Mengapa Covid Terus Bertambah

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Karena kita tidak kompak

Sikap masyarakat terhadap komunikasi publik yang dilakukan oleh otoritas penanganan pandemi COVID19 di Indonesia sangat jauh berbeda dengan apa yang bisa kita lihat di Malaysia.

Lihat saja, setiap BNPB dan Kemenkes RI membuat rilis di Fanpage Facebook, selalu dibanjiri dengan komentar warganet yang menganggap COVID19 itu ilusi, bagian dari konspirasi, rekayasa elit global, dan penyakit biasa seperti flu. Beberapa bahkan berkomentar, menghentikan pandemi ini cukup dengan media tidak lagi memberitakannya di media, pemerintah juga disuruh berhenti bicara tentang COVID19.

Ini sangat kontras dengan kalau kita melihat FP tokoh publik yang menjadi referensi rakyat Malaysia, Noor Hisham Abdallah. Setiap dia menyampaikan informasi, jarang sekali nyinyiran yang muncul, kebanyakan adalah dukungan, ataupun sikap khawatir ketika misalnya ditemukan klaster, singkatnya pernyataan Noor Hisham sangat dihargai oleh rakyatnya.

Ini mengingatkan saya atas figur alm Sutopo Purwo Nugroho yang menjadi Asian of The Year 2018, setiap ada bencana semua orang akan menjadikan akun medsos Pak Topo sebagai referensi utama terkait informasi kebencanaan. Ini tak lepas dari kerja keras beliau untuk menjernihkan informasi meski beliau sambil kemoterapi di atas tempat tidurnya. Trust is earned not given, ini memang bener.

Dalam penanganan COVID-19 ini sepertinya kita kehilangan induk. Tidak hanya masyarakatnya yang saling berselisih paham, para pejabat pemerintah juga kadang tidak kompak. Disorientasi jelas nyata nampak dari sikap sebagian publik yang abai terhadap protokol kesehatan.

Yang doyan mengunyah hoaks dan teori konspirasi juga bejibun, bahkan ironinya ada juga dari kalangan tenaga medis sendiri, padahal negeri kita termasuk tingkat kematian tenaga medis cukup tinggi.

Proponen pembebasan atau pengabaian protokol tampak bukan orang yang cerdas, karena kegiatan ekonomi tanpa kepatuhan terhadap protokol kesehatan justru merugikan masyarakat sendiri. Kalau pariwisata, kuliner, dibiarkan tanpa protokol, emang ada wisatawan yang mau datang? Ya palingan mereka yang abai dengan protokol.

Lihat saja Amerika melarang orang ke Indonesia, Malaysia juga mempersulit orang Indonesia ke sana. Tapi itulah kenapa ada istilah gagal paham, karena memang ada orang-orang gagal paham yang dijadikan sebagai ujian hidup yang lain.

Jadi bagaimana?

Kita ada di persimpangan jalan. Apakah mau melanjutkan ketidakkompakan ini? Dan entah sampai kapan situasi kabur ini melanda? Bahkan vaksin saja belum tentu berhasil kalau masyarakat saling antagonis.

Kita tidak perlu malu belajar ke negeri yang kompak seperti Malaysia, Taiwan, atau tempat lain yang dinilai lebih berhasil dari kita.

Teknologi media sosial mestinya memudahkan kita untuk bisa belajar kebaikan dari negara lain.

Bukan malah dipakai untuk menyebarkan hoaks dan teori konspirasi sampai ada yang menyebut Indonesia peringkat 5 dunia urusan rumor dan teori konspirasi.

Kesimpulannya, kita mau kompak apa tidak, Lur?

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Friday, September 11, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: