Mengabaikan Modal Sosial

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Jack Ma dan Nana Akufo Addo, dua tokoh dunia yang sedang jadi idola. Apalagi di dunia medsos Indonesia yang mudah memuji. Jack Ma si tajir China, orang penting di balik Alibaba, aktivitas filantrofinya berkait coronavirus, sangat memukau. Entah kenapa, bisa menggusur Bill Gates, yang lama beredar di dunia filantrofi. 

Mungkin karena Bill Gates dicurigai bagian dari teori konspirasi. Walau pun yang nyinyirin Jack Ma juga ada. Mereka nuding Jack Ma hanya memakai momentum untuk tujuan politiknya. Entah politik citra China yang hancur karena tudingan nyebar virus, atau citra pribadinya untuk panggung politik.

 

Kata Jack Ma, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawa kita. Masih diberi hidup sampai hari ini, sudah merupakan keberuntungan. “Satu dunia, satu pertarungan. Bersama kita bisa melakukan ini!” katanya heroik. Dan tidak ngomdo. Ia telah berdonasi ke lebih 150 negara, dengan 120,4 juta masker wajah, 4.105.000 peralatan testing, 3.704 ventilator. Lembaga pengamat filantrofi mnempatkan Alibaba di peringkat 12 daftar pendonor Covid-19 dunia.

Nana Akufo Addo, Presiden Ghana, saat mengumumkan lockdown, “I assure you that we know what to do to bring back our economy back to life. We can’t bring people back to life”. Kami tahu bagaimana menghidupkan kembali perekonomian, yang kami tidak tahu adalah bagaimana menghidupkan kembali orang meninggal, gitu katanya. Dan seperti biasa, kemudian dibandingkanlah dengan Presiden Indonesia, seperti dulu dengan Erdogan. 

Anda sudah tahu komentar nyinyir anggota DPR soal blusukan Jokowi bagi-bagi sembako? Ada pula wasekjen MUI berkomentar seperti preman tak terdidik, dan tak bermutu? Jangan ditanya, bijimana komen pemuja kaum bareta (pemakai topi bareta), yang tampilannya persis antara seniman dan mafioso.

Jokowi banyak dikritik “lebih mementingkan soal ekonomi” dibanding “nyawa rakyatnya”. Kenapa Jokowi tak berani melakukan lockdown? Tak peduli problemanya berbeda, dan tak semudah tukang mbanding-mandingin itu. Sekarang muncul pemeo bagus; “Beberapa orang terlihat amat sulit menemukan apa yang bisa dibanggakan pada dirinya, kecuali bahwa dia lebih hebat dari Presiden Republik Indonesia.” 

Dari sudut mana pun, Jokowi akan disalahkan, oleh yang tak menyukai tentu. Juga mungkin yang dulu mendukungnya, tapi entah kenapa. Atau, orang yang memang pinter namun kurang bijak. Apalagi ada kyai top bilang presiden itu babunya rakyat. Makanya boleh dihina? Beragama kok rasis! 

Kita mungkin bisa frustrasi kalau ngomongin kinerja pemerintahan, apalagi di level bupati-walikota hingga kepala dusun. Meski kinerja presiden, Menteri, gubenur, dalam skala kebijakan juga tetap harus dikritisi. 

Mengutip tulisan Yudi Latif (Cerah di Celah Wabah, 30/04/2020) kemarin, disebutkannya mengenai modal sosial kita. Bangkitnya masyarakat sipil yang berinisiatif menghadapi wabah. Karena pada dasarnya kita punya daya tahan kuat. Teruji berbagai cobaan masa lalu. The World Giving Index, yang berbasis di Inggris (2018), menempatkan Indonesia sebagai the most generous country (negara paling dermawan) di dunia. Tiga perilaku yang menjadi ukuran: menyumbangkan uang, menolong orang dan kerelawanan. 

Negara Indonesia memang “lemah”, tetapi masyarakatnya kuat. Dalam perspektif Clifford Geertz (1963), Indonesia seperti old wine in a new bottle. Gugusan masyarakat lama dalam negara baru. Negara yang berakar pada tanah-air beserta elemen-elemen sosial-budaya yang telah hadir puluhan ribu tahun di Nusantara. Kekuatan jaringan sosial-budayanya lebih solid ketimbang organisasi politik dan (politik) keagamaannya, apalagi yang mimpi mendirikan negara khilafah. 

Sayangnya, pemerintah kurang mengakomodasi, atau tak tahu mengelola modal sosial ini, di balik anjuran social and physical distancing. Lha wong kuliah online saja dinisbikan, karena bansos atau blt seperti nasbung lebih berharga. Tanpa tahu itu juga dilakukan. Hanya ada yang tak nyampai. Dan mungkin banyak. 

Tapi tiba-tiba, muncul pernyataan; “Bisa terjadi kerusuhan sosial seperti 1998,” kata bekas wapres JK. Entah siapa yang tidak bijak, JK atau media yang mewadahi celometan sampah an-organik itu. 

(Sumber: Facebook @sunardianwirodono)

Saturday, May 2, 2020 - 18:15
Kategori Rubrik: