Mengapa Bali Bisa Manahan Wabah Covid-19?

 

Oleh: Muhammad Jawy

 

Bali menjadi pusat perhatian, tidak hanya nasional tapi juga oleh warga negara lain, karena meskipun tanpa melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) namun hingga saat ini dianggap paling berhasil merespon wabah COVID19.

Hingga saat ini (13 Mei 2020), tercatat 332 positif, 220 sembuh, dan 4 meninggal. Artinya CFR (Case Fatality Rate) sebesar 1.2%, cukup jauh dibawah angka nasional pada tanggal yang sama 6.6%. Tingkat kesembuhan sementara yang 66,2% ini juga jauh diatas angka nasional yang 21,3%. 

 

Saya mencatat setidaknya beberapa hal mengapa Bali bisa relatif berhasil menahan wabah ini.

PERTAMA, seperti yang disampaikan oleh Gubernur Koster, adanya kearifan lokal yang sangat berpengaruh. Masyarakat umumnya taat dengan hukum adat, sehingga mereka bisa tertib dan disiplin. Bali memiliki 1.493 desa adat, dan mereka menjadi ujung tombak perlawanan, termasuk memastikan tidak ada orang luar yang membawa penyakit masuk ke desanya. Adat juga memberikan pedoman bagaimana untuk menghadapi wabah.

KEDUA, pemeriksaan atau tes sampel secara cepat, diikuti dengan contact tracing

"Konsep penanganan COVID-19 adalah test, treatment, tracking. Semakin cepat melakukan tes, makin cepat diobati, makin cepat melakukan tracking para orang yang kontak dengan kasus" (Ketua Tim Lab Pemeriksaan Kasus COVID-19 Provinsi Bali Ni Nyoman Sri Budayanti)

Konsep ini mirip dengan upaya di negara lain seperti Taiwan, Korsel atau Hongkong.

Provinsi Bali juga menambah SDM laboran atau petugas laboratorium dari berbagai rumah sakit dan universitas yang ada dan diberdayakan untuk mengetes sampel. Mereka mengadakan pelatihan bagi relawan siapa saja yang ingin membantu mengetes sampel

KETIGA, persiapan infrastruktur kesehatan. Mereka menyiapkan 13 RS rujukan dengan 392 tempat tidur, dengan ruang isolasi.

KEEMPAT, melakukan karantina wilayah bagi desa yang dinilai terjadi wabah yang cukup banyak. 

Gugus Tugas Bangli memberlakukan karantina wilayah 14 hari bagi Desa Abuan, karena jumlah yang reaktif rapid test cukup banyak. Sebagian yang positif sudah sembuh, dan pemerintah setempat memutuskan untuk tidak memperpanjang isolasi karena dianggap sudah normal. Selama isolasi ribuan warga dibawakan nasi bungkus ke rumahnya masing-masing.

KELIMA, pariwisata sangat berpengaruh terhadap ekonomi Bali. Dan karenanya masyarakat Bali sangat kompak, bergotong-royong supaya daerahnya tidak terdampak berat wabah COVID19 ini, karena kunci kembalinya ekonomi berbasis pariwisata adalah enyahnya COVID19 dari pulau ini.

Kalau Bali bisa, seharusnya Indonesia bisa! 

Referensi:

https://elshinta.com/…/tidak-terapkan-psbb-gubernur-bali-un…

https://covid19.go.id/…/pemeriksaan-cepat-kunci-sukses-bali…

https://baliexpress.jawapos.com/…/karantina-di-desa-abuan-t…

https://pendataan.baliprov.go.id

 
(Sumber: Facebook Muhammad Jawy)
Thursday, May 14, 2020 - 03:30
Kategori Rubrik: