Mengadili Nalar

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Menjadi lawyer Rocky Gerung, Haris Azhar mengatakan ‘nalar tak bisa diadili’. Wuih, nalar yang bagaimana itu? Lantas buat apa kita membuat segala macam aturan dan undang-undang, yang berimplikasi mengadili liyan? Itu produk nalar bukan? Dari langit? Sehingga Buni Yani bisa berkata; Kejari, Jaksa, dan Hakim akan masuk neraka, karena telah menjebloskannya ke penjara?

Semua tindakan yang dilakukan manusia, dari proses nalar, sebetapapun kualitasnya. Ada nalar baik, buruk, tak konsisten, integrated, dan seterusnya. Bukan nalar yang diukur, tetapi bagaimana vibrasinya dalam periferal kehidupan masyarakat.

 

 

Orang kentut tidak salah. Duburnya juga tidak. Tetapi bau kentut akan menimbulkan masalah di antara kerumunan manusia, berkait tempat, waktu, suasana, dan bahkan cara. Karena itu sejak dari agama, orangtua, kekasih, siapapun yang tak ingin kehilangan muka, mengingatkan agar jangan kentut sembarang. Apalagi jika sekalian ampasnya.

Jika segala sesuatu dikaitkan filsafat, dengan kalimat improvisasi, dunia akan kacau balau. Filsafat hanya mencoba menafsir dunia, tapi bagaimana semua hal berjalan, karena kepentingan manusia yang beragam, alias tidak tunggal? Kalau nalar tak boleh diadili, lantas apa makna argumentasi? Kenapa Rizieq Shihab janji hanya umrah sekeluarga, tapi sudah berapa bulan haji nggak pulang-pulang ke Indonesia?

Karena apa? Karena bukan nalar? Lantas, jika demikian, apakah keyakinannya tanpa melalui proses penalaran? Jika demikian pula halnya, mengapa kita diminta mengubah perspektif nalar kita, dalam menilai kasus Ahok dan Buni Yani? Apakah UU-ITE juga lahir tanpa nalar? Apakah Fadli Zon dan Sandiaga yang akan merevisi punya nalar?

Ciri orang kalah, dalam pengertian pecundang, akan reaktif dan ofensif. Cara bertahannya menyerang. Itu psikologi biasa. Biasa maksudnya nggak pakai telor. Nggak pakai telor, karena memang nggak istimewa. Tak pakai nalar? Tentu pakai,tapi nggak mutu.

Termasuk ketika mereka mengklaim sebagai pemilik tunggal kebenaran. Lain orang tak memiliki sama sekali. Itu juga lahir dari proses nalar. Termasuk ketika patuh pada hukum fisika, minyak campur minyak air campur air. Kalau Buni Yani kumpul dengan Matdhani dan Rocky Gerung, karena mereka sama. Sama-sama tak suka Jokowi.

Sikap mereka sama jumawa, arogan. Berangkat dari waham kebesaran kaum megaloman. Waham kebesaran ini, makin dahsyat jika masuk ranah agama. Politik dan agama, memang dua hal yang bisa buruk di tangan yang buruk. Beda dengan emas, yang tetap emas ketika dipegang orang baik atau jahat.

Politik, juga agama, bisa menjadi berbeda ketika berada dalam genggaman Neno Warisman, Buni Yani, dan sebarisannya. Itu jika dibandingkan dalam pandangan Gus Mus atau Gus Dur misalnya. Demikian pula nalar. Kalau tak bisa dinilai, lantas apa beda Rocky Gerung dan Rizieq Shihab?

Nalar bisa diadili, setidaknya dinilai. Baik dan buruknya tentu tergantung sistem hukum yang diterapkan, di samping tergantung pada centhelan.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Saturday, February 2, 2019 - 16:00
Kategori Rubrik: