Menebak Akhir Drama Sandera WNI di Filipina

Oleh : Rushanovaly

Tanggal 8 April tak lama lagi. Tenggat akhir permintaan tebusan 50 juta Peso Filipina atas 10 WNI yang disandera milisi Abu Sayyaf. Waktu memang menjadi penting saat ini . Upaya pemerintah RI untuk membebaskan melalui jalur militer nampaknya terkendala izin pemerintah Filipina.

Padahal, sikap pemerintah RI yang tidak ingin berkompromi sudah di jalan yang benar. Menebus 10 WNI dengan uang bukan sebuah keputusan yang baik. Tentu ulah para penyandera akan semakin besar kepala saja. Dengan uang yang cukup besar itu, milisi Abu Sayyaf akan semakin kuat .

Masalah penyanderaan memang bukan hal baru dilakukan kelompok Abu Sayyaf yang bermukim di pulau Jolo, Basilian dan Mindanao ini. Kasus penculikan dan penyanderaan terhadap warga asing pernah dilakukan kelompok Abu Sayyaf.

Pada tahun 2009, staf Palang Merah Internasional berkebangsaan Italia bernama Eugino Vagni diculik dan disandera selama enam bulan. Kasus penculikan dan penyanderaan ini akhirnya berakhir dengan uang tebusan senilai US$ 10.000 atau sekitar Rp 130 juta. Yang terbaru adalah kasus penculikan turis asal Malaysia yang bernama Bernard Ghen Ted Fen . Pria ini akhirnya tewas di tangan kelompok penculik karena pihak keluarga tidak memenuhi tuntutan uang yang diminta sebesar 40 juta Peso.

Rupanya, kelompok Abu Sayyaf memang menjadikan modus penculikan dan penyanderaan sebagai upaya mencari dana. Mirip apa yang terjadi di perairan Somalia, modus mencari uang tebusan adalah cara yang paling efektif bagi kelompok yang menjadi target operasi keamanan Filipina ini.

Perlu Sikap Tegas dan Keras Pemerintah

Filipina kabarnya telah mengirim 3 batalyon militernya untuk mengupayakan pembebasan 10 WNI. Upaya militer pihak Filipina memang harus segera dilaksanakan. Dengan kekuatan personil yang dimiliki kelompok Abu Sayyaf saat ini , militer Filipina sejatinya mampu melibas kelompok yang meresahkan ini.

Namun, masalahnya militer Filipina selama ini juga tidak terlalu berhasil menekan kelompok bersenjata yang pandai sekali memanfaatkan medan bergerak di wilayah pulau yang mereka diami. Kekuatan bersenjata yang ada di Filipina malah menjadi pemasok senjata dan amunisi bagi para terduga teroris di wilayah ASEAN termasuk Indonesia.

Ada dugaan kelompok Santoso yang kini diburu pihak keamanan Indonesia mendapatkan pasokan senjata dari kelompok teroris di Filipina. Apakah ada kaitannya antara kelompok Santoso dan Abu Sayyaf memang patut dicurigai.

 Indonesia diakui dunia memiliki pasukan elit yang mampu melakukan operasi pembebasan sandera dengan tingkat kesulitan tinggi. Pada era tahun 1981, militer Indonesia melalui pasukan Kopasanda ( saat ini bernama Kopassus) berhasil membebaskan penyanderaan pesawat Garuda di bandara Don Muang, Thailand.

Kisah keberhasilan pembebasan ini bahkan diakui dunia dengan waktu tercepat. Pasukan elit Indonesia memiliki spesifikasi yang sangat baik dalam operasi penyergapan dengan risiko tinggi. Pembebasan sandera kapal Sinar Kudus di perairan Somalia juga kembali membuat militer Indonesia diakui dunia. Hanya sedikit negara yang mampu melakukan operasi pembebasan sandera dengan sukses.

Operasi pembebasan juga pernah dilakukan di pedalaman Papua pada Mei 1996. Saat itu 11 peneliti asing yang tergabung dalam Ekspedisi Lorentz disandera oleh kelompok separatis pimpinan Kelly Kwalik. Operasi ini dilakukan pasukan Kopassus di desa Mapenduma. Semua penculik berhasil ditembak mati, walau 2 sandera juga tewas . Operasi ini dinyatakan sukses dan sekali lagi membuktikan militer Indonesia punya pengalaman yang meyakinkan.

 Operasi militer untuk pembebasan sandera memang punya risiko tinggi. Baik kepada para sandera, anggota tim militer, penduduk sipil yang berada di lokasi pembebasan. Tak semua operasi pembebasan berakhir dengan kisah sukses. Di beberapa tempat malah gagal total. Dan membawa korban baik sandera maupun anggota tim militer.

 Empat Opsi pembebasan Sandera

Penyanderaan 10 WNI oleh kelompok Abu Sayyaf memang seperti ujian tersendiri. Di tengah upaya aparat keamanan RI baik kepolisian maupun TNI yang masih memburu kelompok Santoso yang disinyalir sudah terdesak dan kekurangan logistik.

Operasi dengan sandi Tinombala ini kelanjutan dari operasi Camar Maleo. Rentang operasi ini memang telah berjalan beberapa bulan. Sulitnya medan menjadi penyebab lambatnya penyelesaian operasi Tinombala.

Walau sudah mengerahkan satuan satuan elit, operasi Tinombala belum mampu menangkap pimpinan kelompok Teroris yang kini melibatkan warga asing. Operasi Tinombala menjadi perhatian banyak masyarakat Indonesia bahkan dunia. Amerika serikat kabarnya juga sudah menawarkan bantuan dukungan militer untuk memburu keberadaan kelompok Santoso. Militer Indonesia menolak bantuan asing karena yakin bisa mengatasi dengan operasi secara mandiri.

 Saat ini Kementrian Luar Negeri RI melalui Direktur Perlindungan WNI , Muhammad Iqbal memberikan sinyal untuk membuka semua peluang yang ada dengan memprioritaskan keselamatan para sandera . Dengan pernyataannya itu, ada kemungkinan pula pemerintah RI akan melakukan langkah menebus sesuai uang yang diminta kelompok Abu Sayyaf.

 Pemerintah Indonesia saat ini memiliki empat opsi untuk membebaskan 10 WNI , berikut opsi tersebut: -Mengikuti permintaan para penyandera dengan menebus sebesar 50 juta Peso Filipina

-Melakukan operasi militer pembebasan yang dilakukan militer Filipina sendiri

- Melakukan operasi militer pembebasan dengan melibatkan militer Indonesia

-Membayar uang tebusan dengan tambahan operasi militer lanjutan

Dari semua opsi, melakukan opsi nomor satu adalah yang paling ringan risikonya. Walau kenyataannya pihak penyandera bisa melakukan penipuan dan kecurangan. Seperti yang terjadi ketika upaya pembebasan 20 ABK kapal Sinar Kudus di perairan Somalia. Uang tebusan yang telah diterima para penyandera tidak membuat sandera dibebaskan. Karena ada kelompok lain yang ingin memanfaatkan sandera .

 Militer Indonesia yang telah siaga langsung mengambil tindakan penyerbuan dan melakuan pukulan balik yang mematikan. Militer Indonesia bahkan masuk dan mengejar para perompak yang menyandera hingga ke dalam kapal penyandera.

Langkah diplomatis dan Pendekatan Intelijen

 Pemerintah Indonesia saat ini sudah menempatkan pasukan elitnya di perbatasan Filipina. Dalam waktu singkat pasukan yang bersiaga bisa digerakkan menuju pulau di Filipina yang disinyalir tempat menyekap 10 WNI.

Hal yang paling ideal adalah pasukan elit Indonesia mendapatkan izin melakukan operasi pembebasan seperti upaya pembebasan pesawat Garuda di Thailand. Awalnya pemerintah Thailand juga tidak memberikan izin kepada militer Indonesia namun dengan pendekatan diplomatis dan pendekatan jaringan intelijen, Indonesia akhirnya mendapat lampu hijau untuk melakukan sendiri upaya pembebasan.

Hal serupa seharusnya juga dilakukan terhadap pemerintah Filipina walaupun memang ada perbedaan gaya pada setiap pemerintah. Saat ini pemerintah masih menunggu upaya militer yang dilakukan pihak Filipina.

Waktu terus berjalan, saat ini masa tenggat akhir hanya dalam hitungan jam saja. Seluruh keluarga korban penyanderaan berharap anggota keluarga mereka bisa pulang dengan selamat. Sementara pemerintah RI masih melakukan upaya pendekatan diplomatis dan pendekatan intelijen, seluruh bangsa Indonesia berdoa demi keselamatan para sandera.

Semoga akhir penyanderaan ini akan berakhir dengan baik. 10 WNI bisa pulang kembali ke tanah air dan penyanderanya mendapatkan hukuman yang setimpal. Semoga . Amin.** (ak)

Sumber tulisan: kompasiana.com

Thursday, April 7, 2016 - 12:00
Kategori Rubrik: