Dari situ saya mengetahui liku-liku bisnis lobster laut...

Lobster laut adalah hewan yang hidup di wilayah terumbu karang. Biasanya dia bergerombol dalam kelompok kecil, 10-20 ekor, tinggal di gua-gua atau di celah karang.
Lobster diburu manusia karena rasanya sangat lezat sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Ada berbagai jenis lobster laut, dan harga lobster dewasa hidup, per kilogramnya berkisar 600 ribu sampai 1,5 juta tergantung jenis lobster dan musimnya.
Bila mati, harganya jatuh. Per kg paling hanya 100-200 ribu saja.
Lobster cacat, misalnya lengan atau kakinya ada yang patah, harganya juga drop. Bisa hanya setengah dari harga normal.

Menangkap lobster dalam kondisi hidup di celah-celah terumbu karang tidaklah mudah.
Hanya ada 2 cara menangkap lobster yakni cara legal dan cara ilegal.

Cara legal adalah cara memperoleh lobster dengan menggunakan bubu (perangkap yang terbuat dari bambu) atau dipancing dengan menggunakan umpan udang kecil..
Hasilnya ?
Sedikit dan lamaaa...

Cara ilegalnya ?
Ini yang paling cepat dan dapat hasil yang banyak.
Seorang penyelam hanya mencari goa atau celah karang tempat lobster bergerombol yang berada dikedalaman 3-10 meter. Bila ditemukan, tinggal semprotkan saja potas yang sudah dicampur air dari botol aqua. Tunggu 10-20 menit. Bila gerombolan lobster sudah terbius, tinggal dipungut saja dan masukkan ke dalam keranjang.
Dampak buruknya ?
Lobster cepat habis dan terumbu karangnya mati..
Bila diambil paksa dalam kondisi sehat/normal, gerombolan lobster akan bubar jalan. Lagipula lobster yang sudah terpegang tanganpun bakal meronta-ronta dan dikuatirkan tangan dan kaki bisa putus terkena terumbu karang. Tangan penyelampun bisa lecet-lecet berdarah.

20 tahun yang lalu, sudah ada orang yang budidaya lobster di keramba apung di daerah Sulawesi. Mereka membesarkan benih lobster sampai ukuran konsumsi. Tapi kebanyakan kegiatan budidaya ini hanya kamuflase saja.
Untuk apa memberi makan benih lobster sehari 2 x dengan daging ikan ?
High cost.. !
Jadi diam-diam pembudi daya itu membeli lobster dewasa dari nelayan maupun penyelam dan ditaruh di kerambanya. Kalau sudah terkumpul banyak, dijualnya dengan harga berlipat ganda ke eksportir.

Bagaimana dengan benur/benih lobster ?

Menteri Susi sebagai orang lapangan yang jujur, dia tau ada penangkapan lobster dewasa dengan cara ilegal yang sulit dikontrol karena lautan Indonesia ini begitu luasnya. Negara tak mampu menyediakan anggaran untuk aparat yang banyak sekali. Dan ekspor lobster dewasa, legal secara hukum.
Oleh karena itu beliau melarang ekspor benur alias "anak cucu cicit lobster"...
Maksud beliau, bila "bapak, omak dan opungnya kau ekspor", biarlah anak cucu cicit lobster membesar dulu di lautan.. nanti kalau mereka sudah gede, ambillah.. eksporlah tapi jangan anak cucu cicitnya kau ekspor pulak...
Semua itu kan demi masa depan anak cucu cicit nelayan juga..

Tapi entah apa yang merasuki pikiran pejabat di pusat.
Menteri Susi dicopot dan keran ekspor anak cucu cicit lobster dilegalkan. Sengaja dibuka selebar-lebarnya dengan alasan telah terjadi penyelundupan benur alias ekspor ilegal.
Sebenarnya yang diselundupkan itupun hanya 2-5% dari total populasi benur nasional karena resiko tertangkapnya sangat tinggi. Dan untuk mengatasi penyelundupanpun tidaklah sulit karena penyelundupan benur PASTI dilakukan melalui cargo udara.
Bila diselundupkan lewat laut, biaya pemeliharaan berhari-hari selama di kapal cukup mahal dan resiko matinya sangat tinggi..

Tinggal pemerintah tempatkan saja petugas kontrol di airport yang ada direct flight ke negara yang diduga sebagai pembeli benur seperti Vietnam, Thailand, Taiwan dan China. Cek gudang-gudang di sekitar airport karena di situlah para penyelundup mengemas benur yang akan di ekspor.
Gudang pengemasan benur HARUS di dekat airport karena pekerjaan pengemasan dilakukan sesuai jadwal penerbangan.
Tak mungkin para penyelundup mengemas benur di lokasi yang jauh dari airport karena benur yang sudah dikemas, hanya bisa bertahan hidup di dalam kemasan maksimal 8 jam saja.

Proses pengemasannya, benur hidup dimasukkan kedalam plastik besar yang berisi air laut, oksigen dan es balok, lalu dimasukkan lagi ke dalam boks styrofoam. Proses pengemasannyapun dilakukan dengan super cepat menjelang keberangkatan pesawat. Ingat, benur yang sudah masuk ke dalam boks styrofoam hanya mampu bertahan hidup maksimal 8 jam. Jadi tak mungkin benur tersebut dikirim via transit negara lain.

Sampai hari ini, tidak ada satupun hatchery, yakni tempat penetasan benur yang dilakukan pihak swasta di Indonesia.
Jadi benur yang diekspor itu mengambil langsung dari alam..!
Dan Edhy Prabowo selama 1 tahun jadi menteri, sudah mengeluarkan RATUSAN surat izin ekspor benur, terutama kepada rekan-rekannya sesama partai dan keluarga om Wowo yang notabene sebelumnya samasekali tak berpengalaman di bisnis benur.
Bisnis yang gurih dan sengaja dilegalkan, pastilah menggiurkan..

Bila aturan ekspor benur ini tetap dilegalkan oleh pemerintah, tak lama lagi resto-resto mewah di negeri ini akan menyajikan lobster yang...... diimpor dari Vietnam atau Thailand..

Menyedihkan, bukan..?

Sumber : Status Facebook Agoes Ibrahim

Saturday, November 28, 2020 - 19:00
Kategori Rubrik: