Menentukan Awal Bulan Hijriyah

ilustrasi
Oleh : Gus Bin
 
sedikit cerita tentang perbedaan metode Hisab dan Rukyat dalam menentukan bulan baru, khususnya 1 Syawal (lebaran).. 
 
Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah.. 
 
Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang tampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi); bulan gelap.. 
 
meskipun kedua metode ini digunakan oleh Muhammadiyah dan NU, namun kecenderungan yang sering terjadi adalah bahwa Muhammadiyah lebih sering menggunakan perhitungan matematis astronomis (Hisab), sedangkan NU lebih cenderung konservatif dengan melakukan verifikasi lapangan, melihat bulan dari titik-titik pemantauan.. 
 
bisa saja hal yang berbeda diputuskan oleh kedua organisasi karena saking panjang dan luasnya wilayah Indonesia.. 
 
secara matematis, di titik tengah Indonesia (Jogja, misalnya), diprediksi belum akan terlihat hilal (bulan baru) pada malam ke 29.. namun bisa saja hal berbeda terjadi di titik pengamatan Papua atau Aceh.. pulau Rote atau Miangas.. bulan bisa saja terlihat.. 
 
atau secara matematis sudah masuk bulan baru (bulan Syawal), tetapi secara fisik, semburat lengkung bulan masih terlalu tipis untuk bisa diamati mata telanjang (atau dengan teropong sekalipun).. umumnya, penganut metode Rukyat akan mengambil posisi aman dengan menyatakan bulan belum terlihat.. 
satu tahun komariyah (lunar year), itu 12 kali siklus bulan, dan masing-masing siklus bulan itu rata-rata 29,5 hari.. itu sebabnya Cinta menyebutkan 12 kali purnama untuk menyebut 1 tahun terpisah dari Rangga.. 
 
Nabi mensyariatkan bahwa puasa bulan Ramadhan itu adalah satu bulan penuh, umumnya 29 hari..
dengan satu catatan penting: "apabila tidak terlihat bulan baru di malam ke 29, maka genapkanlah puasa menjadi 30 hari" 
 
kalender bulan (komariyah, 354 hari) memang berbeda dengan kalender matahari (samsiyah, 365 plus seperempat hari; itu sebabnya di tahun kabisat, empat tahun sekali, bulan februari sampai tanggal 29).. 
 
masalahnya begini, biasanya, kalau Muhammadiyah dengan metode Hisab menyatakan bulan baru sudah "terlihat" secara matematis di malam ke-29 saja, para pengamat hilal (umumnya Nahdhliyin) dengan metode Rukyat belum tentu bisa melihat hilal dengan mata telanjang atau alat sederhana.. 
 
apalagi kalau Muhammadiyah menyatakan di malam ke 29, hilal belum terbentuk.. hampir mustahil hilal (new moon) akan terlihat, khususnya di titik pusat yg dijadikan koordinat penghitungan Hisab/matematis astronomis.. 
 
tahun 2019 ini, Muhammadiyah sudah mengeluarkan siaran pers bahwa menurut perhitungan Hisab, lebaran 1 Syawal akan jatuh pada hari Rabu, 5 Juni 2019.. 
 
pemerintah, tanggal 3 Juni sore/malam akan melakukan sidang isbat, penentuan 1 syawal dengan mengumpulkan seluruh organisasi Islam.. 
 
kalau pos pemantauan hilal dari ujung timur sampai barat, utara sampai selatan Indonesia ada yg melaporkan melihat hilal, maka hari Selasa 4 Juni 2019 mungkin saja akan menjadi awal bulan baru, 1 Syawal 2019.. 
 
kalau tidak ada yg melihat bulan, maka puasanya digenapkan 30 hari, dan akan ada lebaran bersama di hari Rabu tanggal 5 Juni 2019.. 
 
ini belum termasuk perdebatan mengenai, misalnya, bila bulan hancur ketubruk meteor, atau melihat bulan baru dari pesawat luar angkasa, atau kita migrasi ke planet lain yang punya lebih dari satu satelit/bulan.. 
 
ada yang nanya juga, kenapa di Arab Saudi yg juga lumayan luas tidak pernah terjadi perbedaan jatuhnya bulan baru 1 Syawal? 
 
itu karena kerajaan Arab Saudi lebih otoriter dalam menetapkan keputusan bulan baru, khususnya untuk Sholat Ied.. orang-orang yg melaksanakan sholat Idul Fitri berbeda dengan ketetapan kerajaan (juga ada semacam sidang isbat), akan ditandai sebagai pihak yang tidak patuh terhadap raja, dengan segala konsekuensinya.. 
 
oh iya, harus diketahui bersama bahwa di negara-negara Arab, kebebasan bicara itu dijamin.. 
 
tapi, kebebasan sesudah bicara-lah yang nggak selalu bisa dijamin..
 
Sumber : Status Facebook Gus Bin
 
 
 
Tuesday, June 4, 2019 - 20:45
Kategori Rubrik: