Mengapa Saya yang Seorang Muslim Menolak "Islamisme"

Oleh: Irma A Santi Jason

 

Saya lahir sekitar tahun 70an dan tumbuh diawal 80an dikota kecil dibone. Orang tua saya adalah orang biasa. mereka tidak terobsesi dengan kehidupan kaya ataupun jabatan dan juga kehidupan setelahnya. Saya bahkan tidak tahu apa itu ''Ma'had Tahfidz'' Tidak ada kata-kata Arab yang dipakai saat itu seperti sekarang, tiap hari sehabis pulang sekolah dan minggu malam saya mengaji, di mana guru ngaji saya mengajari kami bagaimana Mengeja dan membaca Al-Quran, Itu saja. 
Dengan membaca sambil melantungkan melodi dalam bahasa Arab dan tidak mengajarkan arti dari itu. Dia adalah seorang Guru ngaji yang baik (pada saat itu semua org tua sy anggap sbg orang tua saya di mata saya) Pernah suatu saat di memuji saya karena melafalkan ayat-ayat dengan sangat baik meskipun saya tidak tahu dan mengerti apa yang saya sedang baca. Saya hanya ingat orang tua saya sangat menginginkan agar saya berhasil di sekolah sehingga saya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik daripada yang dimiliki orang tua saya.

Ketika saya tumbuh dan mulai membaca lebih banyak tentang segala sesuatu termasuk keyakinan pribadi saya sendiri, saya menjadi percaya dan memahami bahwa agama adalah pribadi antara saya dan Tuhan. Tidak ada seorang pun di antara keduanya. Semakin saya mempelajari iman saya sendiri, semakin saya sangat percaya bahwa Islam itu sangat pribadi sehingga kita tidak perlu memiliki Paus atau ulama (Penceramah) yang menjadi wasit dalam apapun yang harus saya ikuti. cukuplah dengan memiliki imam dalam shalat. 

Ada banyak penafsiran tentang Islam dan ada banyak agama selain Islam, setiap orang menemukan jalannya sendiri sendiri. Lakum deenukum waliya deen (untukmu agamamu, dan untukku agamaku). 

Dengan perspektif inilah hari ini menjadi waktu yang sangat aneh bagi mereka yang tumbuh seperti saya, untuk melihat evolusi dalam masyarakat Indonesia di mana kelas ulama telah muncul untuk menandai interpretasi mereka tentang "Islam sejati" yang tidak tercela. Bahkan lebih menggelikan lagi bahwa kita memiliki Banyak sekali ulama dengan interpretasi yang berbeda-beda sebagai "otoritas" atau lulusan 9 negara yang berbeda, masing-masing bersikeras bahwa merekalah pembawa pesan terakhir.

Dan inilah kita sampai pada titik Islamisme. Webster mendefinisikannya sebagai "gerakan reformasi populer yang menganjurkan penataan kembali pemerintah dan masyarakat sesuai dengan hukum yang ditentukan oleh Islam". 

Konsep ini tidak ada pada tahun 70-an atau sebelum itu di Indonesia. kita semua menjalani kehidupan pribadi religiusitas atau ketidakreligiusitas yang independen di Negara ini. Akibatnya, orang-orang Indonesia atau Masyarakat Indonesia kita menjalani kehidupan sekuler "Untukmu agamamu, untukku Agamaku". Atau bahasa bugisnya “None of your business” (hiks joking) Dan lucunya,...jika saya bertemu dgn beberapa remaja Indonesia hari ini, kemungkinan besar mereka akan mengatakan; saat saya lahir dan tumbuh itu pada masa "jahilliyah", atau periode ketidaktahuan.

Ini bukan kebetulan. Persepsi ini penting bagi gerakan Islam sedunia yang didorong oleh Ikhwan Muslimin (Muslim Brotherhood) yang didirikan oleh Hassan Al Banna pada tahun 1928, sebagai gerakan terhadap kolonialisme dan nasionalisme Arab. Ajaran Ikhwan Muslim sangat dipengaruhi oleh filosofi salah satu anggotanya, Sayyid Qutb, yang termasuk pembentukan negara teokrasi berdasarkan syariah yang akan mengubah masyarakat dan pemerintah dari apa pun baik itu non-Muslim yang akan berpedoman pada hukum-hukum Islam oleh politik dan militan jihad ofensif. 

Qutb dan anggota Ikhwan Muslimin lainnya dipenjara setelah usaha pembunuhan yang gagal kepada Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser pada tahun 1954 setelah kejatuhan mereka dengan ideologi nasional sekuler Presiden. Qutb digantung pada tahun 1966 tetapi pengaruh ideologi Ikhwan Muslimin dan perampasannya terhadap setiap lembaga “jahiliyah” (baca-sekuler) kepada prinsip-prinsip teokrasi Islamis menyebar seperti api di dunia Islam. Revolusi Islam Iran 1979 juga memberikan katalis lebih lanjut kepada ideologi Islamisme, ini bukti bahwa Islam dapat melawan ideologi demokrasi Barat juga "berhasil". Di Indonesia. 

Dan asal-usul "sekuler dan liberal", seolah menjadi kata Aib dan kotor dalam kamus Muslim, jadi tujuan gerakan Islamisme dan Islamis adalah pemberantasan apa pun yang dianggap non-Islami yang secara khusus diidentifikasi sebagai Barat dan menggantikan bagian yang kontra dengan sistem teokrasi mereka. Dan ketika kaum Islamis memiliki pemberontak dalam pemerintahan, dan inilah yang telah kita lihat. Mungkin tidak menjadi masalah bagi mereka bahwa prinsip dan kebijakan yang diterapkan pada kenyataannya tidak Islami selama itu Islami dalam label mereka, atau kontra-produktif terhadap kemajuan masyarakat atau Bangsa. Dengan mengutuk sekularisme dan liberalisme, kaum Islamis membuat hal-hal yang tak tersentuh menjadi kebajikan. kebajikan yang telah menjadi tulang punggung peradaban manusia modern, hanya karena kemajuan modern telah didorong oleh prinsip-prinsip ini yang memiliki asal-usulnya di Barat. Ideologi yang picik dan beragama ini tidak baru dalam sejarah Islam. 

Sangat ironi bahwa ini adalah alasan yang tepat untuk permulaan akhir periode emas peradaban Islam. orang-orang seperti Ibnu Sina dan Al Farabi, sangat dipengaruhi oleh pemikiran dan prinsip-prinsip Yunani kuno. Ilmu mereka dibangun di atas filosofi alam Aristoteles dan Plato; semuanya dengan mudah ditolak oleh Al Ghazali. Al Ghazali, menjadi teolog terkemuka, melalui bukunya Tahafut al-Falasifa (Incoherence of the Philosophers) praktis menutup studi material Aristotelian dan penyelidikan filosofis dari Zaman Keemasan Islam demi keyakinan Sunni murni yang tidak dipertanyakan dari kehendak langsung dari Allah. Dan dia tidak berhenti di situ, di buku yang sama dia menuntut Ibnu Sina dan para pengikutnya dengan kesesatan dan ketidakpercayaan dalam Islam. Peradaban Islam tidak pernah mendapatkan kembali kejayaannya, juga karena dikendalikan oleh penguasa yang korup dan kelas kelas ulama dengan berkedok Islam puritan. 

Ketika kita diperintah oleh para agamawan, keputusan mereka akan didasarkan pada apa yang mereka percaya sebagai perintah Allah. Kita hanya perlu melihat bagaimana para agamawan di Indonesia berperilaku. kita tidak dapat menanyainya bahkan ketika dia jelas berbohong, Dan pada saat kebohongannya terungkap, kita kemudian dituduh lancang, tidak bermoral dan tidak menghormati ulama suci hanya karena mengungkap kebohongannya dan membuatnya terlihat buruk.

Peradaban manusia telah berkembang ke titik di mana kita memahami dan mengakui bahwa perempuan sama dengan laki-laki. Perempuan mungkin berbeda secara biologis tetapi memiliki kemampuan manusia yang kurang dari laki-laki dan oleh karena itu harus diberikan hak dan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Dengan demikian seorang perempuan tidak lagi diperlakukan sebagai manusia kelas dua atau sebagai properti. Inilah yang dipahami oleh peradaban, Ini adalah peradaban oleh pemikiran humanistik sekuler. 

Islamisme, seperti bentuk pemerintahan berbasis agama, tidak didasarkan pada prinsip penalaran yang sehat, terutama kepada orang-orang yang memiliki dan mencari kekuasaan dan otoritas, menuntut lebih banyak agama di ranah publik dan pemerintahan untuk menyelesaikan masalah kita. tapi sayangnya, justru hal inilah yang menjadi penyebab masalah kita. Kita perlu memiliki humanisme yang lebih kritis dan yang bisa mengurangi nilai-nilai dogmatisme.

Dimana moralitas pribadi tetap terpisah dan jauh dari mata masyarakat atau otoritas negara. Di mana yang seharusnya sudah menjadi tugas Negara dengan memastikan kemaslahatan dan kemajuan warganya kemudian didikte oleh segelintir orang orang berkedok agama yang kemudian ingin mengganti sistem ideologi suatu negara agar semuanya berpedoman pada nilai nilai hukum syariah islam. 
Kita seharusnya kembali ke zaman nenek moyang kita ketika Islam itu pribadi. Di mana urusan manusia diatur oleh akal dan urusan iman disimpan di dalam hati.

 
(Sumber: Facebook)
 
Friday, July 12, 2019 - 11:45
Kategori Rubrik: