Mengapa Saya Tak Ijinkan Anak Ikut Kegiatan Kemahasiswaan Berbasis Keagamaan

Ilustrasi

Oleh : Abi Hasantoso

Anak saya kuliah di Universitas Indonesia (UI), angkatan 2014, diterima melalui jalur tes Seleksi Masuk UI (Simak UI) yang dilakukan langsung oleh UI. Sebelum memutuskan ambil kuliah di UI, pada saat bersamaan dia sudah diterima di Universitas Padjajaran (Bandung) melalui jalur SMPTN dan Universiti Putera Malaysia (Shah Alam) melalui seleksi berdasarkan nilai akademik.

Usai pendaftaran ulang pada Agustus 2014 lalu di Balairung UI saya mewanti-wanti anak saya untuk tidak mengikuti Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM) yang berbasis agama. Saya bilang kepada anak saya silakan ikut aktif di kegiatan pencinta alam, band, dan lain-lain asal jangan yang berbasis agama.

Saya tentu punya data. Saya dapat laporan bahwa saat ini di banyak kampus perguruan tinggi di Indonesia sudah kemasukan ideologi radikal yang menisbikan kebhinnekaan. Kita tahu ideologi-ideologi di luar Pancasila - yang sudah final kita sepakati sebagai ideologi dasar negara - tumbuh subur di kampus-kampus, termasuk Kampus UI.

Ideologi radikal ini mencekoki racun kepada mahasiswa bahwa hanya ajaran agamanya lah yang paling benar sehingga maunya menang sendiri. Mereka juga dicuci otaknya untuk taat pada dogma. Padahal kebebasan berpikir dan bertindak inilah esensi pendidikan tinggi yang menjadi tradisi universitas-universitas terkemuka di dunia yang melahirkan penemuan-penemuan produk-produk berteknologi tinggi dan teori-teori baru di berbagai disiplin ilmu.

Fenomena ini sesungguhnya sudah terjadi sejak pertengahan tahun 1980-an di kampus-kampus. Saat saya kuliah beberapa teman SMA yang dikenal sangat terbuka tiba-tiba menutup diri dari pergaulan setelah ikut kegiatan berbasis agama di kampusnya. Untuk mencari jodoh mereka sampai dipilihkan oleh gurunya. Setelah dijodohkan mereka menikah saat masih kuliah dan di acara resepsi pernikahan ada pembagian ruang antara mempelai perempuan dan laki-laki - bahkan tamu sampai diatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan termasuk makan harus dengan tangan kanan dan tak boleh berdiri.

Beruntung anak saya menerima pendapat saya. Selain kuliah ia aktif di kegiatan pencinta alam, olahraga, dan seni budaya. Beberapa gunung di Pulau Jawa pernah ia daki. Pulang kuliah dia main bola, futsal, hoki, dan bridge. Di saat waktu luang perkuliahan ia sempatkan bikin cerpen dan puisi. Karya-karya puisinya ia musikalisasi bersama beberapa teman pada acara malam pentas seni di fakultasnya.

Pada tahun 2015 ia dan beberapa mahasiswa satu jurusan mewakili UI mengikuti program Sail Tomini, bertemu mahasiswa dari seluruh Indonesia dan negara-negara tetangga berlayar keliling Indonesia selama satu bulan dengan kapal perang TNI AL. Usai pelayaran ia mengajak sekitar 20 teman-teman barunya di Sail Tomini 2015 menginap di rumah selama hampir dua pekan. Menampung banyak teman-temannya dari Sabang sampai Merauke rumah saya yang mungil jadi seperti "kapal pecah".

Tidak mengikuti kegiatan berbasis keagamaan anak saya jadi mahasiswa bebas di UI tanpa terikat dogma. Ia mewarisi tradisi sosok mahasiswa UI yang hidup dengan "buku, pesta, cinta". Pernah berambut gondrong dan "dicat" pirang. Punya pacar memilih sendiri. Begadang di kampus. Tapi tahu harus baca buku-buku untuk menyusun skripsinya dengan obyek pembuatan kapal dengan tiga lunas bersama beberapa temannya.

"Aku mau mewujudkan visi negara maritim yang kuat seperti yang dicanangkan Presiden Jokowi. Indonesia akan jadi negara besar dan maju jika industri perkapalannya maju," kata anak saya pada suatu hari.

Beruntung anak saya tak seperti teman seangkatannya dari fakultas lain yang aktif ikut kegiatan berbasis keagamaan. Yang mengajukan protes tanpa data kuat. Yang hobi suka menelan berita hoax. Yang mengagumi Jonru, lelaki bersuara cempreng dan berwajah jauh dari ganteng yang lagi dipenjara karena memfitnah. Yang mengidolakan politisi-politisi doyan korupsi dengan bungkus agama dan hobi main perempuan di apartemen yang dibeli pakai duit hasil korupsi.

Jelas, kan, mengapa saya tak mengizinkan anak saya mengikuti kegiatan kemahasiswaan yang berbasis agama - apalagi terindikasi gerakan radikal?

Ya. Supaya dia tidak jadi orang yang cupet dan munafik karena dogma. Agar dia tak jadi koruptor dengan balutan kitab suci. Agar supaya dia tak jadi pemimpin yang menghalalkan segala cara untuk berkuasa karena merasa mayoritas dan paling pribumi sehingga boleh melakuan apa saja seenaknya termasuk menghancurkan kebhinnekaan yang sudah menjadi fitrah bangsa Indonesia sejak berdiri di Bumi Pertiwi. (*)

Sumber : Status Facebook Abi Hasantoso

Sunday, February 4, 2018 - 22:45
Kategori Rubrik: