Mengapa Resah dengan Al Kitab Bahasa Minang?

ilustrasi

Oleh : Mohamad Guntur Romli

Sejarah Minangkabau adalah sejarah kemenangan. Sejarah penuh percaya diri. Yang lebih penting lagi kemenangan itu berasal dari kecerdikan.

Menurut etimologi yang bersumber dari legenda, Minangkabau berasal dari dua kata: minang dan kabau. Minang dari manang artinya menang dan kabau artinya kerbau. Menang dalam pertandingan kerbau yang menyelamatkan tanah Minangkabau dari serbuan orang luar. Daripada terjadi pertumpahan darah, lebih baik mengadu kerbau.

Pihak luar (konon disebut Majapahit) memilih kerbau yang besar dan tegap. Sementara orang-orang Minangkabau malah melepaskan anak kerbau yang masih menyusu tapi membekali kepalanya dengan senjata.

Kerbau besar merasa tak terancam. Sedangkan anak kerbau langsung menyusup ke bagian perut untuk mencari puting susu. Kepalanya yang dipasang 'tanduk pisau' menusuk perut dan mencabik-cabik perut kerbau besar. Masyarakat lokal menang melalui pertandingan kerbau. Disebutlah Minangkabau. Ornamen dan arsitektur gaya tanduk kerbau pun menjadi ciri khas budaya Minang sampai saat ini.

Yang menarik dari legenda tadi adalah pesannya: kemenangan melalui kecerdikan. Kemenangan tak ditentukan dengan kebesaran, bukan pula dengan emosi kemarahan, bukan dengan logika kekuatan tapi dengan kekuatan logika, ketenangan, percaya diri sehingga merangkai strategi yang cerdik dan jitu.

Kaum cerdik pandai dari Minangkabau sangat banyak menjadi pendiri bangsa dan Republik Indonesia, dari politisi, ulama, sastrawan, seniman, musisi, akademisi, diplomat, wartawan, sejarahwan atau sebut saja apa profesinya, kita bisa menyebut ada orang Minangnya. Mau aliran nasionalis, sosialis, islamis, hingga yang komunis. Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Yamin, Tan Malaka, Rasuna Said, Ruhana Kudus, Hamka, Natsir, Chairil Anwar, Rahma El Yanusiyah, Usmar Ismail, dan masih banyak lainnya.

Tokoh-tokoh ini dikenal karena cerdik pandai, intelektualitasnya dan keterbukaanya. Mereka terbuka karena percaya diri. Menutup diri ciri khas rendah diri. Intelektualitas, keterbukaan dan perantuan. Menjadi ciri khas sejarah masyarakat Minang.

Dari sisi ekonomi juga tak perlu diragukan lagi. Rumah Makan Padang membentang dari Sabang sampai Papua. Ulet, kerja keras dan menang melalui kecerdikan.

Tapi tiba-tiba Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayito mengirim surat ke Menkoinfo agar mencopot aplikasi alkitab dalam bahasa Minangkabau. Langkah ini lebih dibaca sebagai ketakutan pada sebuah aplikasi, yang langsung terkenal gara-gara Irwan Prayitno 'merusuhinya'.

Ada teman saya yang sinis berkomentar seperti ini: "Minangkabau dikuasai Belanda melahirkan kaum cerdik pandai, tapi dikuasai PKS malah melahirkan sosok seperti Irwan Prayitno". Saya memahami kesinisannya sebagai protes. Dia mungkin geram.

Kalau bagi saya langkah Irwan Prayitno itu sebagai langkah politik SARA dalam konteks Pilkada. Karena kalau kita bercermin dari sejarah dan masyarat Minang yang penuh percaya diri dan terbuka, langkah Irwan Prayitno tak menemukan relevansinya.

Takut pada Alkitab bahasa Minang, sementara Alkitab dalam bahasa Arab pun sudah umum di kalangan umat Kristen di Timur Tengah. Padahal dalam umum, bahasa Arab sering dipahami dan diidentikkan dengan Islam, tapi tak ada protes masyarakat Arab yang muslim atas Alkitab dalam bahasa Arab.

Ideologi Irwan Prayitno sepertinya diimpor dari negeri jiran, di mana orang Kristen dilarang menyebut tuhan mereka dengan sebutan Allah. Ini aneh dan lucu. Karena dalam Alkitab bahasa Arab pun nama Allah digunakan. Atau dalam Al-Quran sendiri, nama Allah sudah dikenal sebagai Pencipta Langit dan Bumi sebelum Islam (QS Az Zumar: 38). Kok tiba-tiba atas nama Islam mau memonopoli nama Allah?

Padahal terkait aplikasi Alkitab dalam bahasa Minang kalau tidak butuh tidak perlu diunduh. Sesederhana itu. Kecuali kalau ada fenomena masyarakat Minang dipaksa mengunduh aplikasi itu. Boleh protes. Boleh melawan. Boleh bereaksi.

Play store itu seperti hidangan di Rumah Makan Padang. Semua makanan dari menu yang ada dikeluarkan, tapi tidak semua harus dimakan! Tergantung selera. Jangan menyalahkan yang menyajikan. Kalau cuma mau satu menu, ya duduk saja di warung pecel lele, jangan masuk ke Rumah Makan Padang.

Jadi Alkitab bahasa Minang ini masalah sederhana, kalau tak butuh tidak usah diunduh. Orang awak tak dipaksa. Kecuali Irwan Prayitno mau memainkan isu politik SARA, maka langkah Irwan Prayitno berpotensi bisa merusak toleransi dan kerukunan umat beragama. Menjadi ancaman bagi Bhinneka Tunggal Ika.

Sumber : Status Facebook Mohamad Guntur Romli

Saturday, June 6, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: