Menemukan Kesejatian Hidup

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Jadi saya bantu trensletkan curhatnya Mas Dan Price; 
Saya benci orang memakai kisah saya; yang bertumbuh dari gembel Idaho menjadi CEO milyuner.

Ada ribuan orang kayak saya yang sebenarnya kerja lebih keras dari yang saya lakukan, tapi nyatanya gagal. 
Kisah-kisah keberhasilan yang serupa saya punyai berbahaya sebab para pembawa kabar ini menjual impian palsu. Pesan tersiratnya adalah siapapun yang tidak sukses dalam perjalanannya adalah buruk- dan itu adalah karena salah mereka-.Coba perhatikan mereka yang datang dari tidak punya apa-apa menjadi sukses, alasannya apa?

Padahal di kenyataannya, keberhasilan itu sangat berkaitan dengan kesempatan dan keberuntungan. Dan tidak semua orang memilikinya.

tautan bisa dilihat di sini
https://m.facebook.com/groups/NextUpAsia/permalink/10157864898531657/

Kadang saya berpikir, enak ya jualan ludah. Jaman pertama kali saya terima honor pembicara (which is nilainya hampir sama harga setengah lusin sultana), saya bilang ke suami dengan penuh semangat dan mata bersinar-sinar cahaya duit; 
Ngoceh depan orang itu lebih gampang daripada bikin kue hahaha...

Ngasih tahu manusia lain lu kudu begini lu kudu begitu biar cepat sukses ituuuu mudah saja. Kek ada sombong-sombongnya juga bisa, toh itu pengalaman sendiri bukan sekadar teori. Melihat orang manggut-manggut entah paham, terkesima atau sebenarnya cuma kagum sama gaya bicaramu, kadang jadi euforia tersendiri. 

Tapi ke belakang saya sadar, ndak semua orang bisa plek mengikuti jejakmu. Biarpun usahanya sama besar, biarpun sumber dayanya ada. Contohnya ndak semua orang bisa luwes jualan secara story telling atau soft selling, kadang membuat satu paragraf saja bikin mereka galau seharian. Ndak semua orang tahan banting dan punya urat malu yang kadang sudah hampir putus, ndak semua orang bisa menerima tekanan di media sosial semacam sedikit respon likes dan komentar atau bahkan dibully orang asing. 

Mbak Nia yang bakul tersohor di pulau Jawa juga pernah menegaskan di kolom komentar postingannya; jumlah followers juga menunjang keberhasilan seorang penjual. Yes, itu benar adanya. Kan bisa beli followers, kak? Oh bisa, tapi ngapain? Likes banyak, duit habis beli followers bodong tapi di kenyataannya produk jualan kita nggak beneran ada yang beli. Beli followers itu semu adanya. 

Trus di suatu ketika saya didaulat berbicara di kota lain, di depan seratus lebih mahasiswa baru. Diminta memotivasi mereka, bagaimana caranya nanti mereka lulus jangan mentok berpikir cukup jadi PNS saja. Bukan merendahkan PNS ya, tapi Bapak Dekan berharap anak-anak didiknya nanti bisa jadi pencetus terbukanya banyak lapangan kerja sebab di kota itu konon menjadi PNS dipandang sangat prestisius. 

Saya buka sesi pertanyaan. Salah satu mahasiswa curhat, ia punya ide produk, ia bahkan sudah mencoba membuat. Ia terkendala modal, terkendala lokasi yang jauh, sumber daya lain-lain minim. Ia kurang lebih butuh support yang cukup besar, plus kesempatan untuk mengenalkan produknya kepada dunia. Saya seolah kena tampar, enak bener saya selama ini bicara soal kalian mesti begini, kalian harusnya begitu, toh waktu saya memulai bisnis kue ini, saya punya sumber daya dan modal yang cukup. Tidak berlebihan tapi cukup untuk dipakai berlari. Keberuntungan lainnya, saya punya bakat menulis dan luwes menggunakan media sosial sebagai alat promosi. Dari 1500 kawan di media sosial saya mulai berjualan, hingga bertambah nyaris lima ribu kawan dan sampai kini 14rb followers yang didapat dari postingan-postingan saya yang berseliweran sekaligus pelanggan yang membantu promosi. 

Tidak semua orang bisa semudah itu mencapainya, tidak semua orang bisa konsisten menulis setiap hari, sekian tahun. Atau dapat kepercayaan diendorse seleb fesbuk yang bisa membuatmu bertambah followers sampai ratusan orang dalam sehari saja.

Maka saya akhirnya mengerti, jualan ludah itu sebenarnya punya beban moral tersendiri. Kalau yang kamu motivasi nggak kunjung berhasil, jangan sampai mereka justru menganggap diri mereka memang bodoh dan nggak bisa. Memotivasi orang juga semacam nempel post it di dinding kamar kamu sendiri, kamu kudu konsisten sama omonganmu. Minimal jangan merosot dari cerita keberhasilan yang kamu semburkan kemarin. 

Berat toh? Berat. 

Maka kadang di kelas menulis para bakulan newbie saya berpanjang sabar jika menemukan ada saja peserta yang menggunakan tanda baca saja masih ngawur. Naruh koma bingung mesti di mana, apa bedanya sama titik. Atau yang ngasih pertanyaan spektakuler macam bagaimana caranya cepat ngumpulin followers sementara menulis satu kali sehari saja ia rasanya berat. 

Lain cerita lagi jika saya balik ke dapur saya sendiri. Ada lima asisten di sana, empat orang itu orang-orang lama. Jikalau saya menjual mimpi mereka bisa sukses percis kayak saya, yakin mereka akan stres sendiri. Saya pun. Penghasilan karyawan mau diadu dengan penghasilan bos itu bagaimana? Privilege yang saya dapatkan dengan yang mereka dapatkan juga beda. Mereka tiap hari konsen membuat kue di ruang produksi, saya tiap hari ngider keliling dunia lewat medsos. Nama saya semakin dikenal, mereka tetap sunyi senyap terkecuali saya mention nama mereka sesekali. 

Saya ngajarin anak dapur saya menabung dan mengelola uang sedari tahun pertama membuka toko ini. Berhasil? Kagak juga. Satu dua jarang banget kasbon, oh karena satunya punya support system keluarga yang cukup baik, satunya memang sudah terbiasa mengelola uang. Yang lain ada macam-macam alasan gagalnya. Boro-boro punya support system, merekalah yang jadi tulang punggung sekaligus tulang rusuk dan tulang-tulang lainnya di keluarga mereka. Palingan saya ajari disiplin dengan kasih aturan minimal kasbon 500 rb dan kasbon mulai tanggal 10 bulan berjalan. Pas tanggal 10, 500rb itu langsung dieksekusi wkwkwk...

Maka beban yang saya pilih untuk dpikul adalah saya mentransfer ilmunya saja, tidak fokus pada kalian harus sukses kayak Bu Mimi. Mereka belajar tekniknya, latihan, melakukan pengulangan dan membaik seiring waktu. Keterampilan bertambah signifikan dengan hasil yang lebih baik, saya apresiasi dengan naik gaji atau hadiah. Dan yang terutama adalah rasa percaya diri mereka timbul dan tetap melekat. 

Tidak bisa cepat kaya raya tapi bisa bekerja maksimal dengan kepala tegak dan rasa bangga, pulang membawa hasil yang cukup untuk keluarga, kerja dalam suasana yang nyaman dan selalu dapat dukungan dari atasan, itu sudah baik sekali. Saya bahkan menghindari menggunakan kata miskin demi memotivasi mereka. Saya kuatir mereka salah mengolah ucapan saya hingga bukannya termotivasi malah membuat harga diri dan kepercayaan diri mereka merosot. Seolah menjadi miskin itu salah, sebuah kemalangan dan Tuhan sungguh tidak adil.

Dari tidak ada menjadi ada. Dari tidak bisa menjadi bisa. Dari bisa menjadi pintar. Begitu seterusnya. Bahwa kerja-kerja biarpun kecil nilai dan hasilnya tetap dihitung ibadah. Menafkahi keluarga pun adalah jihad terdekat. Kalau mereka gagal misalnya, kasih semangat lagi bahwa besok mereka masih punya peluang untuk mencoba lebih baik.

Medan peperangan yang kita hadapi setiap hari adalah berbeda. Pilihan paling sederhana untuk berkontribusi terhadap sesama adalah tetap saling menyemangati dan saling mendoakan.

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Wednesday, April 7, 2021 - 11:45
Kategori Rubrik: