Menerjemahkan Pernyataan KH Said Aqil Siradj Tentang NU Paling Benar

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Sebenarnya orang-orang seperti Maher atau pengurus Muhammadiyah yang mendengar rekaman Prof Said Aqil Siradj itu faham apa makna ucapan Ketum PBNU itu. Tapi mereka menolak memahami dan memilih untuk memanfaatkan ucapan itu sebagai alat untuk menyerang beliau.

Begini loh jon, kita-kita ini orang NU, mempelajari ilmu agama itu tidak asal; hanya belajar dari terjemah dan gogel. Tidak. Kami belajar Islam bertahun-tahun, dari kecil, dari usia kami belum memenuhi syarat masuk sekolah dasar.

Anak-anak lain tidur di kasur empuk, kita tidur dilanggar, dimasjid, di musola, diserambi, beralaskan sejadah, malah seringkali tidak beralaskan apa-apa. Anak-anak lain jalan-jalan, kita ini anak-anak NU tiap pagi dan sore, nasrif (menghafal sorof, morfologi): فعل يفعل فعلا فهو فاعل dst. Anak lain bangun pagi jam 6, jam 7, kita jam 2 malam, paling telat bangun jam 4 subuh. Malah waktu akhir-akhir jam 7 pagi baru tidur, semalaman tidak tidur.

Pagi siang, sore malam ngaji, al-Quran dan 12 fan ilmu-ilmu keislaman dan ilmu yang terkait. Semakin usia kami dewasa, nyaris waktu kami sepenuhnya untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman, tidak ada waktu buat yang lain. Tidak HP, tidak tv, ijin keluar saja seminggu sekali, itupun hanya satu jam. Santri-santri yang rajin bahkan tidurnya saja sambil duduk, itupun kalau ketiduran.

Guru-guru kami bukan hanya belajar di tanah air tapi juga puluhan tahun belajar di berbagai negara, seperti belajar di Mekah al-Mukaramah. Generasi akhir seperti KH Hasyim Asy'ari, KH As'ada Syamsul Arifin, Mbah Dalhar, bahkan yang satu generasi dengan kami KH Maemon Zubair.

Tapi, kalian, dari dulu, selalu membid'ahkan kami, menuduh kami melakukan kesyirikan. Maulid, Isra Mi'raj, ziarah kubur, tahlil, haul, thariqah, tari sufi, dzikir berjamaah, tasbih, semua kalian syirik-syirikan. Supaya kami tidak disesat-sesatkan, selayaknya warga NU alumni-alumni pondok pesantren sigap berkompetisi mengambil posisi strategis disemua lini. Apa salahnya. Toh kenyataannya juga Muhammadiyah berapa dekade era Suharto begitu. Malah tidak menyisakan sedikitpun buat NU.

Kemarin juga saya laporan, "Bah, dalem (saya) bertahun-tahun hampir setiap pagi ngaji tafsir tabari, qurtubi, fakhr razi sama Abah disini, ada peluang untuk berbagi dengan yang lain, saya ikuti semua tahapannya, alhamdllah lulus, apa saya boleh lanjut?". Kata beliau lanjut, daripada dipegang Wahabi".

Sudahlah, berdirinya NU juga jelas sebagai pertahanan dan perlawanan, defensif - offensif terhadap gelombang pemurnian Islam (faktanya pendangkalan Islam) ala MD, Persis, FPUI, atau dakwah frontalnya ala FPI. Kita tahu semua itu. Tidak perlu basa-basi. Apa salahnya Prof Said Aqil mengatakan, "khatib, ...,... harus orang NU, kalau bukan orang NU, (praktek ibadah dan tradisi kita dianggap), salah semua.

Apa salahnya, wong beliau bicara dihadapan warga NU, kecuali beliau bicara dihadapan lintas ormas. Silahkan kalian politisir, kalian akan kena batunya sendiri.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Wednesday, January 30, 2019 - 21:30
Kategori Rubrik: