Menganalisa Survey Litbang Kompas, Jokowi Tetap Menang

ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

STAY FOCUS

Saya kurang suka dengan teori konspirasi yang menyebut Survey Kompas bias karena Pemrednya dekat dengan Pak Prabowo. Anaknya Murdiono jadi dekat dengan Cendana. Atau keberadaan suaminya yang sejak lama gandeng renteng dengan capres 02. Segenap informasi seputar ini saya anggap berlebihan dan memperlakukan Kompas seperti pedagang cilok. dimana keputusan tergantung yang punya kuasa.

Big NO

KOMPAS MEDIA KREDIBEL

Kompas adalah lembaga pekabaran yang kredibel. Media ini tidak bisa disetir oleh Pemrednya. Penelitian adalah kerja tim dengan pengawasan yang berjenjang dan tidak bisa diatur secara otoriter.

Untuk sebuah media besar, sukar dipercaya jika sang Pemred bisa mengutak-utik data untuk kepentingan suami atau preferensi politiknya.

Jadi Surveynya bisa dipercaya, termasuk elektabilitas pak Jokowi yang melorot dibawah 50 persen.

BEJANA 6 PERSEN

Reaksi berlebihan disebabkan karena pendukung 01 tidak membaca dengan rinci hasil survey Kompas. Penjelasannya menggunakan bahasa tinggi dan tersirat.

Seperti kalimat Prabowo hanya membutuhkan 6 persen untuk menang. Jika kalimat ini ditelan begitu saja, maka orang bisa bilang Kompas ngawur.

Padahal tidak semudah itu.

Jika suara Prabowo naik 6 persen tidaklah serta merta Jokowi turun sebesar itu. Sebab bisa saja tambahan suara itu bukan karena pendukung Jokowi berpindah ke Prabowo. Karena bisa jadi tambahan itu berasal dari undecided voter yang sebesar 13,4 persen.

Jika itu terjadi Jokowi tetap menang. Yakni Prabo dapat 43,4 persen dan Jokowi 49, 2 persen.

Ngerti ya..

KOMPAS JAGOKAN JOKOWI BUKAN PRABOWO

Hal lain lagi yang menegaskan bahwa sebenarnya Kompas menjagokan Jokowi. Bukan Prabowo.

Coba lihat elektabilitas Jokowi –Prabowo yang 49.2 persen - 37.4 persen. Ada gap 11,8 persen. Itu sudah cukup bagi Jokowi untuk menang karena pada tahun 2014 bedanya cuma 6,3 persen.

EKSTRAPOLASI JUGA MENANGKAN JOKOWI

Lihat juga hasil ekstrapolasi dalam survey Kompas. Ekstrapolasi adalah teknik peramalan dengan memproyeksikan kecenderungan-kecenderungan masa lalu ke masa depan.

Jadi berdasarkan survey Kompas yang terdahulu dibandingkan yang terbaru keluar angka bahwa pada Oktober 2018 ekstrapolasi elektabilitas Jokowi berada pada angka 61,6 persen dan pada Maret 2019 pada angka 56,8 persen.

Jadi Jokowi tetap menang.

ELEKTABILITAS BULANAN

Kemudian soal turunnya elektabilitas Jokowi.

Dikatakan, Selama ENAM BULAN SEKALI LAGI ENAM BULAN, elektabilitas Jokowi-Amin turun 3,4 persen dan Prabowo-Sandi naik 4,7 persen. Banyak yang ngawur menghitung rata-rata penurunan elektabilitas perbulan dengan membagi persentase dengan 6 bulan.

Padahal harusnya tidak demikian lihatnya.

Justru yang harus dilihat para pendukung Jokowi adalah trend kenaikan per usia . Survey Kompas, 01 masih keok merebut suara pemilih pemula. Namun kerja keras para relawan dan pendukung lewat berbagai rapat umum telah menaikkan elektabilitas Jokowi disemua lapisan usia.

Adakah yang baperan membacanya ?

Masak informasi prestasi ini tidak diapresiasi ? Malah menuduh Kompas berkonspirasi ?

MALES BACA DAN BAPERAN

Yang menuduh demikian, jelas malas baca . Jikapun baca hanya sekilas saja atau malahan Cuma baca judulnya saja kemudian berkomentar kemudian loyo.

Ini adalah ciri khas sekaligus kelemahan Pendukung 01. Yang gampang baperan kemudian menyalahkan orang lain. Bukan seperti pendukung 02 yang meski hatinya berdarah-darah melihat jagoannya bakal kalah tapi terus berjuang untuk mencapai kemenangan.

Mental baja ini yang harus dimiliki pendukung 01 dan TKNnya Jokowi mesti mengakomodasi ini. Jajaran elit pemenangan Jokowi tidak bisa mengandalkan premis bahwa Jokowi pasti menang.

Alasannya, sulit Prabowo mengejar ketinggalannya dalam waktu kurang sebulan karena phase pematangan pendukung sudah final yakni dikisaran 49.2 persen - 37.4 persen , jika ikut Kompas.

HARUS BERJUANG

Jadi Relawan, pendukung dan TKN Jokowi harus berjuang meningkatkan terus dukungan sesuai arahan Jokowi.

Tidak ada waktu untuk leha-leha. Mesti kerja keras.

Jangan biarkan Jokowi jalan sendirian.

Jangan baperan. Ayo ke lapangan raih dukungan.

Lihat tuh pendukung 02 yang makin militan.

Sampai makan sampahpun mereka lakukan.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Friday, March 22, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: