Mengapa Polisi Masih Banyak Menahan Diri Tangani Rusuh 21-22 Mei?

ilustrasi
Oleh : Sahat Siagian
 
Pak Polisi, menangkap mereka mudah. 
 
Mereka orang-orang kere, secara finansial maupun intelektual. Mereka hanya pion, yang ditaruh di depan, bergerak terbatas, tak punya akses perlindungan. Kehidupan mereka rentan. 
 
Mereka bukan musuh negara ini.
 
Motif mereka hanya ekonomi. Mengais beberapa ratus ribu saja untuk sehari dua hari melanjutkan bernapas. Motif mereka bukan politik, apalagi ideologi. 
 
Sudahlah, Pak cukup mengekspos mereka! 
 
Jangan membuat narasi ke publik sehingga masyarakat membenci orang kere. Jangan menciptakan kebencian di antara rakyat biasa, antara rakyat sesama rakyat. 
 
Perusuh sesungguhnya bukan mereka, tetapi pesuruh-pesuruh itu.  Pesuruh yang bermotif politik, ekonomi, ideologi. Yang punya segalanya untuk memanfaatkan orang-orang kere yang rentan. 
Perusuh sesungguhnya adalah mereka yang memikirkan dengan mendalam bagaimana agar masyarakat terbelah. Mereka aktor intelektual yang tahu teori dan sains-nya agar antar masyarakat saling curiga. Sehingga masyarakat terus bergantung pada otoritas dan pengaruh mereka. 
 
Merekalah yang merancang keadaan chaos di ruangan berhias furniture2 sekelas Edra dari Tuscany di jaringan hotel/apartemen berfasilitas anti-sadap, dan kemudian melemparkannya ke jalan. Mereka lah pemilik dana sekaligus hajatan chaos paska pemilu ini. 
 
Para pesuruh itu perusuh sebenar-benarnya, Pak! 
 
Kejar mereka. Ungkap siapa mereka ke publik. Tangkap mereka, lucuti bajunya sampai masyarakat lihat rajah maupun lipatan-lipatan lemaknya. Permalukan mereka! 
 
Berani, Pak?
 
Sumber : Status Facebook Sahat Siagian
Saturday, May 25, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: