Mendalami Ilmu Dan Berperilaku

ilustrasi

Oleh : Dahayu

Salah satu hal yg membuatku keluar dari tempurung kelompok pemurnian adalah, penolakan mereka atas madzhab2. Kupikir, siapa mereka ini? Apakah tirakat mereka lebih baik daripada para Imam Madzhab dalam menempuhi jalan ilmu?
Apakah tokoh2 mereka yg mensahihkan hadist2 itu lebih tinggi kualitasnya? Sedang mereka tokoh2 baru jauh setelah era para Imam madzhab itu?

Logikanya semakin dekat dengan sumber cahaya akan semakin jelas terangnya. Semakin jauh ya semakin redup.

Dan apakah mereka memiliki rantai keilmuan yg tak terputus hingga Rasulullah? 
Dan pertanyaanku terjawab, kelompok2 islam dengan berbagai nama itu semua mengklaim menggenggam kebenaran. Tapi tidak bisa membuktikan kalo sanad mereka sampai pada Rasulullah, selain klaim sepihak yg lantas didoktrinkan. Ya jelas ga da sanad ding, wong maunya memang langsung dari sumbernya Qur'an dan hadist. Padahal posisi kita saat ini berabad jarak dari Rasulullah. Bagaimana kita bisa meyakini sesuatu yg kita terima itu dari Rasulullah, jika orang2nya tidak kita ketahui urutan2nya? Kalo analogi Gus Muwafiq sih ibarat ngambil listrik untuk rumah tangga langsung dari gardu induk. Ya korslette.

Dan bukti kekorslettan itu mulai nampak. Orang2 yg beragama secara instant dan mutus mata rantai itu menjadi kasar dan intoleran. Berbekal sampaikan walau satu ayat mereka bebas ngomong soal agama. Gelar ustadz ustadzah mudah sekali disematkan. Mereka menguasai media online yg sangat gampang diakses. Hari gini tentu orang tak mau bersusah payah bertemu guru, dan harus ngangsu ngebaki jedingnya hanya untuk mendapat satu pelajaran tentang alif bengkong. 
Ketika bersentuhan dengan politik mereka jadi sangat berbahaya. Gampang sekali meledak. Meledaknyapun ngajak ngajak. Niat awal ingin menjadi manusia yg lebih baik ternyata malah jadi orang yg menyebalkan. Menjadi mendalam lupa meluas. Kalo kita lihat para pelaku bom bunuh diri, militan2 yg hobby perang dan meruntuhkan negara2 itu sangat bisa ditarik benang merahnya. Tentang bagaimana mereka belajar agama. 

Tidak mungkin santri Lirboyo yg mengikuti proses belajar dengan utuh ( tanpa terkontaminasi ngaji2 ditempat lain) kok ngeledakin gereja dan menolak pancasila. Mereka tahu sejarah Islam masuk ke Nusantara ini, dan bagaimana pancasila lahir. Mereka punya guru2 yang makamnya masih ada, terawat dan diziarahi secara rutin. Aku baru tahu kalo tradisi merawat makam adalah salah satu cara agar tidak tercerabut dari akar. 

Pernah suatu ketika, saat aku di Sumatera barat, seorang kawan berkata: wah..kalo ada rejeki aku pingin kesana mbak, mau ziarah ke makam Syekh Minang kabawi. 

Aku tak banyak bertanya, tapi berusaha mempelajari teman baruku ini, ternyata memang itu kebiasaannya. Setiap mendatangi daerah baru, kegiatan pertama dan utamanya adalah mencari jejak guru2 yg berada dalam jalur keilmuan yg dia kenal. 

Keberadaan makam adalah salah satu bukti dari rantai keilmuan. Lha kalo ziarah kubur diilangi, bahkan yg ekstrem dibom karena takut musyrik, bagaimana kalo nama2 yg di klaim sebagai pensahih itu fiktif belaka? Atau dimodifikasi untuk kepentingan tertentu? Sebuah paradoks ketika kaum pemurni selalu bilang jangan taklid buta, tapi mereka sendiri sangat taklid buta. Suruh nunjukin makam gurunya aja tak bisa.

Lha yang punya guru aja paham betul bahwa rantai informasi yg panjang dan jarak yg jauh sangat memungkinkan untuk terjadi perbedaan. Mereka tak berani mengklaim diri paling benar, melainkan hanya berusaha mencari berkas2 cahaya lalu mendekat. 
----
Sebagaimana urusan makan,( sebagai pemuja slowcook dan dunia kemarin aku kurang cocok dengan hal2 instant. Aku lebih menyukai kopi tubruk hitam daripada sachet, dan aku tak peduli ketika dibully kalo pas ngopi bareng. Aku bengek ketika makan mie instant berturut2 2x saja, aku demam kalo kecolok minuman2 pop), aku tersiksa dengan cara beragama instan ini.... Ntah berapa tahun aku menjalaninya, dan aku merasa hampir gila.

Sebab kegilaan itu kini kutahu...tersesat karena kesombongan untuk mengambil ilmu langsung dari sumbernya, sedang jarak sedemikian jauh, tirakat nol puthul, puasa lihat bakul es degan aja ngamuk. Melek cuman dalam rangka fesbukan.
Sedang ilmu itu harus ditirakati dengan sesungguh sungguhnya tirakat, dan sadar diri bahwa kita ini suangattttt jauh jaraknya dengan Rasulullah. Beliau2 yg masih sempat bertemu Rasulullah saja gelut sesama sodara sepeninggal Rasulullah, apalagi kita, yang jauh jarak dan kualitasnya seperti ini. Bisa menangis saat denger sholawat saja sudah sangat bagus.

Betapa urusan agama itu harus sangat hati2 dan ora etuk kemlinthi.

Thursday, May 16, 2019 - 09:30
Kategori Rubrik: