Mengapa Memilih Jokowi

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Untuk pertama kali sejak Indonesia melewati pergantian banyak presiden, saya menunjukkan kejelasan kepada siapa saya berpihak. Saya menetapkan pilihan pada Jokowi - tak peduli siapa pun wakilnya.

Sebelumnya, saya memilih presiden secara diam diam. Bukan semata mata sebagai wartawan harus independen melainkan saya memang memilih bukan lantaran kualitas figurnya.

Tahun 2004 saya memilih SBY karena dia didzalimi Taufik Kiemas dan Megawati. Pada tahun 1977 saya turun ke jalan membela Megawati karena dia didzalimi oleh rezim Suharto.

Presiden Habibie dan Gus Dur bukan pilihan saya - karena berkuasa di Istana Negara sebagai dampak transisi politik. Tidak ikut pemilu.

Saya melewati masa pemerintahan enam presiden yang mengelola republik ini. Saat Bung Karno memerintah (1945 - 1967) saya belum cukup umur dan sadar apa arti berwarga negara.

Yang saya kenangkan almarhum Bapak saya Marhenis pendukung Bung Karno dan anti PKI. Dan saya banyak hal ikhwal pemerintahan Bung Karno setelah remaja dan dewasa

Bapak saya bercerita tentang kehebatan Kolonel Sarwo Eddie Wibowo yang membrantas PKI. Tragis - ayahanda dari Ibu Ani Yudhoyono itu kemudian disingkirkan Suharto sebagaimana tentara pesaing yang lain.

Sama tragisnya dengan nasib saya setelah saya aktif di Facebook ini kenyang dituduh PKI karena mengkritik rezim Orde Baru Soeharto.

Meski karir dan kehidupan saya lancar di zaman Suharto, tapi saya tak menutupi kenyataan bahwa Suharto memerintah dengan bengis dan tangan besi kepada rakyat Indonesia. Selain itu menyuburkan KKN.

Pembantaian oleh militer di berbagai wilayah, intimidasi oleh tentara, pengerahan massa untuk mendukung Golkar dan meminggirkan kekuatan politik lain menjadikannya berkuasa selama 32 tahun - menumbulkan kemuakan saya.

Saya turun ke jalan memerahkan ibukota bersama PDIP membantu Megawati yang didzalimi oleh Suharto.

Tahun 1998 saya ada di gedung DPR RI bersama mahasiswa dan sempat membantu menyebarkan info dari Marinir di sana yang memberi tahu agar mahasiswa segera menyingkir karena tentara akan menyerbu.

Presiden ganti berganti - namun jejak Suharto kekejaman dan kelicikan rezimnya tak mudah terhapuskan. Juga pengaruh kaki tangannya. Pendukungnya masih banyak.

Saya tak mengabaikan prestasi Pak Habibie yang menurunkan kurs dollar. Tapi di zaman beliau kita kehilangan Timor Timur.

Gus Dur yang menghapus diskriminasi pada saudara kita Tionghoa. Tapi ironinya dijatuhkan oleh Amin Rais Cs. yang mengangkatnya.

Semakin banyak masalah yang diselesaikan para presiden, semakin kita tahu betapa rezim Suharto melakukan banyak kerusakan pada zamannya.

Saya mendukung Jokowi pada awalnya karena saya tidak mau Indonesia jatuh ke tangan Prabowo. Namun kemudian terbukti dia memang sosok yang saya tunggu kehadirannya.

Dia adalah antitesa dari sosok Suharto dan SBY - Presiden RI sebelumnya.

Jokowi bukan militer. Cukuplah Suharto dan SBY militer yang memerintah negara. Di tangan kedua militer itu, pembangunan demokrasi morat marit. Rezim Suharto kelewat keras dan bengis - rezim SBY kelewat lembek dan kompromistis.

Jokowi tidak bermegah megah. Dia mengganti safari dengan kemeja putih menandai semangatnya untuk bekerja. Bukan hanya memerintah.

Jokowi tidak mewariskan bisnis pada anak anaknya. Tiga anaknya merintis usaha sendiri dan tak mengambil dana dan proyek APBN sebagaimana anak dan keluarga para pendahulunya

Jokowi adalah anak rakyat jelata. Pernah merasai hidup susah dan sudah terbiasa melihat kemiskinan - tapi tidak dendam dengan kemiskinan sebagaimana Suharto dan keluarganya.

Di tangan Jokowi, aset aset negara yang dikuasi asing diambil alih. Freeport di Papua, Blok Rokan di Riau dan PT New Mont di pulau Sumbawa sudah kita kuasi. Menyusul wilayah lainnya.

Namun dengan itu dia dimusuhi. Tidak hanya oleh korporasi asing yang merasa dirugikan, melainkan oleh kaki tangan mereka - notabene bangsa sendiri - yang selama ini termanjakan oleh setoran bermodal ongkang-ongkang kaki.

Isu anti TKA China, contohnya. Dihembuskan oleh kaki tangan mafia penguasa lokal dan pusat yang selama ini menerima jatah, tanpa kerja. Tak peduli bumi kelahirannya dikeruk habis habisan dengan pembagian tidak adil. Karena hanya memikirkan diri sendiri.

Pasukan kadrun piaraan geng Cendana adalah kelompok parasit lain lagi. Terus menciptakan boneka dan milisi untuk membikin rusuh - karena simpanan mereka di luar negeri terancam disita.

Mengutip Anies Baswedan - semasa masih di kubu Jokowi, saat masih waras dan belum jadi "oposan" lalu jadi Kadrun : "Dari Jokowi kita tidak sedang mencari kesempurnaan. Karena kesempurnaan itu tidak ada".

"Jangan membandingkan Jokowi dengan kesempurnaan tapi bandingkan dengan presiden sebelumnya".

Dan dibanding presiden presiden kita sebelumnya, menurut saya, Jokowi yang terbaik.

Pada Minggu, 21 Juni 2020 ini, saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Pak Jokowi. Semoga tetap rajin minum jamu dan terus merawat Indonesia dengan semangat Bhineka Tunggal Ika. ***

PS: Ngaturaken sugeng ambal warsa inkang kaping 59. Mugi-mugi ditebihaken saking sedoyo sambekala, dilambari bungahipun ati, kalihan dedongo, diparaingi panjang yuswa lan keberkahan rezeki. Amin.

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

Thursday, June 25, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: