Meneladani Komitmen Kebangsaan Mbah Maimoen Zubair

ilustrasi

Oleh : Mamang Haerudin

Maimoen Zubair namanya. Kiai Haji merupakan gelar kehormatan dari kami untuk beliau, sosok panutan keluarga, santri, warga Nahdliyin dan bangsa ini. Sosok kiai dan ulama yang istikamah dan mempunyai komitmen kebangsaan yang kuat terhadap Indonesia. Keilmuan dan keteladanannya sungguh sangat mengesankan, apalagi di tengah menguatnya ideologi keislaman fundamentalis-radikal. Di mana narasi dan aksi intoleran begitu marak terjadi sampai hari ini. Dan karena itulah, saya dan saya pikir kita semua sangat berduka atas kepulangan Mbah KH. Maimoen Zubair atas panggilan Allah Swt. Ya hari ini, Selasa, 6 Agustus 2019, beliau wafat. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

Mbah Maimoen sendiri dikenal sebagai kiai yang mengasuh sebuah Pesantren. Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Pesantren yang sampai hari ini dihuni ribuan santri yang datang dari segala penjuru negeri. Selain mengepalai keluarga besar dan mendidik para santrinya, Mba Maimoen juga dikenal sebagai sesepuh di kepengurusan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Jadi nyaris Mbah Maimoen merupakan kiai yang berpengaruh dan berkontribusi besar secara nyata terhadap bangsa ini. Sekurangnya dalam kancah pendidikan di Pesantren dan politik di PPP. Sehingga ketika PPP didera konflik internal sekalipun, saya yakin Mbah Maimoen-lah pemecah kebuntuan konflik internal tersebut.

Bagi para santri dan warga Nahdliyin, yang sering menyimak mauizhah hasanah di berbagai kesempatan, beliau adalah kiai yang sangat kukuh dengan komitmen kebangsaan. Indonesia sebagai Negara-bangsa bukan Negara-agama. Kita bisa melacak banyak mauizhah hasanahnya Mbah Maimoen di kanal Youtube. Petuah-petuahnya yang lain soal menjemput rezeki, keutamaan menikah, menjaga NKRI dan lain sebagainya menunjukkan betapa alimnya Mbah Maimoen. Setiap hari mendidik para santri dan setiap hari itu pula beliau banyak menerima tamu dari berbagai kalangan dan status sosial.

Dalam salah satu kesempatan menyampaikan mauizhah hasanah. Mbah Maimoen pernah menyampaikan keutamaan orang yang meninggal dunia pada hari Selasa. Dan sebagaimana kita ketahui, bahwa beliau wafat hari ini pada hari Selasa. Subhanallah. Beliau wafat manakala sedang berada di Mekah dalam keperluan beribadah haji. Sempat viral juga video penghormatan dari Kerajaan Arab Saudi ketika Mbah Maimoen mencium hajar aswad. Meskipun usianya sepuh, suara beliau manakala menyampaikan mauizhah hasanah suaranya tetap terdengar jelas dan fasih. Saya meyakini jika beliau bukan sekadar menyampaikan ceramah. Di balik maziyah-maziyah tersebut itu, pastilah beliau sosok yang istikamah dalam beribadah dan tirakat.

Mbah Maimoen memang sangat sepuh. Beliau wafat di usianya 91 tahun. Namun saya selalu yakin, jika semangatnya beliau semasa hidup selalu muda. Memotivasi dan membangkitkan semangat kebangsaan para santri dan kita sekalian untuk tidak lelah mencintai bangsa ini. Sebab Mbah Maimoen paham betul bahwa mencintai tanah air merupakan manifestasi dari keimanan seseorang. Maka atas kabar duka ini, di mana sebentar lagi jasad Mbah Maimoen akan dikebumikan, bisa jadi jasadnya akan hancur, tetapi yakinlah jejak keilmuan dan keteladannya akan senantiasa hidup.

Mbah Maimoen telah mewariskan keilmuan dan keteladanan yang tak ternilai harganya. Mbah Maimoen milik kita bersama. Mari kita meneguk air keteladanan dari beliau dengan sebanyak-banyaknya. Sehingga dengan begitu akan banyak keberkahan yang kita dapatkan. Mbah Maimoen telah mewariskan jejak kebangsaan dan kemanusiaan yang luar biasa. Saya sungguh-sungguh berdoa: semoga mati satu tumbuh seribu, semoga akan lahir Mbah Maimoen-Mbah Maimoen yang baru. Baik dari keluarga, santri maupun kita warga Nahdliyin dan bangsa.

Saya juga berharap akan terbit buku yang khusus merekam jejak pemikiran dan keteladan hidup Mbah Maimoen. Dan karena itu jugalah saya menulis catatan harian ini, dengan niat semata-mata tahadduts bin ni'mah dan wujud takdim saya kepada Mbah Maimoen. Saya meyakini sekali, ketika Mbah Maimoen pernah menyampaikan petuah dalam kesempatan Haul Gus Dur (Al-Maghfurlah KH. Abdurrahman Wahid), kurang lebih bahwa kemuliaan seseorang akan terlihat manakala yang bersangkutan berpulang ke rahmatullah, ke hadapan Allah Swt. Saya tidak bisa membayangkan akan ada berapa banyak orang yang takjiah, menyalati, dan mengantarkannya ke pemakaman. Terlebih para penulis dan peneliti yang akan merekam jejak pemikiran dan keteladan Mbah Maimoen dalam bentuk tulisan dan buku.

Saya berdoa. Semoga Mbah Maimoen bahagia berpulang ke rahmatullah. Segala ibadah dan kebaikannya diterima oleh Allah. Husnul khatimah dan mendapatkan kemuliaan surga dari-Nya. Mari kita lanjutkan pemikiran dan keteladanan Mbah Maimoen untuk terus menjaga NKRI dari segala rongrongan kejahatan apapun. Selamat jalan Mbah Maimoen! Al-Faatihah!

Wallaahu a'lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Tuesday, August 6, 2019 - 16:00
Kategori Rubrik: