Menelaah Parpol yang Melompat-Lompat

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Berdasarkan UU..., Asas semua partai di Indonesia seharusnya adalah Pancasila.

Namun dari sekian partai..., ada dua partai idiologi yaitu PDIP dan PKS..., selebihnya adalah pragmatis nasionalis.

Ciri khas partai Idiologi..., adalah berbasis kepada kader..., atau konsep partai kader..., dan tidak setiap orang bisa jadi kader PDIP atau PKS.

Syarat untuk jadi kader tidak semudah menjadi kader partai lain.

Untuk PKS..., syarat untuk jadi kader adalah minimal memiliki halaqoh atau pengajian beranggotakan 18-20 orang.

Bukan itu saja..., tetapi juga aktif melakukan pelatihan kepada anggotanya dalam bentuk tilawah (mengaji), tadabur ayat Alquran (mengkaji)..., kemudian ada tausyiah (nasihat) tentang perkembangan politik nasional dari perspektif Islam.

Makanya..., baik PDIP maupun PKS menjadi Oposisi itu biasa saja.

PDIP pernah 10 tahun jadi oposisi ketika era SBY.... PKS walau ikut koalisi dengan PD..., namun dalam kenyataanya PKS tidak pernah loyal dengan PD.

Begitupula periode pertama Jokowi..., walau koalisi merah putih bubar dan sebagian teman koalisi bergabung ke PDIP..., namun PKS memilih tetap oposisi.

Mereka tidak merasa kalah dan tersingkir..., karena orientasi mereka bukan kepada mendompleng kekuasaan partai lain..., tetapi berdiri sendiri diatas agenda mereka.

Agenda itulah yang diperjuangkan..., apakah itu di dalam pemerintah maupun di luar pemerintah..., dan agenda itu digengam erat oleh setiap kader.

PKS bergabung dengan Prabowo..., partai Gerindra..., PAN..., dan PD...; berhadapan dengan koalisi PDIP pada pemilu tahun 2019..., dan selanjutnya koalisi itu bubar dengan kalahnya PS dalam pemilu.

Semua merapat ke Jokowi..., tetapi PKS tetap berada pada posisi oposisi.

PKS tidak tertarik bergabung ke PDIP..., mengapa....?

Karena..., antara PKS dan PDIP itu dua partai yang berbeda idiologinya.

PDIP atau PKS bisa berkoalisi dengan partai pragmatis seperti Gerindra..., Golkar..., Nasdem..., PAN..., PKB..., dan lainnya...; tetapi antara PKS dan PDIP tidak mungkin terjalin koalisi.

Itu ibarat air dan minyak..., Tidak akan bisa bercampur.

Strategi partai idiologi itu..., apapun kemitraan yang terjadi dengan partai pragmatis..., tujuannya adalah melakukan panetrasi agenda kepada masyarakat.

10 tahun PKS bergabung dengan koalisi PD..., gerakan tarbiyah islam berkembang pesat.

Simbol agama semakin mendapat tempat di tengah masyarakat..., tumbuh ribuan ormas islam yang memperjuangkan agenda politik Islam.

Tetapi pada waktu bersamaan..., PDIP sebagai oposisi juga berhasil menarik dukungan kelas menengah..., yang menginginkan perubahan dari gaya kepemimpinan SBY.

Akhirnya PDIP juga yang menang..., tapi menang berkat dukungan partai pragmatis..., bukan kemenangan mutlak.

Apakah PKS merasa kalah...?

Tidak..., terbukti suara PKS pada pemilu 2019 naik signifian dibandingkan pemilu 2014.

PKS ranking 6 dari 16 partai perserta Pemilu.

Sukses itu berkat strategi memanfaatkan partai pragmatis seperti Gerindra.

Merapatnya Nasdem ke PKS itu adalah fakta politik..., bahwa perseteruan kepentingan itu sedang terjadi.

Akan bertambah lagi..., ketika ada reshuffle kabinet.

Partai yang kecewa kadernya tersingkir..., akan bergabung dengan Nasdem..., tentu akan menambah amunisi dan logistik PKS.

Ini akan semakin memperkuat panetrasi agenda politik PKS menuju 2024.

Mungkin PKS belum akan menjadi partai pemenang pemilu...., tetapi dapat dipastikan posisi PKS akan naik signifikan.

Hanya masalah waktu..., tujuan agenda PKS akan tercapai.

Ia tumbuh sebagai partai modern..., dan berkembang secara gradual namun pasti.

Itulah yang dilihat oleh SP..., sebagai politisi oportunis dan pengusaha.

Setidaknya..., SP tidak merasa bersalah bila suatu saat akhirnya idiologi negeri ini berubah jadi syariat islam.

SP itu orang Aceh..., daerah yang sampai kini tiada henti memperjuangkan syariat islam....; dan ini sudah dibaca dengan jelas oleh PDIP untuk menyikapinya.

Kita lihat saja nanti akhirnya....

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Tuesday, January 28, 2020 - 14:15
Kategori Rubrik: