Mengajarkan Kebencian Sejak Dini

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Saat Lembaga Sensor Film melakukan blur pada gambar dada perempuan dan adegan keji di televisi, dapat kita pahami yang hendak dilindungi di sana adalah anak-anak. Dulu di jaman Orde Baru, tontonan penuh kekejaman diwajibkan. TVRI, satu-satunya televisi saat itu, menjadi corong Pemerintah untuk melakukan aksi cuci otak itu. Di sana, kekejaman ditanamkan pada seluruh rakyat. Kata-kata seperti, "Darah itu merah Jenderal," dihapal betul oleh anak-anak saat itu.

Generasi yang menyaksikan ajaran kebengisan ala Soeharto itu mungkin insaf dan ingin generasi selanjutnya tidak mengalami masa kelam itu. Mereka tentu tidak nyaman dengan cara-cara lebaga sensor yang kampungan. Padahal hal-hal tabu sangat banyak di internet. Memblur TV bukan jalan keluar, justru pendidikan seks sejak dini yang perlu dilakukan. Kita terlambat mengantisipasi. Namun meski tak suka cara lembaga sensor, semua itu diterima karena ada embel-embel demi anak-anak.

 

Kita ini sibuk mengurus hal sepele dan melupakan bahaya yang lebih besar. Keliru bersikap, keliru pula dalam memproteksi.

Saya melihat KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) misalnya, absen dalam memberikan teguran pada aksi memalukan 313. Orang-orang itu mendandani anak-anak mereka layaknya teroris, menempelkan tulisan idiot di punggung mereka, "Kami kebal peluru." Padahal doktrin kekerasan (dan pembodohan) semacam itu jauh lebih berbahaya daripada memblur dada perempuan dan aksi kekerasan di televisi.

KPAI yang biasanya cerewet kali ini adem-ayem. Dulu soal Pokemon Go misalnya, KPAI jelas ngawur dan sok tahu. Masih ingat juga Kak Seto yang bijak bestari mengkhawatirkan istri muda Luthfi Hasan (terdakwa kasus impor daging sapi dari PKS) karena publikasi media, kali ini tak ada suara. Atau mungkin tak senyaring dulu.

Saya melihat ada keterpihakan di sini. Terhadap aksi kekerasan main-main di televisi main blokir, tapi indoktrinasi kekerasan dalam dunia nyata dibiarkan. Sama seperti lembaga sesor yang hobi memblur dada perempuan, padahal melalui internet, bluetooth, share it, menyediakan adegan mesum melimpah. Mungkin mereka menduga ini persoalan luhur, berjihad atas nama agama. Yang jelas, mereka ingin main aman dan pilih-pilih musuh.

Jadi orang-orang jadul ini serba terlambat mengantisipasi. Mereka sibuk dengan hal remeh, dengan standar otak mesum mereka dan kegentaran menghadapi gerombolan ekstremis berkedok agama.

Ini sungguh disayangkan. Saya tahu KPAI juga tak banyak gunanya. Hanya bisa menegur, prihatin, menyesalkan, tapi tak ada langkah kongkret. Aksi indoktrinasi semacam itu jalan terus. Anak-anak yang bersih-suci itu diajari kebencian. Mereka mewariskan kebodohan, fanatisme sempit, delusi keagamaan kepada anak-anaknya.

Jika Pemerintah dan ormas sadar bahaya semacam NU itu khawatir dengan maraknya aksi terorisme, kita baru saja melihat pembibitannya dalam aksi-aksi demo tak bermutu 411, 212, 313. Dan aksi pembibitan itu menghabiskan miliaran rupiah untuk mendanai pengamanannya. Sungguh sia-sia uang pajak itu. Para penggemar nomor togel itu tak memberi pilihan pada anak mereka untuk berpikir. Bisa kita bayangkan Negara ini di tangan orang-orang buas semacam itu. Keluarga mereka saja diperas, dipaksa, apalagi orang lain.

Alasan mereka tentu ingin mendidik anak sejak dini. Maklum mereka memahami agama dengan saklek, anak harus dibentuk dan dipaksa dengan tangan besi. Mungkin mereka tidak percaya, anak-anak itu merdeka. Mereka punya dunianya sendiri. Mengajari kebencian sejak dini sama saja menghancurkan mereka. Maka jangan bersedih jika kebencian itu juga membuat mereka saling bunuh dalam tawuran.

Anak-anak itu mencontoh dengan baik. Kita sibuk menyalahkan televisi, padahal kita sendiri yang mengajarkan tindakan itu tanpa sadar. Secara kultural, kita mewariskan pola pikir penuh kekerasan itu kepada mereka. Baik melalui kisah pengalaman kekerasan sewaktu masih remaja, atau melalui pembicaraan kebencian terhadap kelompok atau orang yang berbeda. Itu jadi budaya. Kita bangga dengan hal itu.

Kita lupa untuk memutus mata rantai kebencian ini. Lalu kita bersedih melihat anak-anak itu saling bunuh di jalan. Atau tiba-tiba ada yang melempar bom dengan dorongan kebencian dalam hatinya. Namun tenang saja, lembaga-lembaga pencegahan itu telah bekerja dengan baik. Mereka sibuk menyalahkan televisi. Go-blok.

(Status Facebook Kajitow Elkayeni)

Monday, April 3, 2017 - 10:30
Kategori Rubrik: