Mengapa Perlu Beragama

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Khayalan nggeladrah...:

Kita..., manusia dilahirkan memang untuk menerima begitu saja soal agama...; entah itu karena menerima warisan dari orang tua..., karena percintaan-perkawinan..., jalan untuk meraih kekuasaan..., atau mungkin juga karena kita tidak tahan hidup sebagai minoritas.

Kita tidak usah malu atau marah...., karena kenyataannya memang begitu adanya.

Dari sejarah...., dapat kita ketahui bahwa ada agama yang tumbuh dan mati..., tetapi tentunya kita juga tidak peduli dengan hal itu..., karena itu memang kenyataan sejarah.

Benarkah cuek dalam beragama..., adalah is the best....?

Kita menerima begitu saja..., bahwa agama ada yang tumbuh dan ada yang mati..., tetapi anehnya kadang kita juga buta terhadap kenyataan itu.

Ketika seseorang mencoba untuk menciptakan agama baru..., kita bahkan sering menganggapnya sebagai aliran sesat.

Ketika kita mengakui suatu iman..., kita memperlakukan ajaran dan tradisinya sebagai hal abadi dan sakral.

Dan kebanyakan dari kita malah menghinakan ajaran leluhur..., tidak lagi cinta kepada pertiwi simbah canggah.

Ketika ada sebuah agama mati karena ditinggalkan pengikutnya ..., maka agama tersebut akan menjadi mitos..., dan klaimnya atas kebenaran sucinya pasti berakhir juga.

Ingatkah kisah-kisah tentang Panteon Mesir..., Yunani dengan Zeus nya...; yang sekarang hanya dianggap sebagai cerita legenda..., bukan sebagai tulisan suci karena tidak lagi mendominasi.

Bahkan agama-agama dominan yang saat ini dinyatakan telah terus berkembang..., bukan tidak mungkin pada saatnya nanti akan tenggelam dan mati.

Tidak perlu gerah dengan tulisan ini..., karena pada saat itu kita pasti sudah di alam kubur.

Sepanjang sejarah dan memang diakui..., iman orang-orang dan keterikatannya terhadap lembaga-lembaga keagamaan juga telah berubah..., demikian pendapat Sumit Paul-Choudhury.

Jadi apa selanjutnya...?

Sebelum Muhammad..., sebelum Jesus..., sebelum Buddha...; ada Zoroaster.

Sekitar 3.500 tahun yang lalu..., di jaman Perunggu Iran..., Zoroaster ini sudah memiliki visi tentang satu-satunya Tuhan yang tertinggi.

Seribu tahun kemudian..., Zoroastrianisme adalah agama monoteistik besar pertama di dunia..., agama resmi Kekaisaran Persia yang perkasa.

Kuil-kuil api nya..., dihadiri oleh jutaan penganutnya.

Seribu tahun setelah itu...., kekaisaran Persia runtuh.

Para pengikut Zoroaster dianiaya..., dan dipertobatkan ke agama baru penakluk..., Islam.

Hari ini..., Zoroastrianisme adalah iman yang sekarat..., nyala api kudusnya mengecil dari sisa-sisa para penganutnya.

Kekristenan..., awal mulanya juga begitu.

Ia adalah gereja yang benar-benar terbuka luas memberikan pengetahuan apa adanya...: dokumen-dokumen kuno termasuk tentang kehidupan keluarga Jesus..., dan juga bukti-bukti kebangsawanan Yudas.

Butuh waktu tiga abad bagi gereja Kristen..., untuk melakukan konsolidasi demi sebuah kanon tulisan suci.

Tetapi kemudian pada tahun 1054..., gereja terpecah menjadi Gereja Ortodoks Timur dan Katholik.

Sejak itu..., agama Kristen terus tumbuh dan terpecah menjadi kelompok-kelompok yang semakin berbeda.

Dari Quaker yang pendiam..., hingga Pentakosta yang menangani ular derik.

Lantas..., kita mungkin juga ada yang menyukai dan ada pula yang kritis mengoreknya...:

Bagaimana dan mengapa agama berkembang...?

Apakah manusia benar-benar memiliki naluri untuk membela kebenaran agamanya...?

Berapa lama peradaban bersama agama atau tanpanya bisa bertahan...?

Jika kita yakin iman kita telah mencapai kebenaran tertinggi..., kita mungkin menolak gagasan bahwa sebenarnya perilaku kita akan dan dapat/bisa berubah sama sekali.

Tetapi jika sejarah adalah pedoman..., tidak peduli seberapa dalam kepercayaan kita saat ini..., mungkin pada waktunya akan berubah ketika agama tersebut berpindah ke keturunan kita.

Akan tanpa kita sadari..., agama yang kita anut perlahan dan pasti akan memudar.

Mengapa dianggap memudar...?

Karena mungkin ada beberapa ayat-ayat dalam kitab suci yang akan terasa menjadi konyol dan norak..., karena dimakan/tidak sesuai dengan peradaban.

Tidak percaya...?

Pelajari saja dengan teliti dan seksama..., ayat-ayat di kitab agama yang saat ini masih dianggap suci.

Jika agama bisa berubah secara dramatis di masa lalu..., pasti agama juga bisa berubah di masa depan.

Apakah mungkin pada saatnya nanti...., ada klaim bahwa kepercayaan pada tuhan dan bahkan tuhan nya sendiri akan mati sama sekali...?

Dan ketika peradaban kita bersama teknologinya menjadi semakin kompleks..., mungkinkah bentuk ibadah baru akan muncul...?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini..., titik awal yang baik adalah kita harus bertanya pada diri sendiri terlebih dahulu...:

1. Mengapa kita mesti memiliki agama...?

2. Apakah suatu keharusan bagi kita..., untuk memiliki agama/beragama...?

Rahayu

Friday, August 14, 2020 - 21:30
Kategori Rubrik: