Mengapa Pendidikan Pesantren Murah?

Oleh: Supriyanto

 

Tidak sedikit pondok pesantren yg menyelenggarakan pendidikan murah bahkan gratis. Ada yg murah biaya pendidikannya. Ada yg murah biaya hidupnya. Bahkan gratis kedua duanya.

Kok bisa, bagaimana caranya ? 

 

Banyak strategi kyai untuk membuat pendidikan pondok pesantren murah bahkan gratis. Dibawah ini strateginya :

1. Pendaftaran:
Banyak ponpes yg tidak memungut uang pendaftaran. Kalaupun ada jumlahnya sedikit atau sangat murah. Bagi kyai, ada orang yg datang untuk belajar itu amanah. Karena ada yang akan mewarisi ilmu para nabi.

2. Asrama:
Banyak ponpes yg asrama atau tempat tinggal santri dibuat oleh santri sendiri secara bergotong royong. Bahan bangunan dan material diambil dari kebun kyai atau iuran bersama para santri. Karena itu asrama mereka sederhana. Yg penting dapat digunakan untuk berteduh.

3. Biaya Hidup:
Santri diberikan kesempatan untuk bekerja diluar jam belajar. Ada yg bekerja menggarap lahan milik kyai, dengan upah sekedar untuk makan. Ada yg bekerja diluar pondok menjadi petani, merawat ternak, atau menjalankan perdagangan milik orang lain. Mereka ini disebut santri kasab.

4. Biaya Pendidikan:
Pesantren tidak menarik SPP, BPP, dan sejenisnya. Yang ada hanya iuran untuk membayar listrik, air atau keperluan vital lainya. Keuangan dari santri hanya digunakan untuk keperluan santri. 

5. Guru:
Guru guru di pesantren ada tiga jenis. Yakni kyai dan keluarganya, santri senior yg membantu mengajar kyai, dan alumni yg sudah berkeluarga dan bertempat tinggal disekitar pondok. Para guru ini tidak dibayar dan tidak minta bayaran. Kyai pada umumnya memiliki usaha ekonomi, seperti pertanian, peternakan, perdagangan dan gabungan ketiganya. 

6. Mutu:
Pendidikan di pondok pesantren mengandalkan hafalan. Baik hafalan Qur'an, Hadits, Ibadah dan Ilmu Alat. Metode hafalan ini simpel tetapi hasilnya akurat. Ketuntasan belajar santri 100 %. Sehingga mutu terjamin. 

7. Lulusan
Lulusan pondok pesantren dengan model diatas dijamin mandiri, tahan menderita, memiliki hafalan yg kuat dan siap hidup ditengah masyarakat.

Ketujuh ulasan diatas telah terbukti mengantarkan lulusan pondok pesantren menjadi pribadi yang kuat. Pesantren mampu mandiri dan tidak tergantung kepada pihak lain termasuk pemerintah. 

Apakah pesantren seperti ini masih ada ?

Meski tidak banyak. Tetapi pada umumnya, pesantren pesantren besar dirintis seperti ulasan diatas. Pondok pesantren Sumolangu, Sidogiri, Jampes, Tebuireng, Sarang, Leteh, Sukorejo, Lirboyo, Ploso, Mberasan, Parasgempal, dan lainya, dikembangkan dengan model seperti diatas. 

Bagaimana sekarang ?

Memang ada sedikit perubahan. Terutama dengan lahirnya pendidikan formal di pondok pesantren. Pendidikan formal membutuhkan guru guru dari luar pesantren. Mereka pada umumnya lulusan pendidikan tinggi umum. Sebagian para guru umum ini menginginkan gaji sebagaimana tenaga kerja. 

Dari sinilah dilema muncul. Satu sisi masyarakat mengharapkan pendidikan murah. Disisi lain, guru guru umum di pondok pesantren membutuhkan gaji. Akhirnya terpaksa kyai mengikuti perkembangan jaman. Meskipun demikian, kyai tetap berusaha agar biaya pendidikan semurah mungkin.

Karena itu, kalau kita ingin mengajar pada lembaga pendidikan di pondok pesantren, hendaknya niatnya ditata. 

Apa ada pondok pesantren yg mahal ?

Ada, bahkan banyak. Terutama pondok pesantren yg berorientasi pada wahabiyah. Mereka membuat pondok pesantren yang biayanya tinggi dg layanan yg mewah. 

Tetapi, pondok pesantren yg mewah dan mahal itu telah kehilangan ruh nya sebagai lembaga pendidikan agama yang terjangkau semua lapisan masyarakat.

Foto : 
Pengurus RMI Kab Malang bersama PW RMI Jawa Timur.

 

(Sumber: Facebook Supriyanto)

Thursday, November 28, 2019 - 20:30
Kategori Rubrik: