Mengapa Covid-19 Sulit Diatasi?

Oleh: Wahyu Sutono
 
Sejatinya persoalan Covid-19 bukan hanya persoalan pemerintah, juga bukan persoalan seorang Presiden Jokowi, Menteri Kesehatan, para tenaga medis saja. Tapi persoalan semua elemen dan anak bangsa, bahkan persoalan masyarakat dunia tanpa terkecuali.
Pada bulan Maret lalu penulis sempat katakan bahwa sangat mungkin Indonesia bisa menjadi klaster raksasa, walau tentu saja itu sangat tidak diharapkan. Namun nampaknya hal itu mungkin saja terjadi. Mengapa?
 
1. Mentalitas sebagian bangsa ini yang sulit diajak untuk hidup disiplin, dan masabodo dengan yang namanya protokol kesehatan.
2. Ada pihak yang mencari keuntungan dari persoalan pandemi Covid-19. Tentu saja para mafia obat dan peralatan medis, selain tentunya para politisi busuk yang ingin melihat pemerintah pusat dianggap gagal.
3. Sekelompok orang yang berjiwa licik, picik, dan munafik, yang dengan sengaja menyebarkan hoax tentang Covid-19 yang dikatakannya sebagai konspirasi, atau Covid-19 itu sama dengan Flu biasa, bahkan ada yang mengatakan bila Covid-19 ini tidak ada atau hoax, dan seterusnya.
4. Sangat mungkin ada kepala daerah yang kerjanya setengah hati. Bahkan mungkin ada yang lalai, tapi retorikanya selangit.
5. Ada pihak medis yang sibuk dengan berbagai asumsinya sendiri-sendiri, sehingga justru makin membingungkan masyarakat.
6. Jaringan mass media tertentu yang kurang bisa ikut membantu mencerahkan, bahkan cenderung justru ikut memperkeruh situasi.
7. Keberadaan kelompok aktifis politik atau kelompok tertentu yang kecil perannya, dan nampak justru memprovokasi situasi hingga menambah rumit masalah. Misalnya dengan kerap mengadakan demo atau pertemuan yang seharusnya bisa dihindari, karena bisa diganti dengan cara virtual.
Ingat, suka tidak suka, dan mau tidak mau, Covid-19 akan mengetuk pintu rumah kita, dan si Covid-19 ini tak mengenal usia, gender, waktu, lokasi, serta status sosial seseorang. Terlebih setelah mutasi, tingkat penyebaran di Indonesia bisa 10x lipat cepatnya.
Lalu bagaimana mengatasi semua ini? Jawabannya hanya ada pada diri kita. Mau kembali normal? Disiplin protokol kesehatan atau terapkan pola otoritarian ala negara komunis dengan melibatkan TNI, walau hal ini terasa tak mungkin, sebab pasti banyak yang akan teriak pemerintah otoriter, dzolim, kriminalisasi, dan lain sebagainya.
Lihat wisma atlet di malam hari. Lampunya nyala semua. Itu artinya semua kamar penuh dengan pasien yang terpapar Covid-19. Jadi sekarang sudah saatnya kita bahu membahu dan tidak saling menyalahkan. Mari sayangi diri dan keluarga kita agar tidak terpapar Covid-19, sehingga masalah pandemi ini cepat teratasi, teriring doa kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala untuk pertolonganNya.
"Satu catatan penting bahwa biasanya tokoh masyarakat dan tokoh agama akan lebih didengar ucapannya oleh kalangan tertentu. Oleh sebab itu mohon peranan dan kontribusi untuk penanganan masalah Covid-19 ini."
Mari berempati dan malu sedikitlah dengan persoalan ini. Ingat juga perjuangan para tenaga medis hingga harus berkorban nyawa. Terlebih sudah 59 negara yang melarang warga negara Indonesia berkunjung ke negaranya. Masa iya mau nambah lagi? Ayo jadikan diri kita bagai tentara yang berada di medan pertempuran. Lawanlah Corona dengan cara disiplin menjaga imunitas, kebugaran, serta taatilah protokol kesehatan.
Salam Sehat Untuk NKRI Gemilang
(Sumber: Facebook Wahyu Sutono)
Thursday, September 10, 2020 - 22:30
Kategori Rubrik: