Mendukung Jokowi Itu Berat, Biar Aku Saja

Ilustrasi

Oleh : Denny Siregar

Menjadi pendukung Jokowi itu berat..

Sejak awal saya berharap ada orang kuat yang bisa memimpin negeri, karena carut marutnya politik disini. Dan harapan itu jatuh pada seorang yang sangat sederhana, dengan rekam jejak bersih, yang muncul secara tiba-tiba. Meskipun badannya kerempeng dan tidak gagah seperti lawan politiknya, tapi entah kenapa saya menaruh kepercayaan padanya..

Ketika dia terpilih jadi Presiden, ada rasa senang di dada, seiring dengan keraguan dalam benak sebagian besar orang, "Bisakah dia seperti yang kita harapkan ?"

Dan keraguan itu semakin membesar ketika sebagian pendukungnya merasa bahwa Jokowi sangat lemah saat menghadapi kasus Polri versus KPK jilid dua. Jokowi tampak diam tanpa berbuat apa-apa. Apalagi pihak oposisi membuat framing berita, bahwa Jokowi hanyalah boneka Mega. Semakin menipis kepercayaan dan mulai muncul kesimpulan di dada sebagian pendukungnya, "Kayaknya saya salah memilih dia.."

Masih ditambah isu bahwa Budi Gunawan yang sempat dijadikan tersangka, akan menjadi Kapolri. Dan semakin tajamlah isu bahwa Jokowi memang boneka Megawati. "Bagaimana mungkin Kepolisian dipimpin oleh tersangka korupsi ?" Begitulah bunyi narasi yang dihembuskan sebagai genderang kemenangan pihak lawan..

Dan banyak pendukung Jokowi menari mengikuti bunyinya. Mulailah celotehan ketidakpuasan bergema, membuat senyum lebar di wajah koruptor yang selama ini mengeruk keuntungan dan merasa Jokowi menjadi penghalang besar. "Kita menang, pendukung Jokowi melemah.." begitu bisik-bisik yang kudengar.

Tapi tidak semua. Aku tidak terpengaruh bunyi genderang yang ditabuh bertalu-talu menghipnotis para pendukung yang emosi. Aku rasional. Melihat sesuatu berdasarkan rekam jejak, bukan berdasarkan perasaan emosional.

Dan dari rekam jejak Jokowi di Solo, aku menemukan bahwa apa yang dianggap kelemahan selama ini, ternyata disanalah sumber kekuatan..

"Dia orang Solo..." Begitu tulisku pertama kali.

Aku menggambarkan bahwa Jokowi jangan dilihat sebagai seorang petarung yang menggunakan fisik sebagai senjata. Ia adalah petarung dengan ketajaman intuisi.

Ia seperti Donnie Yen dalam film Ip Man, bukan seperti Rambo yang tembak sana tembak sini. Ia mengambil jalan memutar untuk membunuh lawan, bukan langsung berhadap-hadapan seperti aksi bunuh diri. Ia mengawasi mangsanya dari kejauhan dengan sabar layaknya seekor elang yang tajam melihat situasi. Dan ketika saatnya ia mendekat, ia menjadi dekat sekali. Sehingga mangsanya baru sadar di detik terakhir dan terlambat mengantisipasi..

Itulah Jokowi.

Dia sanggup berdiskusi selama 7 bulan dengan mengadakan 56 kali pertemuan basa basi, dan akhirnya mampu memindahkan pedagang barang bekas di taman Banjar Sari. Sebuah kekuatan kesabaran membunuh yang jarang kita jumpai..

"Dia orang Solo.." Tulisku seperti mendapat inspirasi.

Langkah-langkahnya sulit ditebak diawal karena kita terbiasa melihat film aksi. Jokowi adalah "The man with the winning strategy". Pembawaannya yang tenang dan terlihat lemah, adalah kekuatannya sejati. Ia mengukur semua langkah dengan cermat dan mengambil keputusan yang jarang terpikirkan banyak orang. Musuhnya selalu merasa menang diawal, tapi diakhir mereka akhirnya mengakui jika kalah strategi..

Dan ternyata apa yang kutulis benar terjadi. Meski aku tidak mengenalnya dengan dekat, Jokowi menjadi seseorang seperti dalam imajinasi.

Hitung saja langkahnya dimana Jokowi selalu berhasil memenangkan situasi. KPK vs Polri, BG sebagai Kapolri, terbelahnya koalisi merah putih, pembubaran HTI sampai penghentian seorang Jenderal dari jabatan tertinggi dengan sangat halus dan tanpa terdeteksi..

Semua itu membutuhkan kecerdasan dan perhitungan matang. Dan jelas kesabaran adalah kunci utama untuk meraih kemenangan..

"Dia orang Solo.." begitu tulisku sekarang ini.

Ketika banyak orang menimpakan kesalahan pada Jokowi karena menganggap ia melakukan negosiasi dengan seorang yang selama dua tahun kabur ke Saudi. Ketika banyak pendukung baperan yang selalu melihat pertarungan dengan warna hitam putih. Ketika banyak orang yang dulu memujanya, sekarang kembali menari diatas genderang perang yang berbunyi..

Tapi aku tetap mempercayainya seperti awalnya. Karena aku yakin ada strategi menarik yang baru bisa tertebak arahnya ketika akhirannya mendekati. Awalnya boleh pahit, tapi akhirannya biasanya berakhir manis. Dan tidak mudah menebak apa yang dia lakukan. Karena strategi, jika bisa ditebak, bukan lagi sebuah strategi. Kita hanya bisa mengira-ngira tapi dia yang lebih tahu semua semua gambar besarnya..

"Tenang saja.." Kata seseorang padaku suatu hari. "Ikuti saja permainannya dan tidak perlu mengambil banyak kesimpulan. Sebuah buku tidak akan menarik jika kita tidak mengikuti halaman per halaman. Jokowi bukan seorang pecundang. Apakah rekam jejaknya selama ini tidak menjadi pelajaran ?"

Aku tersenyum. Lebih baik kuseruput secangkir kopi sambil menikmati permainan.

Permainan jauh lebih menarik jika ada lawan yang brilian. Karpov tidak akan terkenal jika tidak bertemu Kasparov. Bobby Fischer tidak akan melegenda jika tidak bertemu Boris Spassky.

Ini memang permainan mental. Siapa yang kuat, dia yang bertahan. Seperti kukatakan pada temanku yang baperan mengutip kata-kata Dylan, "Mendukung Jokowi itu berat, biar aku saja.."

Kulihat senyum mulai terbentuk diwajahnya. Kurasa dia mengerti akhirnya..

Sumber : Status Facebook Denny Siregar

Sunday, June 17, 2018 - 22:00
Kategori Rubrik: