Mengapa NU Ga Ribut Soal Menteri

ilustrasi

Oleh : Rowie Sujudi

Suatu ketika Jusuf Kalla mengundang KH Hasyim Muzadi dan Pak Din Samsyudin ke istana untuk membahas penetapan Idul Fitri dengan Menteri Agama. Seperti kita tahu, NU dan Muhammadiyah sering berselisih pendapat soal hal itu. JK mencoba melobi KH Hasyim Muzadi.

"Kompromi sediktlah, jangan bikin repot. NU turunkan hilalnya satu derajat, Muhammadiyah naik satu derajat biar lebarannya bareng. Bisa kan?"

"Gak bisa gitu Pak. Ini bukan urusan dagang yg pakai tawar menawar."

"Jadi gimana?"

"Ya gak gimana-gimana. Biarkan umat beribadah menurut keyakinannya. Negara gak perlu ikut campur, tapi negara wajib menjamin kebebasan dan keamanan rakyatnya dalam melakukan ibadah."

"Terus...?"

"Ya sudah, umumkan saja Idul Fitri jatuh pada tanggal 1 Syawal. Beres kan?"

"Oke kalau begitu."

Pertemuan bubar. JK tersenyum, Menteri Agama kebingungan. Diluar istana KH Hasym Muzadi dan Pak Din tertawa cekikikan.

"Pak Din, saya ini Kyai. NU dan Muhammadiyah itu sudah klop. Sampeyan di pendidikan, saya ngurus yg di bawah. Jangan karena perkara sepele kayak gini kita berbenturan."

"Betul Kyai...."

"Dibanding jadi menteri, lebih berat jadi Kyai, Pak. Tugas Kyai mikirin umat, bukan soal hari raya saja. Tanggung jawab Kyai tidak lagi kepada Presiden, tapi langsung kepada Allah. Sudah tanggung jawabnya berat, masih saja dibilang cari jabatan. Heran saya..."

"Memang kenapa Kyai?"

"Ya gak level lah.....!"

Sumber : Status Facebook Rowie Sujudi

Sunday, October 27, 2019 - 20:00
Kategori Rubrik: