Menegakkan Benang Demokrat

ilustrasi
Oleh : Budi Setiawan
Pak SBY akhirnya turun gunung ditengah isu KLB di partainya sudah mulai reda. Namun mantan presiden itu melihat ada gerilya politik yang semuanya berbau uang. Untuk pertama kalinya, dia menuding Moeldoko sebagai pihak yang aktif mendongkel anaknya AHY sebagai ketua umum.
Pernyataan pak SBY sangat wajar dalam kontek mempertahankan partai keluarga dinasti Cikeas. Meski orang bilang SBY bukan pendiri Demokrat namun sejarah membuktikan bahwa partai Demokrat dibentuk oleh SBY dan untuk SBY.
Sama dengan PDIP yang sejarahnya dibentuk untuk dan oleh bu Mega hingga dalam perjalanannya, PDIP adalah partai dinasti Megawati.
Persoalannya sekarang yang menghinggapi Demokrat adalah karena partai ini tidak ketahuan justrungannya. Dukung pemerintah tidak. Jadi oposisipun setengah-setengah. Beda dengan PKS.
Kelangsungan hidup Demokrat hingga mencetak prestasi bagus di Pilkada bukan semata karena kepemimpinan AHY. Kemenangan itu lebih ditentukan pada permainan kartel politik lintas partai untuk segenggam kekuasaan. Dan sumber uang tentunya.
Jadi boleh dibilang Demokrat bertahan sampai sekarang adalah kondisi politik daerah yang sama sekali tidak terkait dengan konstelasi politik di tingkat nasional. Dimana Demokrat menjadi partai paria.
Parahnya lagi, alih-alih menonjolkan langkah taktis dan cepat untuk memadamkan aksi kudeta, baik AHY maupun SBY bersikap defensive bukan ofensif. Malahan pak SBY dan AHY terlihat mengemis simpati yang berujung pada pelecehan dan hinaan.
Meski demikian,walaupun terlihat menghiba-hiba merasa di zholimi, ada keberhasilan yang diperoleh Demokrat lewat maneuver AHY dan pak SBY.
Yakni, besar kemungkinan pak Moeldoko tidak lagi berminat mengambil alih Demokrat. Bukan karena tidak mampu, namun semata untuk menjaga nama baik pak Jokowi.
Presiden telah menempatkan pak Moeldoko yang dikenal sebagai "Gang of Solo" di lingkaran satu istana. Yang pendapat mereka didengar oleh pak Jokowi yang mempengaruhi aneka kebijakan presiden.
Jadi ambisi pak Moeldoko menjadi ketua partai Demokrat untuk tujuan apapun besar kemungkinannya pupus.
Karena adalah menjadi aib Presiden Joko Widodo jika pak Moeldoko jadi Ketua Umum Demokrat.
Sekarang, tinggal bagaimana AHY dan pak SBY mengatasi prahara di Demokrat lewat mengubah strategi dengan meninggalkan strategi bertahan dan bermain di wilayah abu-abu.
Tegas. Oposisi. Atau pro pemerintah.
Bukan jadi bunglon. Berlagak seperti partai tengah. Namun tidak punya bargaining dan kekuatan politik yang memadai.
Artinya, AHY dan pak SBY harus mau turun harga.
Misalnya, AHY nyalon jadi walikota Depok atau wilayah yang pasti dia menang, dengan mencontoh langkah politik Gibran yang bertaruh kecil-kecilan dulu.
Karena sudah kelihatan bahwa ambisi AHY untuk menggapai jabatan menteri atau presiden, adalah seperti punguk merindukan bulan.
Gak bakal kesampaian.
Sebab selama masih ada Megawati, Demokrat akan tetap menjadi "orang luar tanpa karakter dan wibawa" dalam pelataran politik nasional Indonesia.
Itu adalah kenyataan.
Sumber : Status Facebook Budi Setiawan
Saturday, February 27, 2021 - 14:45
Kategori Rubrik: