Mengapa Saya Jadi Target Serangan Kelompok Radikal

Ilustrasi

Oleh : Mohammad Guntur Romli

Keluarga saya khususnya yang di Situbondo dan Bondowoso tanya ke saya, "kok gencar sekali serangan?" Saya jawab: "ini resiko perjuangan". "Bayangkan.." saya mulai penjelasan "sejak tahun 2000an saya aktif melawan kelompok-kelompok radikal, dari yang garis keras, teroris, dari JI, FPI, HTI, FUI, MMI, saya kritik habis ideologi mereka. Saya bantah ideologi mereka yang tidak mencerminkan doktrin Islam bahkan membahayakan kaum muslim yang menjadi korban, serta menodai citra damai Islam.

Tahun 2006 saya mendukung Gus Dur untuk membubarkan FPI, HTI, MMI (HTI baru bubar tahun 2017) nama saya pernah muncul di sidang Abu Bakar Ba'asyir yang menjadi target para teroris bersama nama yang lain (Petrus Golose, Gories Mere, silakan google berita dan fotonya), Saya membongkar kemunafikan politisasi agama yang menjadikan agama sebagai kedok untuk korupsi dan kejahatan.

Melawan jaringan cyber SARACEN, MCA dan jadi saksi ahli dari pihak Negara/Pemerintah untuk pembubaran HTI (yang pinter merekayasa opini publik dan membohongi publik serta punya jaringan medsos yang kuat), belum lagi menjadi saksi unt sidang Buni Yani, Jonru.... dst memang inilah resiko yang harus dihadapi, melawan radikalisme, intoleransi dan terorisme untuk menegakkan Islam yang rahmatan lil alamin yang mengedepankan toleransi (tasamuh), moderatisme (tawassuth), berimbang (tawazun)...."

Ada yang tanya "kenapa gak anteng-anteng saja, main aman yang penting kan dapat suara" Saya jawab "justeru politik ini hanyalah alat untuk mendapat tujuan, yaitu bebasnya negeri ini dari radikalisme yang sering satu kubu dengan koruptor munafik berkedok agama.... Ada kaitan yang jelas antara koruptor dengan radikalisme, koruptor yang memakai agama sebagai kedok dan memanfaatkan kelompok-kelompok radikal sebagai alat, 

Saya tidak akan main aman, kalau main aman, saya berpolitik seperti yang lain-lain. Main aman karena takut diserang, dibully, yang mungkin juga main aman dan takut karena punya kesalahan. Bagi saya perjuangan melawan radikalisme dan politisasi agama tidak cukup di luar sistem dan hanya dari pihak masyarakat sipil saja (seperti yg saya lakukan sebelum ini). Perlu dilanjutkan dengan adanya kebijakan dan peran Negara untuk melawan radikalisme ini (selain Negara juga melayani rakyat, mencerdaskan, menciptakan lapangan kerja, menumbuhkan dan meratakan kesejahteran, penegakan hukum dan keadilan).

Negara harus melindungi dirinya dari ancam pihak-pihak yang merongrong. Lihat saja UU Ormas yang dikeluarkan Presiden Jokowi sangat efektif menekan kelompok-kelompok radikal. Mereka tidak lagi bebas mencuri kader-kader terbaik dari anak-anak bangsa yang dicuci otaknya dengan doktrin khilafah dan bom bunuh diri. Masyarakat juga sekarang bisa awas mana kelompok radikal mana yang moderat. Karena sesungguhnya kelompok-kelompok radikal ini bisa menyaru dalam komunitas muslim. Yang menjadi korban adalah kelompok-kelompok moderat yang mayoritas yg sering dituding tidak islami, tidak kuat Islamnya, dll karena tidak galak-galak seperti mereka, sehingga banyak pengikut dari kelompok Islam moderat yang berpindah karena tipuan kelompok-kelompok radikal ini dengan kebohongan semangat dan simbol2 yg ujung-ujungnya sebenarnya kekuasaan juga."

Soal fitnah-fitnah yang bertebaran saya jawab "semua fitnah itu dimuat di media-media abal-abal radikal, disebarkan oleh cyber army kelompok-kelompok radikal yang selama ini memang memusuhi saya, jadi tidak perlu heran, saya sudah siap dengan resiko ini, saya selalu teringat baiat yang diambil oleh Katib Aam PBNU, KH Yahya Staquf setelah Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Gerakan Pemuda Ansor yang bertema 'Yang Waras Jangan Mengalah' poin-poin baiat itu lah menjadi pegangan, pikiran dan tindakan saya, yg kalau saya langgar Allah SWT akan menghukum saya...."

Wallahul Musta'an

Sumber : Status Facebook Mohammad Guntur Romli

Saturday, April 21, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: