Mengapa Masih Impor?

ilustrasi

Oleh : Johan Wahyudi

Ada yang bilang, enak zaman Pak Soeharto. Pada masa itu, kita pernah swasembada pangan. Benarkah?

Saya ingat betul. Pada tahun 80an, saya cuma bisa makan nasi sekali sehari. Itu pun nasi diambilkan almarhumah ibu. Tak boleh ambil sendiri karena khawatir empat kakak tak kebagian.

Setelah nasi diambilkan, lauknya pun cuma sebiji ikan asin. Kadang ada sayur daun singkong atau pepaya. Selebihnya, nggak ada apa-apa. Sedangkan konon negara kita sudah swasembada beras. Kok hampir semua orang cuma bisa makan nasi sehari sekali. Dimana arti swasembada pangan?

Kondisi keluarga masih cukup lumayan. Banyak tetangga cuma bisa makan tiwul, nasi jagung, bahkan nasi aking. Itu lo, nasi yang berasal dari nasi sisa dan basi yang dikeringkan. Dan itu pun juga harus diambilkan agar semua anaknya bisa ikut makan.

Sekarang, masih adakah orang yang cuma bisa makan nasi sehari sekali? Masih adakah orang yang lauknya ikan asin? Mustahil ditemukan. Andai ada, sangat teramat langka.

Saat ini, kita memang masih impor beras karena kemampuan petani masih sangat terbatas. Lahan sawah di Jawa makin sempit, sedangkan kebutuhan beras justru meningkat.

Belum lagi termasuk gaya hidup. Kita sering bilang belum makan, sedangkan beberapa potong roti, bakso, getuk, kue, buah, aneka panganan sudah masuk ke perut. Karena budaya kita adalah makan ya nasi. Belum makan nasi ya belum makan.

Sekarang, coba kita main matematika. Jumlah penduduk Indonesia saat ini sekitar 260 juta jiwa. Jika satu orang butuh 0,5 kg beras per hari, artinya kita butuh 130.000.000 kg beras setiap hari atau 130.000 ton per hari. Gila....

Darimana kita mampu menyediakan beras 130.000.000 kg per hari, sedangkan kemampuan produksi petani justru menurun? Maka, ada dua cara yang bisa diterapkan.

Satu, modifikasi produk pangan non beras. Caranya, kampanyekan makanan pokok non beras secara masif. Ubah gaya hidup : makan nasi sudah basi. Nih gue, makanannya roti...

Dua, tingkatkan kesadaran pendidikan di level anak sekolah. Bentuk karakter hidup sederhana. Berikan pemahaman bahwa kemampuan bumi Indonesia dalam memproduksi beras berkurang dari waktu ke waktu.

Dua cara di atas akan efektif mengubah pola hidup sebagai konsumen beras. Terlebih sekarang zaman virtual sehingga sebenarnya mudah mengubah gaya peradaban anak bangsa. Maka, jangan mudah mencaci kegelapan. Lebih baik menyalakan lentera....

Sumber : Status Facebook Johan Wahyudi

Saturday, January 18, 2020 - 15:15
Kategori Rubrik: