Menelisik Konsistensi Nyinyirnya Jonru

Ilustrasi

Oleh : Eyang Judiarso

Pernah suatu ketika saya tengok akun jonru yang isinya banyak sekali status nyinyir ke tokoh-tokoh yang itu-itu saja. Saya jadi berpikir, ini orang produktif sekali mengupdate status, bahkan terkesan sangat aktif mengikuti perkembangan berita politik tanah air. Apa waktunya tidak habis untuk facebookan saja? Kalau iya, lantas bagaimana dengan urusan-urusan lainnya?

Saya pun mencoba berusaha menyaingi jonru. Hasilnya, saya semakin paham bahwa saya harus banyak baca link di google maupun facebook, bahkan nonton berita di televisi atau kalau tidak ya browsing berita politik di youtube. Dari info2 yang saya dapatkan, saya olah untuk menghasilkan tulisan2 di status facebook saya. Dan hasilnya memang seperti yang saya asumsikan sebelumnya, waktu saya habis cuma untuk facebook.

Saya tidak ada yang membayar, makanya jika saya bikin status yang mengomentari fenomena terkini terkait politik dan agama, itu sifatnya disesuaikan dgn kondisi. Kalau lagi sibuk ya tidak bikin status. Kalau ada waktu dan minat baru saya update status. Kalau saya bandingkan dgn aktivitas jonru, saya menyerah kalau diadu dalam hal produktivitas. Saya jadi berpikir, tidaklah mungkin kalau jonru bikin status yang mendiskreditkan pemerintah itu tidak ada uang masuk sebagai imbalan. Rugi besar kalau gratisan begitu saja karena overproduktif dalam mengupdate status sejak kampanye pilpres sampai beberapa waktu yang lalu secara konsisten itu tidak hanya menyita waktu tapi juga energi dan pikiran.

Sempat saya baca juga berita bahwa sejak jonru ditahan pihak yang berwajib, ekonomi rumah tangga jonru jadi terganggu sehingga ada pihak yang mengumumkan bahwa keluarga jonru membutuhkan bantuan keuangan berupa sumbangan. Saya juga tidak lupa check akun jonru ternyata memang sedang vaacum alias libur dari update status ghibahnya. Dari kejadian spt ini, saya coba menarik kesimpulan antara lain,

1. Jonru bukan orang gratisan dalam aktivitasnya di facebook yang banyak mendiskreditkan pihak tertentu secara konsisten sekaligus konsisten juga menghindari mengkritik rival politik dari pihak2 yang didiskreditkan jonru. Misalnya Jonru konsisten menjelek2kan Jokowi, Jonru pun otomatis konsisten menghindari menjelek2kan Prabowo. Demikian juga jika Jonru mendiskreditkan Ahok, sulit diharap Jonru akan mendiskreditkan Anies atau Agus, Yusril, Haji Lulung, atau tokoh2 politik rival Ahok lainnya. Kalau dihubungkan dengan agama islam, ini jelas tidak bisa disebut aplikasi ajaran islam krn islam mengajarkan keadilan.

Beda kalau Jokowi secara licik menzalimi Prabowo atau Ahok menzalimi rival2nya lalu jonru konsisten menyerang jokowi dan Ahok. Tapi faktanya tidak demikian. Jokowi dan Ahoklah yang banyak diganggu lawan politiknya secara tidak fair. Kalau sudah habis2an membela rival Jokowi dan Ahok, rugi kalau Jonru tidak mendapat bayaran.

Dibayarpun kalau cuma sedikit juga masih rugi karena keluarganya butuh nafkah juga. Jika dicarikan dalih seperti Jonru jadi populer sehingga bisa bikin seminar dan dapat duit, berapa duit yang dia dapat dari seminar yang pernah dia gelar yang cuma dihadiri beberapa gelintir orang saja? Dia jual buku karangan sendiri? Tidak ada laporan dia untung berapa. Sulit diklaim bahwa Jonru bisa hidup mandiri tanpa bayaran dari pihak tertentu yang selama ini dibelanya. Saya pernah tanyakan itu di statusnya hasilnya saya diblokir.

2. Jonru sering bawa2 label islam untuk kedok sehingga tulisan2 ghibah yang dia hasilkan terkesan sesuai dengan ajaran islam. Saya bisa simpulkan bahwa itu bukan hanya lebay tapi juga penistaan terhadap ajaran islam. Islam tidak mengajarkan sebutan cebong kepada orang lain atau banyak mencela apalagi sesama muslim. Banyak ayat alquran yang diabaikan jonru misalnya surat alhujurat : 11 yang isinya larangan menyebut orang dengan sebutan yang menyakitkan karena itu perbuatan fasik. Fasik maksudnya sudah tahu ada aturan larangannya tapi tetap dilakukan.

Mgkn Allah masih mudah memaafkan kefasikan tertentu, tapi kalau sudah mengatasnamakan islam bisa beda lagi urusannya. Islam bukan agama untuk main-main. Walaupun Allah itu memang maha pemaaf, tapi siksaNya sangat pedih. Islam juga tidak mengajarkan bahwa ghibah semakin banyak semakin baik. Justru ghibah itu dilarang kecuali untuk sejumlah hal tertentu.

Mustinya kalau memang sungguh2 menerapkan ajaran islam, ghibahnya dikurangi bukan malah overproduktif dan bangga dengan slogan mari menjonru. Kebanyakan ghibah resikonya menghabisi banyak waktu pribadi untuk koreksi diri. Tentu itu bukan cara hidup yg syar'i.

3. Jonru sekarang berurusan dengan aparat hukum terkait aktivitas ghibahnya yang memang banyak menyebar kebencian dan hasutan yang dapat merusak stabilitas politik nasional dan persatuan NKRI. Apakah ini kabar baik atau kabar buruk? Menurut saya kabar baik. Kalau orang semacam jonru semakin banyak di bumi pertiwi ini, facebook bukannya semakin banyak memberi manfaat buat anak2 bangsa malah semakin potensial menjadi ajang maksiat.

Karena semakin banyak orang mudah mencaci maki orang dan mengesampingkan pentingnya memupuk semangat persatuan baik antar umat beragama maupun antar umat seagama.

Sumber : Status Facebook Eyang Judiarso dengan judul asli Jonru

Saturday, October 21, 2017 - 19:15
Kategori Rubrik: