Mengapa Orang Eropa Tidak Tertarik Surga?

ilustrasi
Oleh : Andrey Abad
 
Saya dulu juga pernah ngerasa lebih baik dari orang Jepang, orang Korea, dan orang-orang di negara maju lainnya karena saya beriman. Saya ngerasa se-nggak bergunanya saya pun nanti tetep masuk surga. "Apa gunanya pinter, kaya, dan rupawan kalo nanti masuk neraka?" "Rugi banget berprestasi kalo nggak seiman, tetep aja masuk neraka?" pikir saya. Saya lumayan terhibur sama omong kosong saya sendiri.
 
Sampai ketika saya kuliah, ketemu orang banyak, dan kenal internet. Wawasan saya mulai terbuka.
 
Saya mulai penasaran..
 
"Orang-orang di negara maju itu pada nggak pengen surga, kenapa ya? Mereka bebas banget ya, apa nggak takut masuk neraka? Mending kek saya, nggak berguna tapi dijamin masuk surga."
 
"Kenapa mereka ngotot berprestasi dan bermanfaat bagi sesama meskipun tau nanti masuk neraka? Kenapa mereka yang nggak pernah tahu pahala, justru mereka yang paling tulus dalam berderma? Kenapa mereka yang nggak beragama justru mereka yang mendedikasikan hidupnya demi kebaikan dunia? Sedang orang-orang yang nggak berkontribusi apapun bagi kemanusiaan, justru merasa paling berjasa? Kenapa mereka yang nggak tau kebersihan sebagian dari iman justru orang-orang yang paling menjaga lingkungan? Kenapa mereka yang menjaga kelestarian bumi adalah mereka yang menganggap hidup hanya sekali, sedang mereka yang berbuat kerusakan justru mereka yang menganggap hidup ini abadi?"
 
Kok pada kebalik gini, ya? 
 
Akhirnya saya paham kalo ilmuwan, insinyur, seniman, atlet, dsb itu memberikan yang terbaik dalam hidupnya karena mereka tahu hidup itu cuman sekali. Nggak ada lanjutan, nggak ada pengulangan. 
 
Coba bayangin aja kalo Ronaldo pengen jadi pemain bolanya nanti setelah mati. "Aah buat apa latian 8 jam sehari, toh hidup hanya sementara brooh.. gua jadi pemain bola di surga ajalah. Ya udah broh, gua ibadah dulu yak.." 
 
Coba kalo Einstein bilang, "Buat apa belajar kalkulus dan persamaan matematika? Yang ditanyain malaikat di alam kubur kan bukan itu, broh?"
 
Mereka yang memberikan yang terbaik adalah mereka yang nggak percaya ada kehidupan setelah mati. Mereka berkarya dan bekerja sepenuh hati. Memanfaatkan waktu yang ada untuk hidup sebaik dan seberguna mungkin bagi sesama. 
 
Sebenarnya banyak orang yang sadar apa yang dilakukannya sekarang, sia-sia. Mereka telah membuang banyak waktu nggak melakukan apa-apa. Bahkan untuk kebahagiaan dirinya sendiri. Hatinya penuh kecemasan. Cemas karena nggak siap mati dan nggak mau mati. Kenapa? Karena merasa belum benar-benar "hidup."
 
Orang-orang yang menganggap dunia ini sementara justru orang-orang yang paling takut mati. Hidupnya nggak tenang karena setiap hari dia menghibur dirinya sendiri kalo dia lebih baik dari orang-orang yang menikmati hidupnya sekarang. 
Ada kecemburuan. 
 
Tapi rasa takutnya yang menghalangi dia sendiri untuk hidup bahagia. "Gua udah ngumpulin bekal buat ke surga nanti. Tiap hari gua ndekem di rumah ibadah, komat-kamit seharian, tiap hari, selama bertahun-tahun. Pahala gua udah banyak. Tapi kenapa gua gelisah mulu, yak? Kenapa makin hari gua makin ragu sama iman gua sendiri? Kenapa ajaran yang gua anut makin lama makin nggak masuk akal? Kenapa makin lama ibadah gua makin kerasa hambar, yak?"
 
Kegelisahan ini dirasakan oleh orang-orang beriman yang sudah mendekati akhir hidupnya. Bukannya lebih tenang dan menikmati hidup, tapi malah semakin gelisah dan pemarah. Perasaan kesal bercampur aduk, antara menyesal tidak melakukan apa yang mereka pengen lakukan ketika muda, dengan perasaan "sudah terlanjur melakukan kesia-siaan sepanjang hidupnya, jadi sekalian ajalah berdelusi sampe mati." Begitu pikirnya.
 
Pelampiasannya, mereka akhirnya membenci orang-orang yang bebas, orang-orang yang menikmati hidupnya, dan menjadi diri sendiri. Akibat rasa cemburu/iri tadi. 
 
Orang-orang beriman ini pengen orang lain juga merasakan penderitaan dan rasa kecewanya terkungkung dalam dogma selama puluhan tahun. Makanya mereka merasa lebih tenang kalo hidup di antara "korban penipuan" dogma lainnya. Merasa senasib. Padahal dalam hati mendambakan kebebasan mereka yang nggak beriman.
 
Buat yang sudah terbebas dari dogma, saya ucapkan, "Selamat menikmati hidup yang luar biasa indahnya ini." Buat yang belum, semoga mendapatkan hidayah. 
 
Nggak ada kata terlambat untuk memulai/menikmati hidup. Nggak ada kata terlambat untuk berpikir. Berpikirah mulai sekarang. Pertanyakan hal-hal yang ditanamkan orang tua kalian dulu. Nggak usah takut berpikir. Nggak ada ceritanya orang O.D karena kebanyakan mikir. Nggak ada ceritanya otak jatuh karena kita berpikiran terbuka.
 
Hidup itu indah, kawan. Hiduplah, sekarang.
 
Sumber : Status Facebook Andrey Abad
Saturday, May 25, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: