Mengapa Saya Bela Ahok (Catatan Eks Santri Muallimin Muhammadiyah)

Oleh: Wahyudi Akmaliah
 

"Setiap pulang kantor, sudah hampir sebulan,  memandang infrastruktur flyover baru, motor saya hentikan ke pinggir. Saya terdiam. Air mata menetes keluar tak tertahankan. Menjadi orang baik, jujur, dan kerja nyata itu tidak ada harganya di Indonesia. Apalagi kalau kamu Kristen dan Tionghoa. Doa yang terbaik untuk Ahok. Allah Maha Tahu Siapa sesungguhnya yang menistakan agama di jalan politik. Allah juga Maha Mengerti atas setiap kebaikan hamba-NYA yang ia tanamkan di jalan kemanusiaan.
 
Bagi teman-teman yang bertanya mengapa saya membela Ahok. Di sini, saya menegaskan. Ia orang baik, memiliki niat tulus membangun Jakarta, tempat saya dilahirkan. Saya tidak peduli ia beragama dan beretnik apa. Kalau memberikan manfaat untuk Jakarta, saya orang terdepan yang mendukungnya. Jika belum mengerti juga datanglah ke Jakarta lihatlah bagaimana perubahan Jakarta itu terjadi.
 
 
 
Di Madrasah Muallimin Muhammadiyah menjadi santri selama 6 tahun saya ditanamkan bahwa amar ma'ruf nahi munkar (memerintahkan yang baik dan mencegah kemungkaran) merupakan doktrin narasi yang dipegang. Melihat kinerja Ahok, ia memiliki kesamaan dengan itu. Meskipun tidak mendapatkan dukungan, buya Syafi'i merupakan orang yang lantang membela kinerja Ahok dan meyakini ia tidak menista agama. 
 
Dididik dalam tradisi Muhammadiyah melalui sekolah kader, seperti buya Syafi'i Maarif, mendukung Ahok merupakan anomali, melawan arus, dan kerapkali dianggap salah jalan serta perlu diingatkan. Tapi, bukankah jalan kebaikan seringkali membuat kita terasing? Bahkan menjadi bahan olokan. Ini pilihan dan sikap saya dan cara saya berislam dalam melihat seseorang, dari apa yang ia lakukan melalui kebaikan bukan darimana ia berasal. 
 
Yang merasa mendapatkan keadilan Ahok di penjara dan bergembira saya tidak memiliki kemarahan sedikit pun. Tapi, mohon jangan bilang saya tidak terima keadilan atas nama hukum dan dianggap pengikut yang buta. Saya belajar ilmu agama selama 12 tahun dan menekuni ilmu sosial serta tahu bagaimana bengisnya kota Jakarta bagi mereka yang dilemahkan. Saya juga memahami bagaimana tidak enaknya menjadi minoritas saat di negara orang dan bagaimana belajar membangun empati dari pengalaman tersebut di Indonesia.
 
Bagi saya, kejadian ini memberikan satu pelajaran penting, Ahok memberikan teladan sebagai seorang pemimpin dan ketulusan sebagai warga negara. Lihatlah bagaimana ia menghadapi pengadilan tanpa sekalipun absen dan disiplin untuk selalu hadir. Bukan melarikan diri dan mangkir dengan pura-pura sakit. Perhatikan juga bagaimana ia menggunakan uang rakyat dengan cermat dan detail, menbuat predator marah dan muak.
 
Ini pelajaran tak ternilai yang harusnya dicontohkan kepada mereka yang menyeret nama Tuhan untuk kepentingan ambisi politiknya dengan meneriakkan takbir begitu keras seolah-olah Allah tidak mendengarkan apa yang ada dalam relung hati mereka. Di sisi lain, justru mutiara akhlak Islam menjadi kabur di tangan mereka.
 
Salam.
 
(Sumber: Facebook Wahyudi Akmaliah)
Thursday, May 11, 2017 - 08:45
Kategori Rubrik: