Menelaah Kembali Data yang Dipersoalkan pada Debat Capres Ke-2

Oleh: Ricky Apriansyah

 

Bukan kampret kalau tidak berisik dan membalik-balikkan informasi. Berbagai kicauan berseliweran di WAG dan medsos setelah debat kedua semalam, terutama mengenai data-data yang dipaparkan oleh Capres 01. Katanya itu tidak benar.

Woyy tunggu dulu. Bahasa lisan itu berbeda dengan bahasa tulis. Bahasa lisan mestinya tidak dipahami secara letterlijk atau persis dengan apa yang dikatakan oleh seseorang. Namun namanya saja orang yang memang sudah tertanam kebencian. Informasi yang benar bisa salah. Apalagi yang kurang benar saat diucapkan dalam bahasa lisan.

 

 

Namun mari kita runut lagi beberapa hal yang dipersoalkan para netijen yang terhormat itu.

1. Mengenai Impor Jagung

Yang disampaikan Jokowi 180 ribu ton itu jagung untuk pakan ternak. Nah data BPS itu untuk total jagung. Selain itu konteks  yang disampaikan Presiden Jokowi lebih kepada penekanan turunnya impor jagung. Data BPS menunjukkan sepanjang 2018 impor jagung pipilan hanya mencapai 730 ribu ton. Impor itu turun drastis dibandingkan pada 2014 yang mencapai 3,37 juta ton.

2. Mengenai produksi beras

Data yang disampaikan oleh Jokowi sudah benar, bisa dicek di BPS kalau pada 2018 terdapat surplus beras sebesar 3,1 juta ton, total produksi beras tahun 2018 sebesar 32,67 juta ton dan total komsumsi sebesar 29,57 juta ton.

 

3. Mengenai impor untuk cadangan pangan

Impor beras dilakukan untuk cadangan beras bulog. Cadangan beras bulog itu akan digunakan untuk operasi pasar ketika harga rata-rata di daerah mengalami peningkatan di atas 10%. Jumlah cadangan beras di bulog (stock bulog) saat ini sekitar 2,1 juta ton. Silakan dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi beras per bulan Indonesia adalah 2,5 juta ton. Beras di Bulog tidak akan mempengaruhi harga di pasar, karena beras Bulog hanya dikeluarkan ketika ada rekomendasi dari Menteri Perdagangan saat ada kenaikan harga tidak wajar di daerah tertentu saja.

Impor garam dilakukan secara selektif yaitu melalui ijin Kemendag. Mengapa impor dilakukan karena industri memerlukan garam dengan kadar NaCL di atas 96%. Garam produksi lokal maksimum hanya bisa memenuhi NaCL 94% sehingga akan berpengaruh pada standar produksi industri. Oleh karena itu, pemerintah melalui KKP memiliki program untuk peningkatan kualitas proses produksi garam rakyat agar dapat memenuhi standar industri.

Impor semua jenis makanan selalu melalui proses pengujian yang ketat. Pemerintah menjamin bahwa setiap impor makanan sudah melalui prosedur baku dan standar yang tinggi, sehingga unsur keamanan dan kesehatan dapat dijamin ketika masyarakat mengkonsumsinya

 

4. Mengenai kebakaran hutan

Terminologi tidak ada kebakaran hutan maksudnya tidak terjadi bencana (mengacu pada pengertian Kebakaran hutan menurut Notohadinegoro, 2006). Bahkan sejak 2017, tidak ada asap lintas negara. Kebakaran hutang memang masih ada. Tapi jumlahnya turun drastis. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas areal kebakaran hutan dan lahan menurun 92,5% dari 2,6 juta (ha) pada 2015 menjadi hanya 194,7 ribu (ha) pada 2018. Jumlah titik panas juga menurun 88,5%, dari 70.971 titik pada 2015 menjadi 8.163 titik pada 2018.

 

5. Mengenai Galian Tambang menjadi Kolam Ikan

Sudah ada berbagai contoh galian tambang yang dijadikan kolam ikan, seperti misalnya di Mesuji atau Samarinda, tambang pasir yang selama ini menjadi lahan tidur tidak produktif dijadikan lahan budidaya ikan air tawar. Bahkan dari budidaya tersebut warga di Sungai Kunjang, Samarinda tersebut bisa meningkatkan kesejahteraan dan menguliahkan anak.

Monday, February 18, 2019 - 19:15
Kategori Rubrik: