Menepis Hoax Masjidil Haram sudah dibuka Untuk Umum

ilustrasi

Oleh : Abdulloh Faizin

Dengan beredarnya rumor yang berseliweran di beranda saya tentang ya tidaknya Lockdown di Makkah masjid haram. Layaknya gorengan hangat empuk yang dicincang dari ketel dan siap disantap dan disajikan bersama pasukan ngeyel ibadah atas nama paling tawakal dan atas nama bela bela syiar Islam. Dan melegitimasi jamaah ditengah zona merah bahkan ada yang hampir saja memprofokasi pembakaran mushola. Miris sekali kawan.

Kemudian saya klarifikasi colega saya 'Ustad Abdul Malik beliau orang penting yang diperhitungkan bahkan sering bersama dubes arab disetiap momen beliau ada kantor di Riyadh. Kebetulan beliau bekerja di Sofhah arroisiyah dan ini link kantor resminya beliau https://www.alifta.gov.sa/Ar/Pages/default.aspx

Bahwa ternyata info yang Masjid haram yang disampaikan tetangga sebelah hoaks, masjidil harom masih Lockdown! Hanya sebagian daerah yang kemaren di buka sekali lagi bukan di Masjidil haram. Mengapa mereka menghoak ? Karena untuk melemahkan kebijakan pemerintah dan fatwa para Ulama besar saat pandemi ini terjadi. Apa himbauan Ulama dan pemerintah ? mereka menghimbau sholat jamaah dirumah saja itu apabila masjid di zona berbahaya. Dan silahkan ke Masjid jika masih zona aman dan nyaman sesuai protokol.

Bahkan klarifikasi tentang pelurusan hoak ini telah sampaikan secara resemi untuk menghindari fitnah dan kesalahan fahaam mohon di baca. saya screenshot Ini tanggapan dari Rais Masjidil Haram dan Masjid Nabawi linknya.

سبق| "شؤون الحرمين": نهيب بالجميع الحذر من الشائعات وأخذ الأخبار من مصادرها الرسمية https://sabq.org/WtC9S6

Boleh boleh saja semangat ibadah apalagi sholat jamaah namun harus paham bahaya dan kemaslahatanya. Karena bahaya dan kemaslahatan itu menjadi pertimbangan penting bagi orang yang berilmu dan orang yang memahami fiqih secara dalam melaksanakan ritual ibadah.

Sehingga muncullah kaidah kaidah kaidah darurat yang dirumuskan oleh para kiyai dan dan Ulama terkemuka setingkat imam madzhab. Yakni hal yang lazim bahkan yang wajibpun sementara bisa ditolelir dulu sampai bahaya itu reda.

Lihatlah kawan pertimbangan para Ulama Besar dalam masalah darurat.

وليس واجب بلا اقتدار ولا مُحَرَّم مع اضطرار

"Tidak menjadi kewajiban jika tidak mampu mengerjakan dan tidak ada keharaman dalam keadaan darurat ( bahaya )"

الضرورة تبيح المحظورات

“Kondisi darurat memaksa diperbolehkannya hal yang dilarang”

ما أبيح للضرورة يقدر بقدرها

“Apa saja yang diperbolehkan karena darurat, ditentukan menurut kadar bahayanya.”

Kaidah kaidah itu hanya sementara pada saat darurat saja dan mesti ada batasan Seperti di bawah ini

Syekh Muhammad Mushthafa Al-Zuhaily, seorang ulama kontemporer abad ini, yang bermukim di Damaskus, dalam kitabnya al-Qawâ‘idul Fiqhiyyah wa Tathbîqatiha fil Madzâhibil Arba’ati: 1/281 menjelaskan bahwa:

هذه القاعدة قيد لقاعدة" الضرورات تبيح المحظورات "للتنبيه على أن ما تدعو إليه الضرورة من المحظور إنما يرخص منهالقدر الذي تندفع به الضرورة فحسب، فإذا اضطر الإنسان لمحظور فليسله أن يتوسع في المحظور، بل يقتصر منه على قدر ما تندفع به الضرورة فقط، فالاضطرار إنما يبيح المحظورات بمقدار ما يدفع الخطر.

“Kaidah ini bermanfaat untuk membatasi penerapan kaidah ‘al-dlarûrâtu tubîhu al-mahdhûrât”, berfaedah memberikan tanbih (peringatan) bahwasannya hal-hal yang dilarang syara’ namun karena adanya darurat, adalah hanya dirukhshah menurut kadar bisanya menolak kedaruratan tersebut. Ketika seseorang terpaksa melakukan perkara yang dilarang syara’, maka baginya tidak boleh membuat-buat keluasan di dalam perkara tersebut, melainkan dicukupkan sekedar mampu menolak bahaya saja. Pembolehan ini hanya cukup untuk menolak kekhawatiran.

Itulah beberapa hal tentang pertimbangan dan konsekuensi hukum ibadah yang menjadi ijtihad para Ulama saat keadaan bahaya apalagi pandemi yang begitu banyak menelan korban dibutuhkan jarak dan meminimalisir kerumunan memutuskan rantai covid. Walaupun ada sekolompok jamaah arogan masih melakukanya. Karena semangat beragama minimnya pemahaman kemaslahtan Agama Seperti apa yang di sampaikan Ulama.

Terakhir ada pertanyaan besar adakah Kiyai atau Ulama besar yang punya kredibilitas dan kealiman dan kapasitas pengetahuan yang masih bicara tentang legalitas dan memberi kewenangannya jamaah di zona merah dan bahaya saat pandemi ? Jawaban tidak ! yang jelas semua Ulama hebat sepakat Ulama NU, Al Azhar, Muhammadiyahpun tidak pernah menyuarakan atau bahkan memberi fatwa ibadah di zona bahaya.

Hanya orang orang tak mau diutung saja yang tak memahami kemaslahtan keamanan dari penyakit dan kenyamanan ibadah karena mereka tidak pernah menerima dan memahami ajaran Rasulullah lewat kelembutan dan ijtihad para Ulama. Kecuali pekerja atau orang yang bekerja masih di beri kesempatan bekerja yang penting berhati hati mengikuti protap keselamatan.

Mari kita cerdas menerima informasi dan menyikapinya karena ada pepatah mengatakan hoak dibuat penipu disebar penghasut dan diterima oleh orang yang tak paham. Mari beribadah dengan ilmu dan berkepala dingin dengan keikhlasan dan merendah diri sesuai anjuran Ulama dan pemerintah.

Sumber : Status Facebook Abdulloh Faizin

Sunday, May 3, 2020 - 11:15
Kategori Rubrik: