Mengapa Prabowo Hina Wanita Bercadar Sebagai Intel?

ilustrasi

Oleh : Musrifah Ringgo

Kemarin sebuah video tersebar secara massif yang berisi pernyataan Prabowo mempertanyakan seorang perempuan bercadar yang turut hadir dalam acaranya. Bahkan dia mempertanyakan mengapa perempuan itu harus memakai cadar dan berkacamata hitam. Lebih lanjut Prabowo menuding apakah perempuan itu intel? Sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan saya kira.

Bukankah keberadaan perempuan bercadar di Indonesia meski minim namun bisa mudah kita temui dibeberapa tempat? Tidak hanya dikampung-kampung namun sekarang di beberapa kota besar kita menjumpainya?

Bahkan diluar negeri hingga Arab Saudi kita mudah bersua dan melihat bebas berlalu lalang. Apakah Capres Gerindra itu tidak tahu standar operasi intelejen? Bukankah dirinya berasal dari militer dan sangat tahu sebuah operasi intelejen bagaimana standarnya? Pernyataan itu makin menegaskan bahwa ada beberapa kehidupan sosial yang tidak diketahui bahkan dimengerti oleh Prabowo. Meski pernyataan Prabowo itu disambut tawa seluruh hadirin, namun jika kita cermati lebih mendalam, pernyataan itu menyakiti umat Islam.

Tidak seharusnya seorang Capres bahkan yang direkomendasikan ijtima Ulama mempertanyakan hal seperti itu. 

Bagaimana akan jadi seorang kepala negara jika memahami kelompoknya sendiri saja tidak bisa? Sikap tersebut makin menunjukkan bahwa Prabowo secara pribadi sulit menerima perbedaan. Mindset otaknya selalu berisi kecurigaan atas orang lain setiap kali berbeda. Dalam kehidupannya, sering tidak berada dalam kehidupan yang plural, heterogen dan tidak semua dalam kondisi yang sama.

Pun jika berbeda kerap dianggap, melawan dan akan menjatuhkannya. Mengapa? Karena kalimat selanjutnya menganggap bahwa perempuan bercadar itu sebagai intel. Dan intel dianggap sedang memantau, mengawasi atau bakal menyulitkannya.

Anehnya hal-hal begini tidak pernah dipersoalkan oleh kelompok-kelompok muslim pendukungnya seperti HTI, FPI bahkan PKS yang terdapat banyak perempuan bercadar didalamnya. Mengapa mereka diam seribu bahasa atas penghinaan dan kecurigaan yang sangat tidak perlu? Ataukah memang standar mereka hanya bekerja untuk menyerang petahana saja bukan untuk kelompok mereka sendiri? Padahal Islam mengajarkan seorang muslim harus adil sejak dalam pikiran. Jika dalam perilaku atau bertindak sudah tidak adil, bisa jadi Tuhan Yang Maha Esa akan menunjukkan ke mereka bagaimana caranya agar mereka dipaksa mengakui keadilan itu.

Jelas kan mereka bakal menerima konsekuensinya?

Monday, March 11, 2019 - 08:15
Kategori Rubrik: