Mengapa Hoaks Covid-19 Sangat Persisten?

Oleh: Muhammad Jawy
Hoaks terkait COVID19 ada yang berdiri sendiri, namun ada juga beberapa hoaks yang saling terkait dan memperkuat, dan membentuk ekosistem pseudosains berbasis teori konspirasi yang sangat dipercaya oleh orang-orang di dalamnya.
 
Karakteristik ekosistem pseudosains ini biasanya:
- Meremehkan dampak virus corona
- Menganggap virus corona adalah rekayasa para elite global
- Berpandangan miring dan mudah menyebarkan hoaks dengan tema yang bersinggungan dengan WHO, Bill Gates, Industri Farmasi (Mereka menyebutnya Big Pharma),
- Seringkali menggunakan narasumber kalangan dokter/ilmuwan yang antimainstream seperti Dr. Judy Mikovits, Andrew Kaufman, melakukan fallacy appeal to authority, padahal pendapat mereka bertentangan dengan pemahaman ilmuwan yang berbasis riset dengan standar yang tinggi. Bahkan tidak jarang pendapatnya justru bisa membahayakan masyarakat (contoh pendapat Dr Mikovits tentang masker bisa mengaktivasi virus)
Ekosistem ini dianggap menarik bagi masyarakat yang menyangkal (denial) status pandemi yang melanda dunia, dan dianggap sebagai jawaban alternatif atas misteri di seputar COVID-19 ini, padahal sebagai penyakit baru, sains memang membutuhkan proses dan waktu yang tidak sedikit untuk bisa menjawab misteri itu.
Munculnya stigmatisasi kepada RS dan tenaga kesehatan yang dianggap membisniskan COVID19 sudah mengarah kepada kekacauan, dan sudah menimbulkan intimidasi kepada tenaga kesehatan di beberapa daerah, dan ini patut diduga karena bersumber dari ekosistem pseudosains yang sama.
Dan ekosistem ini kemudian saling berkelindan dengan komunitas anti vaksin, yang pada akhirnya bisa mengancam program vaksinasi COVID19 jika nanti vaksin sudah diproduksi massal untuk digunakan di Indonesia.
Jadi, kenapa persisten, karena hoaksnya mengakar menjadi sebuah keyakinan, dan diadopsi oleh banyak orang, termasuk mereka yang ditokohkan di masyarakat. Sebuah klarifikasi dari media atau lembaga periksa fakta, tidak serta merta bisa diadopsi, bahkan tidak jarang diejek sebagai konspirasi antara media, Big Tech dan para elit global itu. Hal ini ditambah komunikasi publik yang kadang kurang responsif dan transparan dari otoritas penanganan COVID19 di Indonesia.
Solusi untuk mengatasi sengkarut informasi ini tentu harus multidimensi, karena faktornya juga kompleks, menurut kami diantaranya:
- Komunikasi Publik dari Otoritas Penanganan COVID19 yang terpercaya, transparan dan komunikatif
- Upaya edukasi publik yang massif dan kontekstal, dan melibatkan para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan jejaring birokrasi
- Media Pers yang lebih bertanggungjawab, fokus kepada upaya pemulihan pandemi dan membantu edukasi, menjauhi praktek clickbait
-Upaya kolaboratif periksa fakta yang kolaboratif dan tanggap
-Menumbuhkan semangat voluntarisme untuk bersama menyaring informasi tidak jelas
- Penegakan hukum yang tegas dan transparan kepada aktor pembuat kegaduhan
(Sumber: Facebook Muhammad Jawy)
 
Friday, July 24, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: