Mengapa Melepas Hijab

ilustrasi

Oleh : Azizah Alfadhillah

Saya sudah melepas jilbab sebelum saya bergabung di Hijrah Indonesia.

Saya sedari kecil didoktrin tentang agama ini dan saya sangat mengagungkannya. Saya mulai berjilbab karena peraturan saat SMP, yaitu di Mts Muhammadiyah, namun saya berjilbab ketika sekolah dan mengaji di masjid dekat rumah saja.

Saat SMK Islamiyah, saya tidak berjilbab dan kebetulan SMK tersebut tidak mewajibkan berjilbab. Saya menganggap masa-masa tersebut adalah masa pencarian identitas diri.

Setelah menikah tiga tahun, sekitar 2013, saya bertemu seorang mubaligh sangat ternama di XX1 mal populer di Jakarta. Seminggu pasca pertemuan, mubaligh tersebut meninggal dan saya memutuskan berjilbab. Saat itu saya merasa risih berpakaian terbuka dan menganggap berjilbab sebagai "sudah dapat hidayah".

Jika mengingat masa tersebut, penyebab berjilbab sebenarnya karena saya kurang percaya diri dengan bentuk tubuh setelah melahirkan dan berat badan belum kembali seperti saat awal menikah. Hehehe.

Pada tahun yang sama, pengajian dan ajaran Salafi, Wahabi, dan khilafah ala Hizbut Tahrir Indonesia sedang tren dan populer di kota-kota besar.

Saat itu sebagai bagian dari pencarian identitas, saya memandang Salafi sebagai Islam paling benar, Islam paling otentik, dan paling pas dengan identitas Islam yang saya cari.

Sebagai bagian dari pembelajaran, setiap pengajian dan setiap acara dakwah ustadz-ustadz Salafi, Wahabi, dan HTI selalu saya sempatkan hadir, termasuk kajian berbayar selama hampir satu tahun oleh tokoh HTI.

Namun pembelajaran tidak berhenti pada keikutsertaan di kajian-kajian. Saya juga sangat rajin membaca situs dan melihat YouTube ustadz-ustadz Salafi, Wahabi, dan para pendukung khilafah.

Sebenarnya saya sempat timbul banyak pertanyaan akibat saya belajar dari banyak tokoh Salafi, Wahabi, dan HTI. Misal, kenapa di antara tokoh-tokoh tersebut banyak perselisihan? Bahkan antartokoh bisa saling tahdzir (mewanti- wanti agar menjauhi seseorang/ajaran tertentu).

Pas saya nanya, malah dijawab dilarang pakai akal karena ajaran Islam berdiri dengan dalil.

Meski sempat bertanya-tanya, saya tetap semakin menganggap Salafi adalah ajaran Islam paling benar, paling sesuai ajaran nabi, dan praktiknya paling sempurna utuh kaffah. Saat itu, siapa pun yang Islamnya tidak sejalan dengan yang saya pahami, dia salah di mata saya.

Waktu terus berjalan dan saya mengalami masa-masa pergolakan jiwa dengan masalah-masalah hidup yang semakin berat per 2017. Tapi saya ingin mencari ikhtiar dan solusi masalah hidup saya hanya dalam ajaran Salafi. Saya mengabaikan peran psikolog profesional.

Saya ikhtiar termasuk menjalani ruqyah. Lucunya, saya pernah diruqyah oleh mualaf perempuan yang ngajinya masih jauh di bawah saya.

Lalu masalah semakin berat, saya jadi seperti orang gila, sembuh tidak, ruqyah hanya seperti sugesti dan plasebo saja.

Pada masa tersebut, setiap hari saya habiskan waktu taklim ke masjid-masjid bahkan saya sampai abaikan suami saya karena tidak satu visi.

Akhirnya pada satu titik, saya sadar diri ini ada yang tidak beres. Doktrin yang tertanam semakin kuat dan saya tidak kuat lagi.

Dakwah ustadz-ustadz Salafi rutin berkutat soal neraka, kematian, azab, dan surga hingga saya trauma dengan kata kematian dan neraka sampai sekarang.

Saya pun akhirnya sering mondar mandir UGD menjalani tes laboratorium berkali-kali, tapi hasil normal semua. Dokter bilang saya hanya butuh piknik.

Setelah saya liburan, ternyata tidak membuat saya semakin tenang dan sehat. Bahkan pernah saya salat dan mengalami kecemasan serta serangan panik. Baru takbir pertama, saya tidak lanjut karena merasakan takut dan paranoid.

Padahal pada masa-masa tersebut saya sudah mengharamkan musik dan setiap hari mendengarkan murottal quran, namun psikis saya tetap cemas dan gelisah.

Saya tidak bisa mengendalikan amarah saya, termasuk emosi takut dan sedih yang semakin sulit saya kontrol setiap harinya.

Saya kemudian berpikir, berdialog dengan diri sendiri, dan mulai mempertanyakan doktrin agama yang saya anggap prinsip.

Salah satu pikiran saya adalah mengenakan jilbab membuat saya merasa ini bukan saya, ini palsu. Padahal saya sudah sangat mengabdikan diri kepada berbagai tuntunan yang diajarkan Salafi, tetapi mental saya malah semakin sakit.

Saya kemudian mencoba memandang agama bukan dengan melulu serba mengikuti buta omongan ustadz, serba neraka, serba azab, serba ancaman akhirat, serba dosa, serba haram, dan berbagai ancaman lainnya bahkan untuk urusan remeh, misal mengglorifikasi tampilan luar seperti jilbab.

Saya bernalar bahwa agar bisa tenang, bahagia, dan penuh cinta dalam berIslam, saya harus memulai dari dalam, dari internal, dari hati.

Saya lalu membeli buku-buku Bapak Quraish Shihab dan saya membaca salah satu buku beliau, Jilbab: Pakaian Wanita Muslimah, hingga tuntas dan mencoba menelaah.

Bapak Quraish Shihab menulis isu jilbab dengan sangat lengkap, mendalam, dan tidak memberikan doktrin tafsir tunggal seperti yang sudah bertahun-tahun saya ikuti.

Bapak Quraish Shihab mengajak saya berpikir dan bernalar, antara lain dengan memaparkan berbagai pendapat ulama terdahulu mengenai jilbab mulai dari yang ketat hingga longgar.

Pada akhirnya, Bapak Quraish Shihab mengembalikan jawaban yang dipilih sesuai dengan kenyamanan, kebutuhan, dan pemahaman individu yang membaca.

Melalui pemaparan Bapak Quraish Shihab, saya merasa sangat dimanusiakan, diajak berpikir, diajak komunikasi dua arah, dan mendayagunakan akal saya.

Saya pun menangis karena dulu saya pernah merendahkan Bapak Quraish Shihab.

Saya dulu memandang Bapak Quraish Shihab sebagai ulama tercela, jelek, buruk, dan jahat. Saya pernah memandang Bapak Quraish Shihab sebagai ulama suu'. Saya merasa sangat bersalah karena saya akhirnya bisa menerima bahwa penyampaian Bapak Quraish Shihab memang sangat benar dan beliau memang sangat tinggi keilmuannya.

Saya juga merasa sangat amat bersalah kepada suami karena dulu saya selalu nusyuz. Saya menjelekkan suami ke orang-orang, menganggap suami sesat kafir hatinya dari kebenaran Islam. Setelah saya lebih menggunakan nalar dan tidak sekedar mendengarkan dan mengikuti secara buta, saya baru paham bahwa selama ini saya sudah dzalim sama suami saya karena sudah menuduh dia.

Akhirnya awal 2020, saya memutuskan membuka jilbab. Memutuskan melepas jilbab adalah hal luar biasa sulit untuk saya lakukan karena sejak kecil hingga besar, saya berada di lingkungan yang sangat menjunjung tinggi jilbab.

Tindakan saya membuka jilbab juga luar biasa bertolak belakang dengan karakter saya dahulu. Apalagi saya pernah menjadi seseorang yang merundung dan menekan para muslimah yang memperlihatkan rambut agar berjilbab.

Akibatnya, saya menerima sangat banyak hujatan, makian, dan cacian karena melepas jilbab. Para pencaci saya seolah-olah mengingatkan bahwa saya beragama dengan cara salah. Saya seakan mendapat cap tidak tahu benar dan salah.

Tapi karena saya tersadarkan bahwa saya sudah bertahun-tahun hidup dalam jalan doktrin tafsir tunggal, saya bersikap masa bodoh dengan segala hujatan, cacian, dan makian tersebut. Saya sabodo teuing.

Setelah saya lepas doktrin tafsir tunggal, saya merasa hidup lebih tenang dan damai. Saya lebih bisa merasakan nikmatnya hidup di dunia. Jiwa saya lebih baik saat saya lepas hijab daripada saya dulu yang justru merasa lebih suci, lebih agamis, dan lebih salihah daripada yang lain.

Kini saya meyakini bahwa saya harus mengoptimalkan akal pikiran saya, harus berani berpikir, berani bernalar, dan berani bersikap secara mandiri meski hujatan, cacian, dan makian menghadang.

Hati-hatilah dengan zona nyaman karena bisa menjebak. Itu sebabnya kita harus terus selalu mencari dan bergerak dengan belajar, belajar, dan belajar. Semua orang bisa saja mengklaim bahwa ajaran dia yang paling benar. Tetapi, kita yang mencari jalan kebenaran kita sendiri dengan mendayagunakan akal pikiran, lalu tetap yakin dengan keputusan kita meski ada ocehan, cacian, dan makian.

++++++++++++++++++++++

Empat bulan lalu, setelah saya akhirnya mempercayai peran psikolog profesional, saya didiagnosis ada bipolar disorder type 2 psikotik yang berawal dari gangguan pola pikir (akibat doktrin tafsir tunggal), lalu merembet ke gangguan perasaan, gangguan mood, dan gangguan sikap.

Saya sekarang sudah lebih baik. Saya merasakan jika sakit mental jauh lebih sakit daripada sakit fisik karena susah terlihat rusaknya di mana. Saat sakit mental, yang terlihat hanya keanehan saja.

Jika tidak memahami sakit mental, kita bisa habis ditekan oleh sikap-sikap dan ajaran para penganut doktrin tafsir tunggal. Untuk diketahui, teman-teman saya pun banyak yang rusak mental tapi mereka tidak mau keluar dari zona nyaman mereka. Mereka menutup pikiran.

Saya merasa sangat bersyukur karena suami tetap sabar bertahun-tahun dengan masa kelam saya. Kini saya melanjutkan pendidikan, kemudian belajar sejarah dan kebudayaan Indonesia, serta agama-agama di dalamnya, saya hampir setiap hari konsultasi dan diskusi dengan suami yang ternyata sudah mengetahui itu semua.

Pesan saya, hindari dan jauhi menjadi orang-orang dengan pemikiran tertutup yang menganut doktrin tafsir tunggal. Mari berdayakan nalar dan akal pikiran kita, termasuk mempertanyakan doktrin yang kita anut. Mari berani berpikir dan bersikap.

Sumber : Status Fanspage Hijrah Indonesia

Friday, September 11, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: