Mendidik Tentang Seks Pada Anak

ilustrasi
Oleh : Ratri Srikandhi
Cepat atau lambat, diskusi tentang seks pasti harus terjadi. Keliyan tidak bisa lari, hey para orang tua! Lebih baik persiapkan diri masing-masing untuk bisa menjawab pertanyaan anak-anak supaya nggak jengah dan nggak menimbulkan rasa penasaran yg semakin tinggi. Wkwkwkwkwk....
Iya. Kalo rokok dan minuman bisa gw sodorin ke si Nyunyun supaya dia ga penasaran, bagaimana dg seks? Apalagi anak itu udh secara jujur menyatakan bahwa dia "penasaran". Tapi pada prinsipnya, yg gw lakukan tetap sama kok: membunuh rasa penasaran yg mulai tumbuh itu. Gimana caranya? Dengan tidak berkelit saat ditanya. Dengan cara menjelaskan sesantai mungkin yang membuat dia merasa bahwa seks bukanlah sesuatu yg tabu dan harus ditutupi atau dilakukan secara diam-diam. Tapi harus dilakukan ketika saatnya sudah tepat, dan secara bertanggung jawab.
Dalam diskusi kami hari ini dia sempat tanya, "Bunda, kalo suatu hari bunda ngegep Adin sedang berbuat, apa yg bakal Bunda lakukan atw katakan?" dengan santai gw jawab, "Bunda akan bilang, 'lain kali pintunya dikunci doooong'. Lalu bunda akan tunggu sampai kalian beres, baru bunda ajak ngobrol." begitu kata gw. "Dimarahin nggak?" tanyanya lagi. "Nggak lah. Ngapain pake dimarahin segala? Wong udah kejadian. Bunda hanya akan tanya, tadi pake kondom nggak? Nah, kalo jawabannya 'pake', berikutnya bunda akan tanya, 'ayo, coba sini kasih liat sama bunda gimana tadi cara kalian buka bungkusnya, masangnya, trus ngelepasnya lagi. Bunda pengen tau, udh bener apa belum. Jangan sampe malu-maluin ya? Bunda suka kasih penyuluhan, masa anak bunda pasang kondom aja ga becus?" Adin ngakak. "Anjiiirrrrrr..... keknya lebih gampang disidang dan dimarahin daripada dites dan disuruh meragain cara pasang dan buka kondom yg bener sama mamak sendiri......" kata si neneng. Gw ngakak. Tapi sehabis itu gw tekankan sama dia, bahwa dia harus paham resiko dan konsekuensi aktifitas seksual di usia muda itu apa aja. Dan jangan gegabah melakukan hanya karena penasaran, karena besar kemungkinan ada dampak jangka panjang yang menanti. Ga lupa juga gw sampaikan bahwa dia bebas bertanya soal seks kapanpun, dan harus banyak diskusi sama gw biar ga ngasal nantinya. Seks bukan sesuatu yg tabu untuk dibahas, dan daripada cari info sendiri di internet atau tanya teman, lebih baik tanya mamake sendiri aja.
Gw juga bilang sama dia, gw ga bisa mengawasi dia, bahkan jika kami hidup serumah pun, akan ada saat-saat di mana gw ga bisa ngawasi dia, "Jadi hal terbaik yg bisa bunda lakukan adalah membekali kamu dg pengetahuan yg tepat dan cukup soal seks, kontrasepsi, dan segala tetek bengek seputaran topik itu. Bunda hanya bisa mastiin kamu punya pengetahuan tentang gimana memproteksi diri dari berbagai infeksi menular seksual dan kehamilan yg tidak direncanakan. Selanjutnya, Adin harus bisa bertanggung jawab sendiri atas diri Adin ya?" gitu aja penutupnya.
"Masih penasaran, Din?" gw tanya dia. "Nggak, bun." jawabnya. "Nggak penasaran sama gimana rasanya?" tanya gw lagi. Dia ketawa, "Nggak...." jawabnya lagi. "Ya udah. Bunda mau nerusin kerja ya? Kalo kamu perlu kondom, kabarin aja. Nanti bunda kirimin." kata gw lagi sedikit iseng. "ASTOGEEEEEEEE..... GELI AH, BUN!" jawabnya. Gw ngakak aja.
Mission accomplished!
Thrill dan adrenaline rush yang berpotensi datang dari melakukan secara diam-diam sudah dieliminasi. Hehehehe
Agak radikal memang, tapi kadang kita harus mau berpikir dan mengambil cara yg tidak lazim. Sekali-sekali....
Sumber : Status Facebook Ratri Srikandhi
Friday, March 5, 2021 - 08:45
Kategori Rubrik: