Mengapa Belajar Kitab Suci Tidak menjadikan nya Suci Hati

Oleh : Cahaya Timur Kinanti

#Pondok_Gede_1998.
Kami terpesona, bukan sekedar membaca kitab suci dengan indah, diapun mampu menterjemahkan langsung ayat demi ayat….

Atribut Jubah dan kopiah putih selalu melekat di kepala, dahi nya hitam sebagai tanda seringnya sujud pada Illahi… pada kantung jubahnya ada kitab kecil yg selalu dibaca kala senggang. Dari mulutnya sering terdengar puji pujian utk Tuhan, untuk sekedar bersendawa saja, dia mohon ampun kepada Tuhan berkali kali.

Sampai suatu saat dia masuk penjara, kasus Penipuan.

Dalam hidup saya, berkali kali saya mengalami kisah dengan “orang-orang” seperti di atas, saya tidak menuliskan semuanya, karena sedih menulisnya.

Satu pertanyaan yg terbersit di hati saya, mengapa kedekatannya dengan Kitab Suci tidak mampu mensucikan hatinya…? 
Apakah kitab suci itu sudah kehilangan keramatnya..? sehingga tidak mampu lagi mensucikan..?

 

#Sleman_Jogja_2013.

Saat saya berkunjung, Bapak ini sudah pension, pulang kampong di sleman, dulu, saya pernah jadi anak buahnya selama 13 tahun. 
13 tahun saya bergaul dengan beliau, belum pernah sekalipun melihat beliau marah, berbohong ttg sesuatu, membanggakan diri, merendahkan orang lain atau berkata menyakitkan.

Beliau selalu berusaha bersikap benar, bertindak benar dan berkata benar. beliau sangat sederhana. Mengingat betapa jahatnya saya dulu. Saya sengaja datang dari Lombok untuk meminta maaf atas kesalahan saya.

Ada pengalaman lucu, terjadi sudah sangat lama, Ketika kami memintanya jadi imam shalat Magrib, Dengan terpaksa beliau berterus terang hanya hapal 3 surat, Alpatekah, Kulhu dan Al Kautsar itupun tidak fasih dan beliau malu membacanya dengan suara keras.

Salah seorang teman terus memaksa beliau jadi imam, akhirnya dengan terpaksa beliau jadi imam. Dan Shalat magrib itupun dilakukan dengan sunyi, tak ada bacaan apapun di perdengarkan, Dan teman saya yg memaksa itu, shalat sambil terkikik kikik.

Sekarang beliau sudah menunaikan rukun islam ke lima, dan aktif dalam pengajian di kampungnya.

Dari manakah Bapak ini memperoleh begitu banyak kebaikan..? jelas jelas Bapak ini jauh dari kitab suci, lalu siapakah yg menuntun sikapnya…? Sehingga sikap dan tingkah lakunya selaras dengan perintah dalam kitab suci….?

#Banyuwangi_2016.

“Kitab suci itu berisi kebijaksanaan, berisi ilmu pengetahuan.”, Mas Fiq menjelaskan, malam itu pulang dari jogja menuju Lombok, saya mampir di banyuwangi.

“Lalu, kenapa orang orang yang sering baca kitab suci, memahami kitab suci, sering tidak bertindak bijaksana, bahkan masih saja melakukan kejahatan…? Mengapa kedekatannya dengan kitab suci tidak mensucikan..? “ aku bertanya.

“Bagi mereka yg sombong, tinggi hati, riya, merasa dirinya umat terbaik, merasa sebagai satu satunya golongan yg paling berhak mendapat hidayah, merasa dirinya mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam, maka kitab suci tidak akan menjadi hikmah, kitab suci tidak akan mensucikan, seberapa banyaknya kitab itu di baca, seberapa dalamnya kitab itu di pelajari ” Mas Fiq menambahkan.

“Kitab suci itu berisi hikmah dan bersifat seperti air, akan mengalir ketempat yg rendah. Salah satu syarat keberhasilan mempelajari kitab suci adalah kerendahan hati, mengakui kekurangan diri, mengakui kesalahan diri dan mau bertaubat dan merubah diri.

Rendahkanlah hatimu, akuilah kesalahanmu, agungkanlah Tuhanmu, perbaikilah adabmu, maka kitab suci akan mengisi relung jiwamu, dan mensucikan hatimu… karena kitab suci memang seharusnya mensucikan…. “ Mas Fiq mengakhiri pembicaraan.

Kami semua hening … malam semakin larut, penjelasan itu terus menerus bergaung :
#KITAB_SUCI_SEHARUSNYA_MENSUCIKAN

Selamat menunaikan Ibadah Shalat Jumat.

Nyiur Lembang 19 Okt 2018

 

Sumber : facebook Cahaya Timur

Saturday, October 20, 2018 - 10:30
Kategori Rubrik: