Mendiamkan Atau Meneladani?

Ilustrasi

Oleh : KH Hussein Muhammad

Bila suatu saat pendapat atau pandanganmu memeroleh jawaban atau respon penolakan seseorang dengan cara emosional, buruk sangka, penuh kemarahan, kebencian dan stigma negatif, maka kau tak perlu menjawabnya, karena dengan begitu sesungguhnya dia sudah kalah dan kau telah menang.
Jika kau melayaninya, kau akan lelah dan diapun boleh jadi tak akan mau bersahabat.

Banyak bijak-bestari yang mengatakan : "Orang yang lemah adalah dia yang dikuasai emosinya (marah dsb), dan orang yang kuat adalah dia yang mampu mengendalikannya".

Tinggalkan berdiskusi dengan orang yang sedang marah. Dalam diri dia yang marah kau tak akan menemukan kebeningan pikirannya.

Selain begitu, kata-kata dan caranya berkata-kata tersebut menunjukkan bahwa dia bukan seorang yang mengerti (alim), bukan orang hebat, apalagi Arif (bijak-bestari). Orang 'alim, yang hebat dan yang 'arif, tidak akan berkata-kata buruk, kasar, menuduh, berdusta, memfitnah dan sejenisnya.

Seorang ulama (Ibn Qayyim al-Jauziyah?) mengatakan ;

العارف بالله لا يعاتب ولا يطالب ولا يخاصم

"Seorang yang mengenal Tuhan tidak akan mencaci-maki, tidak menuntut, tidak memusuhi

Ulama lain mengatakan :

الصوفي لا يتصَرف بتطرف بل يظل مُتسامحاً ومعتدلاً على الدوام.

"Seorang sufi tidak akan bertindak ekstrem, melainkan selalu bersikap toleran dan moderat".

Boleh jadi bersikap lembut dan tidak membalas penghinaan atau caci-maki orang dengan cara yang sama tidak menjadi pilihan banyak orang dewasa ini. Tentu saja tak ada siapapun bisa menghalangi pilihan orang. Tetapi selalu perlu diingat, setiap pilihan meniscayakan tanggungjawab dan risikonya sendiri-sendiri. Kebaikan niscaya akan dibalas kebaikan dan keburukan akan dibalas keburukan. Ini hukum semesta.

Sumber : Status Facebook Awan Kurniawan

Monday, December 11, 2017 - 19:45
Kategori Rubrik: