Menelisik Kesalahan Soekarno, Soeharto dan Kita Dalam Menelisik Pancasila

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Soekarno memang terhitung memberikan pidato 1 Juni 1945 tentang Pandangan dunia bangsa nusantara. Tapi yang lain seperti Muhamad Yamin juga mengemukakan konsep pandangan dunia juga. Namanya musyawarah tentu ada banyak orang. Tapi dalam menafsir Pancasila
dan untuk prakteknya, Seokarno pernah gagal di Nasakom. Ternyata komunis tertolak oleh Pancasila. Sejarah mencatat realitas itu.

Kalau dengan Barat yang kapitalis imperialis Soekarno memang anti. Justru kita merdeka karena melawan mereka. Kita dijajah justru oleh karena adanya konsep Imperialisme kolonialisme, yang berakar dari pemikiran materialisme, positifisme, empirisisme, pragmstisme dan relatifisme. Soekarno tergiur oleh kemasan keadilan yang ada dalam komunisme. Padahal ibu kandung komunisme adalah pikiran Karl Marx dan Fredrick Engel tentang materialisme dialektika (jadali). Ketergiuran inilah kesalahan dia. Tapi ambil saja hikmatnya, Indonesia masih utuh sampai dia turun tahta. Letak kejahatan komunisme ada pada menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan. Berkedok revolusi yang totalitarian. Untuk komunis mendapat kekuasaan harus bunuh banyak sekali manusia.

Kesalahan Soeharto dalam menafsir Pancasila, adalah karena dia hendak memperalatnya. Ini sama fatalnya dengan ketergiuran Soekarno pada bungkus keadilan komunisme. Ini satu irisan dengan upaya menjadikan agama sebatas sebagai alat politik merebut kekuasaan. Model gerakan PKS di Indonesia sama dengan Ihwanul Muslimin di Mesir. Tapi Indonesia bukan Mesir atau Turki. Kecenderungan manusia membuat ikhtilaf pada sebuah manifesto yang sudah benar. Menta'wil sesuatu yang disepakati orang banyak tentang kebaikannya. Termasuk juga Pancasila. Oleh Soeharto dipakai sebagai alat menghegemoni setiap kekuatan politik yang dianggapnya akan membahayakan kekuasaannya. Dikawal oleh UU Anti-Subversif. Musuh-musuhnya akan dijustifikasi sebagai Anti-Pancasila. Hal ini sama irisannya dengan pemahaman kelompok takfiri. Yang merasa Islam yang benar hanya milik mereka. Yang lain cuma ngontrak atau kost. Jadi kalau Mbak Tutut berfoto pakai bendera khilafah, jangan kaget. Karena irisan substansinya sejak bapaknya memang begitu.

Komunisme mengkemas dirinya dengan keadilan. Khilafah mengkemas dirinya
dengan verbalisasi kitab suci. Sasarannya bagaimana merebut kekuasaan. Namanya umpam sebisa mungkin dapat menarik korbannya. Makanya rakyat harus terus menjaga kewaspadaan. Jangan berhenti memakrifati segala sesuatu. Kewajiban agama yang tak dibatasi waktu adalah menuntut ilmu. Beda dengan kewajiban jaksa,
yang menuntut terdakwa.

Coba buat satu pertanyaan. Mengapa bangsa Indian (kulit merah) habis oleh hegemoni kulit putih di Amerika, tapi bangsa Nusantara tidak ? Ada rahasia apa dibalik ini semua ?
Sejarah peradaban selalu meninggalkan bekas-bekasnya untuk menjadi pelajaran bagi manusia setelahnya. Ada apa dengan Boyolali, yang jangan sampai terlupakan. Ada Pengging dan Sayyid Andaraningrat. Habib Kebo Kenongo dan Habib Siti Jenar. Retno Pambayun, Tanah Majapahit yang ditanami benih Buaya Putih. Nusantara dengan belasan ribu pulau yang seperti rakit (ghetek). Dipajang ke permukaan oleh Habib Joko Tingkir. Habib Benowo yang meninggalkan tahta Pajang merintis pesantren. Menyalakan suluh perlawanan rakyat yang tak kunjung padam sampai sekarang. Nusantata adalah Qit'un Mutajawirah. Potongan bumi yang padan, yang menyimpan seluruh cerita bumi.

Memakrifati bangsa dan negeri perlu terus dilakukan. Laut telah memberi pelajaran, bahwa yang buih akan sirna, yang bermanfaat bagi manusia akan tetap tinggal. Kerajaan Sulaiman yang tak tertandingi telah sirna, menjadi kenestapaan bangsa Yahudi ketika mengenangnya. Kerajaan Otoman juga, abad kejayaan khilafah sudah dilewati perjalanan sejarah. Ada patung tongkat Nabi Sulaiman di relif Candi Borobudur. Ada bekas tentara Turki di perang Padri. Bahkan ada kata kafur (Barus) dalam surah Al Insan (QS : 76). Ada jejak kayu jati Nusantara di perahu nabi Nuh.

Di zaman sedang memuncaknya kejayaan Barat, lihatlah kepada patung Pahlawan Revolusi. Jenderal-jenderal kita benteng nagari yang menjadi korban fitnah, dibunuh oleh kopralnya sendiri. Kalau jenderal saja bisa dibikin begini apalagi yang sipil. Setan pasti tak akan tinggal diam membiarkan bangsa Berketuhanan Yang Maha Esa ini tanpa gangguan. Membujuk anak-anak bangsa dengan iming-iming harta tahta agar mau bersekongkol dengannya.

Santri Kalong : Jadi bagaimana seharusnya kita menafsir Pancasila ?

Kang Mat : Makrifati dengan akal dan hatimu, sebisa kau mampu memakrifatinya sesuai kadarmu sendiri. Karena seluruh tafsir Al Quran pun itu hanya benar sebatas yang dapat dijangkau oleh ilmu penafrirnya. Milik Allah lah pengetahuan khazanah alam ghaib.

Pace Yaklep : Kitong hidup bisa baku lihat antar sesama kita. Itu sudah Pancasila.

Kang Mat : Yoooo, Pace. Mainkan sudah.

Pace Yaklep : Tapi kenapa ya kita disini rakyat terzalimi terus. Apa yang salah ya ?

Kang Mat : Untuk itulah saya menemani dukamu disini saudaraku. Perlu Presiden yang
memakrifati persoalan kita dan berani. Tak mungkin orang teriak kalau tak ada yang injak.
Bangsa ini sedang sesak nafas terhimpit efek materialisme yang sudah menjalar ke sekujur
tubuhnya. Hidup bukan lagi dengan jatidirinya, malainkan sebagai faham orang lain yang telah disuntikan sejak Orde Baru.

Bung Cebong : Jadi UU tentang Pancasila atau nisbat apapun pada Pancasila, stop ya Kang.

Kang Mat : Stop.
Negara fokus saja pada tugasnya. Melindungi segenap tumpah darah. Mencerdaskan kehidupan bangsa. Memajukan kesejahteraan umum. Ikut serta dalam ketertiban dunia. Jangan malah ko sendiri yang bikin kaco.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Saturday, July 11, 2020 - 12:00
Kategori Rubrik: