Mengapa Mereka Ingin Singkirkan Jokowi

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Mengapa Jokowi mesti disingkirkan? Ini sebabnya: Jokowi akan menyita Rp. 7.000 Triliyun lebih, dari hasil kejahatan yang disimpan di Swiss. Karena itu, ada yang ngotot, 2019 Ganti Presiden. Atau, sudah cukup, Jokowi membuat situasi makin sulit, dan menciptakan kemiskinan.

Kesulitan dan kemiskinan bagi siapa? Mari kita ikuti tulisan yang diambilkan dari hukumonline.com dan thejakartapost., yang menyatakan: Pendanaan uang segar untuk membangun Indonesia akan segera terwujud kembali. Pemerintahan Joko Widodo sangat luar biasa dalam menjalin bilateral dengan dunia. Yang dulunya dibiarkan oleh rezim sebelumnya sekarang dibongkar, diangkat dan ditarik ke Indonesia.

 

 

Negara Swiss adalah Negara yang menggunakan system Tax Heaven, namun bisa ditaklukan oleh seorang Jokowi berkat kecerdasannya. Pemerintah Indonesia dan Swiss sudah mengadakan perundingan ekonomi yang saling menguntungkan. Dalam perundingan tersebut disepakati membekukan dan menyita para pelaku kejahatan, termasuk koruptor di kedua negara.

Sedikitnya ada 84 WNI memiliki rekening gendut di bank Swiss. Nilainya mencapai kurang lebih US$ 195 miliar atau sekitar Rp 2.535 triliun (kurs Rp 13.000 per US$). Jauh di atas belanja negara dalam APBN 2016 sebesar Rp 2.095,7 triliun yang dilansir thejakartapos.

Sementara itu, Menlu Retno dalam pernyataan bersama dengan Menlu Burkhalter pada Maret 2017, di kantor Kementerian Luar Negeri Indonesia, menyatakan, “Kami sepakat untuk memulai rencana negosiasi Mutual Legal Assignment (MLA). Pada April 2017 tahap pertama negosiasi MLA akan dilaksanakan dan kami sepakat untuk mendorong agar agreement MLA itu bisa ditandatangani tahun ini.”

Retno menambahkan bahwa perjanjian ini sangat penting khususnya bagi Indonesia. Sebab, dengan perjanjian ini harta dan aset para pelaku kejahatan yang dilarikan ke Swiss bisa disita untuk negara. “Bagi Indonesia kerjasama MLA sangat penting karena persetujuan itu menjadi dasar menyita, membekukan, dan mengembalikan aset para pelaku kriminal,” imbuh Retno.

Retno melanjutkan, kerjasama ini juga akan menjadi sinyal bagi dunia internasional bahwa Indonesia dan Swiss memiliki komitmen kuat dalam menanggulangi kejahatan lintas negara. Selain membahas MLA, kedua Menlu ini juga membahas soal penguatan kerjasama bilateral dan ekonomi kedua negara, termasuk salah satunya adalah peningkatan ekspor kakao ke Swiss. https://www.hukumonline.com/…/persempit-ruang-gerak-pelaku-…

Siapa saja nama-nama yang tersangkut? Yang acap bereaksi negatif, bisa dicatat, baik langsung maupun menggunakan pihak lain. Itulah sebabnya, banyak anjing menggonggong, atau ada juga yang bukan anjing disuruh menggonggong pula. Bunyinya jadi aneh. Dari yang nyebut Jokowi PKI, antek Aseng-Asing, dan kini pakai atas isu agama pula. Makanya banyak yang ngaku uztad aneh-aneh, tapi ngomongnya sama sekali tak menurun akhlak nabi. Dikiranya banyak orang bisa dibodohi pakai celana dalam.

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Wednesday, December 5, 2018 - 10:45
Kategori Rubrik: