Menengok Upaya Penanganan Kebakaran Hutan Era Jokowi

ilustrasi

Oleh : Awan Kurniawan

Debat capres jilid dua yang berlangsung Minggu malam 17/2/2019, melahirkan serangan massif kepada Jokowi karena dinilai keliru menyebut tiga tahun terakhir tidak ada kebakaran hutan. Memang kalau secara fakta, masih ada kebakaran hutan bahkan di tahun 2018 kemarin ini. Namun bagi mereka yang memahami seluk beluk kebakaran hutan ini, mereka paham bahwa maksud Jokowi adalah 3 tahun terakhir ini kebakaran sudah jauh reda dibanding 2015 lalu.

Tahun 2015, adalah ujian berat bagi bangsa ini, karena 261.060 hektar hutan dan lahan terbakar. Itu adalah bencana terparah yang dialami oleh masyarakat kita, khususnya di Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan. Mereka hidup terpenjara selama beberapa bulan, tidak sedikit dari mereka yang terkena penyakit ISPA. Bandara tutup berminggu-minggu. . Sekolah libur beberapa bulan.

Sebenarnya sudah sering masyarakat mengalami bencana asap, tapi tidak separah 2015, yang memang diperparah karena musim kering yang panjang dipicu oleh El Nino. Dan itu adalah ujian bagi Jokowi yang baru saja menapaki tahun pertama kepemimpinannya.

 

Dan Jokowi memulainya dengan membuat beberapa langkah yang tegas:

1. Kementrian LHK membuat surat edaran 494/2015, menghentikan semua kegiatan pembukaan gambut dan pembukaan kanal

2. Menerbitkan PermenLHK P.77/2015, mengatur pengambilalihan areal konsesi yang terbakar ke pemerintah

3. Menerbitkan Perpres No 1 Tahun 2016, pembentukan Badan Restorasi Gambut untuk memperbaiki lahan gambut

4. Menerbitkan PP 57 Tahun 2016 untuk melindungi ekosistem gambut, termasuk menjadi dasar moratorium pemanfaatan lahan gambut

5. Menerbitkan beberapa Permen LHK terkait perlindungan lahan gambut, misalnya lahan gambut dengan kedalaman tiga meter menjadi hutan lindung.

Berbagai kebijakan yang dibuat ini juga didukung dengan aktivitas pencegahan kebakaran hutan, yaitu membangun jejaring Patroli Terpadu Pengendalian Karhutla di daerah yang rawan kebakaran hutan. Tim Patroli ini terdiri dari Kementrian, Pemerintah Daerah, TNI, Polri yang didukung penuh oleh masyarakat desa rawan kebakaran hutan dan lahan.

Sebenarnya tim ini sudah ketika kebakaran tahun 2015, tetapi karena berbagai faktor termasuk cuaca yang menyebabkan kebakaran sudah terlanjur meluas, maka upaya pencegahan tak bisa banyak dilakukan, dan mereka lebih banyak membantu upaya pemadaman, yang tentu saja jauh lebih sulit.

Nah mulai 2016, Tim ini dipaksa untuk bekerja lebih awal, dengan pengawasan setiap hari yang langsung dicek oleh Menteri LHK. Dengan sinergi yang kuat, melibatkan masyarakat langsung, maka upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan ini bisa berdampak sangat positif.

Jika tahun 2015 kebakaran meliputi 261.060 hektar, maka tahun 2016 kebakaran turun drastis menjadi 14.604 hektar, dan tahun 2017 turun lagi menjadi 11.127 hektar, dan tahun 2018 turun lagi menjadi 4.666 hektar. Ada penurunan lebih dari 90% dari posisi tahun 2015.

Tentu saja faktor cuaca ikut berperan, tetapi yang tidak bisa dipungkiri adalah kolaborasi Tim Patroli Pencegahan Karhutla yang melibatkan masyarakat berhasil berkontribusi bagi turunnya luasan kebakaran secara signifikan. Ditambah dengan program restorasi gambut kita yang sukses, bahkan menjadi percontohan bagi negara lain.

Warga Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, mereka yang paling merasakan dampak positif dari turunnya luasan kebakaran hutan dan lahan ini. Ada yang sampai bergurau, dulu biasa kerja disuruh pulang karena kabut, sekolah libur berbulan-bulan, dan itu berlangsung bertahun-tahun. Tapi "masa indah" itu hilang di masa Jokowi.

Penurunan secara signifikan luasan kebakaran ini adalah hasil kerja keras dan kepemimpinan yang tegas dari Presiden Jokowi dibantu oleh Menteri yang giat bekerja dalam senyap, Siti Nurbaya, dan juga mendapat dukungan dari masyarakat luas yang giat aktif melakukan patroli pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Mereka yang mencibir penanganan kebakaran ini, sesungguhnya tidak tahu bahwa mereka juga melecehkan kerja giat tidak hanya pemerintah dan aparat, tetapi juga masyarakat yang gigih melindungi lingkungan dan kawasannya dari kebakaran hutan dan lahan.

Sumber:

https://tirto.id/indonesia-jadi-percontohan-restorasi-lahan…

http://sipongi.menlhk.go.id/hotspot/luas_kebakaran

Buku kumpulan kisah Patroli Terpadu:
http://ditjenppi.menlhk.go.id/…/admi…/dokumen/Buku_Patdu.pdf

Monday, February 18, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: