Menelususri Jejak MCA

Oleh : Ismail Fahmi

(Sambungan dari tulisan sebelumnya berjudul The War on MCA)

Selama periode 2017, kita bisa melihat mention terkait MCA bersama isu yang lain secara konsisten selalu muncul. Di sana ada beberapa puncak trend, yang kalau kita lihat, itu menandakan peristiwa2 besar yang melibatkan MCA.

Misalnya, 17 Januari, ada seruan HRS terkait GMBI; 20 Mei dengan peak tertinggi di tahun itu, soal kasus chat mesum HRS; 23 Agustus juga peak tinggi, dimana warming-up Polri dalam menumpas hoax, dengan mengumumkan penangkapan sindikat Saracen; dan di akhir tahun tentang aksi bela Palestina.

MASA SEBELUM "MCA"

Sebelum nama MCA muncul, apakah yang menjadi cikal bakal jaringan ini?

Kita lihat SNA dari peristiwa Aksi 411 dan Aksi 212. Dalam persiapan Aksi 411, dari 17-31 Oktober 2016, kita lihat cluster Pro Aksi dikomandoi oleh akun-akun terkait FPI dan HRS. Akun yang lain adalah buzzer yang akan mengamplifiksi pesan kepada publik. Demikian juga dalam persiapan Aksi 212, akun HRS merupakan akun penting di sana. Pernyataan HRS dan ceramahnya yang mengajak umat melakukan perang cyber, menjadi motivator dari cluster ini.

Dari situ kita bisa lihat bahwa sebelum MCA, akun FPI dan HRS adalah sentral dari cluster yang sering mengkritik pemerintah di media sosial. Bersama akun ini, ada akun2 lain dari berbagai kalangan yang mengamplifikasi. Bukan hanya dari salah satu partai, golongan, atau organisasi. Tapi lintas organisasi.

 

POSISI "MCA" DALAM PILKADA DKI

Kita ambil contoh salah satu SNA yang pernah dipublish Drone Emprit, yaitu pada tanggal 7-8 Februari pada saat debat pilkada. Dalam peta itu, kita lihat ada 4 cluster. Bukankah seharusnya ada 3 cluster, yang masing-masing adalah tim dari paslon yang bertanding?

Ternyata ada cluster keempat. Cluster ini secara jelas terpisah dari ketiga cluster lainnya. Dari analisis lebih dalam, cluster ini ternyata fokusnya hanya satu: menyerang cluser Ahok. Goal mereka adalah "asal bukan Ahok".

Cluster ini tak tampak dalam mempromosikan dua paslon lawan Ahok. Ini adalah cluster MCA, dimana di dalamnya bergabung warganet dari berbagai kalangan yang memiliki goal yang sama.

 

THE WAR ON "MCA"

Sekarang kita analisis kejadian seminggu terakhir, dimana Polri mengumumkan penangkapan anggota MCA.

Dari grafik trend antara 23 Feb sd 4 Maret 2018, kita lihat trend naik tentang MCA terjadi mulai tanggal 27 Feb. Saat itu diberitakan bahwa Polri menangkap 14 anggota MCA dari berbagai kota di Indonesia. Berita itu langsung viral.

Kita lihat dan analisis percakapan ini dari hari per hari. Mulai tanggal 26 Feb. Saat itu, dunia MCA masih aman damai. Bahkan cluster MCA mendiskusikan ide untuk membuat aplikasi setara FB khusus untuk dakwah umat Islam di Indonesia. Sedangkan cluster Pro Pemerintah dimotori oleh @digembok, banyak mengungkap hasil profiling terhadap anggota dan motor MCA. Tujuannya untuk mendelegitimasi MCA dan menjatuhkan.

Pada tanggal 27 Feb 2018, hari H penangkapan anggota MCA yang dituduh menyebarkan hoax, top retweet didominasi oleh akun-akun yang pro pemerintah. Mereka secara massif memberi label bahwa MCA adalah "produsen hoax" yang tidak bisa lagi dipercaya.

Tentunya berita penangkapan ini akan membuat anggota MCA malu, karena jaringan, motif dan rahasia mereka terbongkar seiring dengan ditangkapnya pentolan mereka. Ini yang diharapkan. Dan kemudian publik tidak lagi percaya pada MCA.

Apakah benar seperti itu? Dari grafik SNA tanggal 27 Feb, kita lihat ternyata polarisasi cluster di sana hampir sama kuatnya. Cluster yang Pro Pemerintah memang lebih besar. Namun, untuk ukuran masifnya berita penangkapan, harusnya cluster MCA jauh lebih kecil. Kenyataannya, cluster MCA tetap besar.

Pada hari-hari berikutnya, kita bisa lihat SNA pada tanggal 28 Feb, 2 Maret, dan 3 Maret. Dalam setiap peta SNA, kita lihat cluster MCA bukannya makin kecil. Tetapi malah makin besar, mengimbangi cluster Pro Pemerintah. Dan bahkan kadang melebihi cluster lawannya.

 

Untuk tujuan “melemahkan MCA”, peta SNA tersebut memperlihatkan bahwa tujuan ini sulit tercapai. Sejak hari H penangkapan, warganet dalam cluster MCA bukannya malu menyatakan dirinya sebagai anggota MCA lalu bersembunyi, malah sebaliknya mereka diserukan oleh akun HRS untuk tetap maju dan tidak takut dalam pertempuran. Cluster MCA bukannya mengecil, tetapi tetap seimbang melawan cluster Pro Pemerintah, bahkan kadang lebih besar.

 

STRATEGI MASING-MASING CLUSTER

Cluster Pro Pemerintah berusaha membangun asosiasi “MCA pembuat Hoax” agar tidak dipercaya lagi oleh public. Dan sebaliknya, cluster MCA melakukan kontra narasi dengan menyatakan bahwa “MCA yang asli itu melawan fitnah.”

Cluster Pro Pemerintah membongkar profile mereka yang ditangkap oleh Polri, melalui jejak digital yang mereka kumpulkan. Ada beberapa akun khusus yang bertugas untuk membukanya. Sedangkan cluster MCA melihat titik celah dari tuduhan, serangan dan informasi yang dibuka oleh lawannya, lalu menggunakan celah yang ditemukan untuk menyerang balik. Misal, pernyataan Polri bahwa “salah satu anggota yang ditangkap sudah bergabung dengan MCA sejak 5 tahun yang lalu,” ini dimanfaatkan baik-baik untuk menyerang, dengan kontra narasi bahwa MCA baru ulang tahun sekali.

Polri menunjukkan bahwa MCA memiliki admin salah satunya “M Luth”. Cluster MCA melakukan kontra narasi dengan menyatakan bahwa akun @Cak_Luth itu adalah milik orang yang ditangkap Polri, yang ternyata adalah anggota Jasmev dan PSI. Saya tidak tahu apakah klaim MCA ini benar atau tidak, perlu dicek lagi. Tapi inilah strategi mereka.

AS dari cluster Pro Pemerintah turut menyebar foto yang memperlihatkan “sosok” mirip salah satu admin MCA yang ditangkap ternyata memiliki “asosiasi” dengan salah satu tokoh (FZ dan PS) dan partai tertentu. Cluster MCA melihat ada celah untuk melakukan kontra narasi, dengan menyatakan bahwa orang itu adalah salah satu fans PS yang rela berjalan kaki jauh-jauh ke Jakarta untuk bertemu dengan PS. Dan celah ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh FZ, dengan melaporkan AS ke kepolisian atas hoax/fitnah yang diserbar AS.

Dari tik-tak strategi tempur seperti di atas, akhirnya tak tampak lagi tujuan "memerangi hoax". Tembakan jadi semakin liar, kemana-mana. Mungkin itu tujuannya?

 

CLOSING

Menurut saya, penangkapan anggota MCA yang dilakukan oleh Polri ini sebuah pertaruhan serius. Jika Polri bisa membuktikan bahwa MCA adalah sebuah jaringan yang ada penyandang dananya, ada tim inti, operator di lapangan, dan simpatisan, maka ini bisa mendelegitimasi MCA. MCA bisa diasosiasikan oleh public sebagai “pabrik hoax” yang tidak lagi dipercaya.

 

Namun jika ternyata MCA yang asli itu berbeda (sedikit atau banyak) dari yang dituduhkan oleh Polri, maka MCA akan bisa mendapatkan momentumnya untuk bangkit kembali dan lebih solid.

Hal positif yang saya lihat dari kasus ini adalah soal “perang melawan hoax”. Harusnya ini yang lebih dominan, lebih ditekankan oleh Polri dan semua pihak. Jika ini dilakukan, maka kita bisa bersama-sama, kedua cluster satu pandangan, untuk menghentikan pembuatan dan penyebaran hoax. Efek jera bisa menjadi fungsi control, karena hukum akan ditegakkan oleh Polri terhadap siapapun yang membuat hoax dan fitnah. Siapapun, artinya dari cluster manapun.

Namun yang saya tangkap, perang ini sepertinya lebih condong sebagai "The War on MCA". Perang pembangunan asosiasi bahwa "MCA = Pabrik Hoax". Bukan "The War On Hoax", dimana siapapun, cluster manapun, punya potensi menjadi "Pabrik Hoax."

Jika ternyata memang ada 2 jenis MCA, karena sifatnya yang terbuka dan tak terkontrol anggotanya, yaitu “produsen kritik” dan “produsen hoax”, maka ini adalah momentum untuk menghabisi ”MCA produsen hoax” dan ke depan MCA bisa lebih serius menjadi “produsen kritik.” Kritik yang cerdas, berbasis data.

Mungkinkah?

PS:

Monggo kalau mau meninggalkan komen atau diskusi di sini. Saya mungkin tidak bisa response semua, tapi saya baca. Kalau postingan soal kuliner, biasanya saya reponse satu-satu

Sumber :  Facebook Ismail Fahmi

 

 

 

Tuesday, March 6, 2018 - 13:00
Kategori Rubrik: