Menelaah Foto Ikonik Bung Tomo

Ilustrasi

Oleh : Bagus Supomo

Banyak orang yg salah persepsi hanya dgn melihat foto2 dibawah menganggap Bung Tomo adlh #PIMPINAN Pertempuran Perlawanan Rakyat Surabaya dlm Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia pdhl Foto tsb adlh #PENGGAMBARAN_PALSU yg di ambil di salah satu hotel di Malang Thn 1947 . . Bung Tomo sndri jg tdk pernah mengatakan sbg Pimpinan Pertempuran . . serta dlm fakta sejarah Bung Tomo bukan Tentara dan tidak pernah bertempur di Jalanan spt yg dilakukan rakyat Surabaya . . silahkan Lanjutkan membaca semoga bermanfaat meluruskan sejarah dan Persepsi kita . .

BUNG TOMO : MITOS PENGGAMBARAN

Pidato-pidato berapi-api Bung Tomo melalui Radio Pemberontak membuatnya menjadi salah satu palawan Pertempuran Surabaya yang paling dicintai masyarakat, meskipun beliau sebenarnya tidak ikut bertempur. Beliau juga diangkat menjadi Pahlawan Nasional di tahun 2010. Yang menarik beliau masih sering dikenang sebagai sebagai pemimpin militer. Nyatanya Bung Tomo jarang memegang senjata dan jelas tidak punya waktu meninggalkan studionya untuk bertempur di jalanan.

Foto-foto beliau yang kini terkenal dan diterima masyarakat dunia, menggambarkan beliau dengan seragam militernya dan seakan-akan beraksi dalam medan tempur, hampir pasti adalah hasil jepretan dari masa sesudah pertempuran. Seorang saksi (*) menyatakan bahwa foto ikonik Bung Tomo merupakan hasil pose beliau untuk sebuah majalah Jakarta di halaman sunyi sebuah hotel di Malang tahun1947, hampir dua tahun setelah pertempuran Surabaya.

Payung hotel yang khas di foto merupakan bukti sesi foto ini. Para pedesain grafis dewasa ini sering merubah foto asli Bung Tomo untuk menciptakan kesan garang, dengan mengenakan payung dan menambahkan gambar ledakan bom dan api.

Dalam foto ini Bung Tomo memakai seragam hijau, meskipun bukan “hijau muntahan” seperti yang dikenakan banyak pejuang 1945, sebuah warna hijau tidak rata yang terjadi karena proses pewarnaan kain terburu-buru.

Bagi penggemarnya, masa lalu Bung Tomo menjadi semakin harum seiring waktu. Versi-versi baru foto beliau senantiasa membanjiri internet. Cerita ini agak mirip dengan foto Che Guevara, seorang pejuang gerilya di hutan yang kurang sukses, yang dengan teknologi digital disulap menjadi seorang Palawan yang penuh pesona.Teknik yang sama dipakai untuk merubah citra Bung Tomo. Mesin cari Google dengan kata kunci Bung Tomo akan menghasilkan 40 sampai 50 versi foto yang sama, yang dipecaya oleh khalayak ramai sebagai foto beliau beraksi di Pertempuran Surabaya. Dalam posenya beliau, mengenakan seragam tempur, tanganya menunjuk pada sebuah benda di kejauhan, konon diambil semasa pertempuran berkecamuk.

Foto (Bung Tomo) ini telah digunakan berkali-kali dan dapat dibeli di geleri dan toko buku umum di Jakarta. Bung Tomo diplot menjadi seorang pemimpin pada Pertempuran Surabaya, berdiri dan menghardik gagah menghadapi musuh yang kuat.

Namun #penggambaran_ini_palsu, menurut rekan juangnya Suhario, yang ada saat seorang fotografer Jakarta meminta Bung Tomo untuk berpose di dekat anak tangga sebuah hotel wisata di Malang di tahun 1947. Sutomo sendiri tidak pernah bilang foto tersebut di Surabaya (administrasi NICA Belanda sedang menguasai kota saat itu), yang menggambarkannya berdiri di bawah sebuh payung taman hotel menunjuk pada kerumunan imajiner.
“Bung Tomo, itu foto diambil di hotel Malang, payung besar dan rambut panjang. Di tahun 1945 (di Surabaya) dia #tidak_pernah_menembakkan_pistol atau #senapan_apapun. Saya tahu, Foto itu diambil tahun 1947, “ kata Suhario. Saya telah menulis tentang ini dan tidak ada yang menyangkal informasi ini. (*)

Bisakah Suhario salah ? Suhario menganal Sutomo hmpir seluruh hidupnya, ijadi kecil sekali kemungkinannya beliau salah orang.

Pihak Ingris juga salah sangka Sutomo sebagai seorang pemimpin pasukan saat pertempuran, sesuatu yang menguntungkan pejuang Arek Suroboyo yang menganggap Sutomo sebagai pengalih perhatian bagi musuh, meskipun tidak secara sengaja. #Sutomo_tidak_pernah_bertempur_di_jalanan_Surabaya_sama_sekali.

Foto di Malang ini juga digunakan untuk illustrasi sampul elakang buku Heat and Vision (**) untuk menggambarkan Pertempuran Surabaya.

Suhario membicarakan asal usul foto tersebut menjadi ikon di wawancara dengan penulis. Penjelasannya adalah bahwa sebuah foto yang diperuntukkan untuk masa pasca perang kemudian menarik perhatian berbagai penerbit buku sebagai foto yang mewakili nuansa Suabaya 1945. 
.
Hal ini kemudian menjalar, dan mitos Bung Tomo menjadi terkait erat dengan foto itu, sekaligus menjadi bukti bagaimana penggambaran sejarah bisa dipengaruhi.

Dikutip dari buku "Surabaya 1945 Sakral Tanahku" oleh Frank Palmos

Sumber : Status Facebook Bagus Supomo

Saturday, October 28, 2017 - 19:45
Kategori Rubrik: