Menelanjangi Kebobrokan

Oleh: Iyyas Subiakto
Kurus kerempeng, plonga plongo( cibiran org yg merasa lbh bermoral ), bukan keturunan kelas atas, masa kecil sampai kuliah hidup dalam keprihatinan, bermukim di bantaran kali Surakarta dalam rumah kontrakan yg berdinding tepas dgn menahan hawa dingin malam yg masuk dari celah dinding rumah, makan 3 kali sehari adalah sebuah kemewahan.
Dia menelan diam semua caci maki, fitnah dan hinaan, seolah jadi nutrisi hatinya, dan itulah silent factor yg menjadikannya unggul dari lawan politik yg berisik sampai tak berkutik.
 
Ahok, dilahirkan di lingkungan 93% masyarakat muslim di kampungnya, penganut Kristen taat ini lahir dari keluarga berada tapi bersahaja, orang tuanya bgt dikenal karena kedermawanannya.
Pernah akan keluar Indonesia karena kesalnya kepada manusia disekitarnya yg moralnya lebih rendah dari manusia pada umumnya. Namun orang tuanya menahannya dan mengatakan, bahwa Indonesia adalah tanah air dimana dia dilahirkan, kalau merasa ada yg tak beres, bukannya lari, tapi harus bertahan dan benahi, masuklah ke politik dan buatlah perubahan, itulah pesan Indra Tjahaja Purnama, ayahanda Basuki Tjahaya Purnama.
Jokowi memulai karir politik menjadi walikota Solo, Gubernur DKI dan Presiden, BTP memulai dgn menjadi Bupati Blitong, anggota DPR RI, wagub DKI, lalu di kerdilkan memakai dalil agama yg di rekayasa, MUI punya kontribusi akan hal ini dgn mengeluarkan fatwa, tak usah kita sebut siapa ketuanya, tapi itulah sebuah insiden yg menghempaskan Indonesia, menolak kebenaran, menikmati keburukan. NYAMAR MAKRUF, NYAMBI MUNGKAR.
Kita nyaris kehilangan dua orang handal menghadapi begal berandal, yg lama melahap Indonesia dgn topeng kepura-puraan yg sempurna, Ahok sempat dijegal untung akalnya kenyal dan dia tak takut cekalan dan gertakan kaum pembegal berjubah agama yg mengaku penguasa surga berkelakuan kera. Mereka munafik dan fasik kelas dewa.
Kita lihat dgn akal sehat jgn dgn akal sesat, apa yg telah mereka berdua perbuat. Bak Naga bertapa dari dasar samudra, kehadiran keduanya merubah Indonesia dari Indonesia yg pura-pura menuju Indonesia yg sebenarnya, sebuah bangsa besar berpondasi kekar mengakar kehadirannya disegani dunia, bukan ada dan tiada seperti halnya 42 tahun saat dikelola manusia durjana yg mengaku Arjuna.
Gangguan demi ganggguan sampai kini terus dilancarkan, tapi sekarang kita bs melihat dgn terang benderang, manusia sejenis yg mencoba menjadi penghalang derap langkah Indonesia, merekalah musuh kita bersama, apakah bendera mereka FPI, HTI, atau KAMI, kesadaran kita harus prima karena mereka sdg bermimpi kembali untuk berjaya seperti masa Orba. No way, 42 thn sudah cukup kita di samun.
Tidak ada lagi waktu untuk bercanda, kita harus terjaga, karena Cell mereka masih terus ada mengincar Indonesia untuk di jadikan santapan bersama. Tidak ada jalan lain, selain kita lawan mereka. Penolakan deklarasi KAMI dimana-mana sudah menandakan kita makin sadar akan kehadiran manusia bobrok mengaku penyelamat, tapi hatinya pengkhianat.
Jokowi boleh bertelanjang kaki, tapi langkahnya terus menelanjangi kebobrokan yg terjadi. Basuki Tjahaya Purnama memulai mengobok Pertamina, sekarang Tikusnya mulai kelihatan semua. Tapi kita belum bisa berleha-leha, karena waktunya Jokowi dan Basuki tak lama lagi, makanya kita harus meminta mereka berdua bisa lanjut ke priode berikutnya. Ini sebuah keharusan agar kerja nyata tak berhenti ditengah jalan, ini bukan masalah kekuasaan, tapi lebih kepada keberlangsungan membangun pondasi kebenaran dan kebaikan. Dan semuanya untuk BANGSA INDONESIA YANG DIGDAYA, BUKAN BANGSA YANG DIPERDAYA.
 
(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)
Tuesday, September 22, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: