Mendidik dengan Kekerasan, Tanamkan Bibit Radikal

Oleh : Ahmad Ricky Perdana

Setiap pribadi di muka bumi, tentu tidak suka dengan yang namanya kekerasan. Seringkali kita mengutuk setiap tindakan kekerasan, seperti aksi teror dengan bom, begal, penganiayaan ataupun bentuk yang lainnya. Kita juga sering mengumpat jika ada seseorang yang selalu menyalahkan orang lain, yang selalu menganggap orang diluar kelompoknya kafir, ataupun orang yang suka mengancam orang lain. Ya..itu adalah reaksi yang wajar, sebagai seorang manusia. Tapi sadarkah kalau terkadang kita juga melakukan praktek kekerasan?

Dalam mendidik anak, terkadang kita suka hilaf. Apalagi jika sang anak sangat aktif, nakal, dan tidak pernah mendengarkan perkataan orang tua. Sebagai bentuk kekerasan, terkadang sebagian orang tua mengeluarkan perkataan kasar, bahkan kadang suka memukul sebagai bentuk hukuman fisik. Bukankah itu bagian juga dari kekerasan? Bukankah itu juga bagian dari teror dalam ukuran kecil? Pernah kah kita berpikir bahwa umpatan atau pukulan tersebut, akan membekas dalam waktu yang lama?

 Maksud hukuman atau bentakan tersebut mungkin untuk membentuk kedisiplinan. Namun, dengan kita membentak atau memukul, secara tidak langsung kita mengajarkan bahwa, untuk menyelesaikan suatu permasalahan bisa atau harus dilakukan dengan cara kekerasan. Cara kekerasan dinilai efektif untuk menangani suatu kondisi. Jika hal ini terus dibiarkan, maka akan menjadi budaya baru dalam keluarga atau lingkungan.

Banyak penelitian menyatakan, anak yang sering merasakan kekerasan, akan memiliki perilaku agresif dan menyimpang, ketika memasuki remaja dan dewasa. Ingat, anak belajar dari orang tua. Jika Anda sering memukul, maka tidak menutup anak tersebut juga akan melakukan hal yang sama ketika dewasa.

Jika bentakan atau pukulan itu sebagai bentuk hukuman, lebih baik mari kita tunjau ulang. Karena yang terjadi justru sebaliknya. Hukuman justru membuat anak tidak belajar, bagaimana menyelesaikan sebuah permasalahan dengan cara yang lebih manusiawi. Anak yang dihukum, akan memunculkan rasa dendam. Jika dendam ini terus dipelihara, maka sikap yang radikallah yang muncul.

Menurut saya, perilaku kekerasan terhadap anak, tidak jauh berbeda dengan kelompok radikal, yang ingin melakukan perubahan tanpa mengedepankan proses. Jika hukuman dimaksudkan untuk merubah disiplin dalam waktu yang cepat, apakah hal itu dibenarkan? Sang Anak tentu akan berontak. Jika kelompok radikal melakukan bom dengan maksud untuk menuju jalan Allah, apakah juga dibenarkan? Tentu saja tidak. Ingat, berproses itu lebih bagus dari pada instan. Jadikanlah proses ini untuk memberikan fondasi yang kuat kepada anak.

 Jangan sampai anak kita nanti jadi korban perekrutan kelompok radikal. Ingat, korban kelompok ini rata-rata adalah remaja. Remaja yang masih labil, cenderung diam, dan pemahaman agama yang kurang. Kelompok ini membenarkan jalan-jalan kekerasan atas nama agama. Ingat, mendidik dengan cara kekerasan, baik itu atas nama hukuman atau agama sekalipun, hasilnya akan sama. Sama-sama berpotensi menjadikan generasi yang mengedepankan kekerasan.

Karena itulah, sebisa mungkin hindari kekerasan dalam mendidik anak. Hindarilah perkataan kasar terhadap anak. Mulai saat ini, posisikanlah anak kita sebagai teman. Jauhkanlah segala sesuatu yang bersifat kasar dan kekerasan. Jadilah orang tua yang mengajarkan karakter positif. Pendidikan karakter lebih penting, dari pada mengajarkan kekerasan. Jika sang anak salah, tunjukkan salahnya dimana. Ajarkanlah saling menghormati antar sesama. Ajarkanlah kejujuran, agar anak tidak suka berbohong. Dengan pendidikan karakter, anak kita akan tumbuh menjadi generasi yang bijak.

 

Sumber : kompasiana

Monday, February 1, 2016 - 09:15
Kategori Rubrik: