Mendalami Agama

ilustrasi

Oleh : Nisa Alwis

Sebagian muslimah Indonesia tidak berhijab itu wajar, karena bukan kulturnya. Sebagian lainnya berhijab, juga wajar. Karena di agama ada anjurannya. Yang jadi masalah itu sikap fanatik. Sampai membuat tanda 'kawasan wajib hijab'. Seolah yang tanpa hijab bukan orang baik-baik. Memasang spanduk mabuk: 'pocong saja berjilbab, masa kamu tidak'. Silahkan kalau lebih memilih pocong jadi teman. Sekalian tanya dimana dia ngajinya. Setelah itu kamu diruqyah.

Apa gunanya menuding orang lain mengabaikan agama. Terlebih sekedar dari pakaiannya. Apakah sudah lupa, para orang tua kita pun dahulu begitu. Sangat naif kalau sampai menganggap episode sebelum masa berhijab itu jahiliyah kebodohan. Tatanan sosial itu kompleks. Tidak mekanik seperti pergantian malam dan siang. Lalu terlihat semua hanya tentang gelap dan terang.

Kalau kamu sedang semangat belajar lalu googling tentang ayat hijab, akan muncul banyak artikel. Beruntung jika masuk ke ulasan komprehensif. Yang ngeri kalau dapat feeding takfiri: Jilbab itu fundamental. Hukum syar'i yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Belum mau pakai berarti ingkar. Itu dosa, meski tidak kafir. Yang menentangnya itu kafir sekaligus murtad. Kelak bertempat di neraka, selamanya. MasyaAllah! Pantas saja banyak yang kehilangan nafsu makan. Musnah selera humor. Sebab doktrin pakaian saja sudah horor.

Saat ziarah ke makam Abah, kami menyusuri sisi luar kebun pepaya, memetik beberapa buahnya yang kuning. Dahulu di sana banyak pohon kopi dan kelapa. Salah seorang kyai bercerita tentang "dolbon". "Dolbon teh, naon?" ipar saya Urang Bandung penasaran. Semua sontak tertawa. Akronim yang keren, tapi artinya geuleuh pisan: 'modol di kebon...  Di kampung-kampung, masyarakat dulu begitu. Sumur rumah mungkin ada, tapi WC dan sistem septic tank tidak. Buang hajat pasti ke belakang. Jongkok di kebun atau sungai, kadang terpaksa terlihat orang. Jambanisasi meluas kapan? Belum lama. Baru sekitar 20an tahun saja.

 

Sang kyai melanjutkan: bayangkan suasana 1300 tahun lalu. Ketika Qur'an turun di abad VII. Masyarakat Arab dengan alam padang pasirnya, dan WC belum ada. Maka dalam kitab fikih bab Toharoh, dibahas tentang 'istinja'. Adab bersuci, yang jika tak ada air bisa pakai batu. Ingat, masa itu belum ada sabun dan tissue. Yang dolbon di kampung tidak istinja pakai batu. Tapi pakai daun kopi dulu. Sampai rumah barulah air ditimba. Itu pun kalau tidak lupa.

Situasi itulah salah satu konteks yang melandasi 'asbabun nuzul' ayat jilbab. Para perempuan di Arab yang ke belakang buang hajat, kadang diganggu dan digoda. Al-Ahzab, 59: "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Pesannya adalah untuk perlindungan. Sekarang kamu berhijab atau tidak, jangan diam jika merasa diganggu atau diintimidasi. Sila lapor ke RT atau polisi. Ada payung hukumnya. Situasi ini bukan urusan yang ditimpakan pada perempuan saja. Tetapi lelaki juga wajib respek dan mawas diri. Al-Quran membawa pesan pada suatu masa, dan bukan di ruang hampa. Maka sebelum membuat kesimpulan dan tafsiran, wajib hukumnya ulama melihat latar belakang turunnya ayat. Agar ajaran yang dipetik melahirkan kebijaksanaan. Bukan keterpakuan. Teks bisa tiada arti, tanpa berusaha melihat konteks sebagai pesan inti.

Yang menarik-narik hijab sebagai hidayah, coba kita runutkan lagi. Jika out put hidayah adalah amal dan adab, perbuatan dan akhlakul karimah: yang berhijab tapi rasis dan intoleran, di mana adabnya. Pejabat yang berhijab, bersorban, tapi korup, hidayah yang sia-sia? Bahkan ulama. Bila ucapannya malah mencerca dan kasar, hanya membawa su'ul adab yang menular. Tiada jaminan casing agamis akan berakhlak dan humanis. Sebaliknya, yang tampil biasa tanpa embel-embel agama, bisa sangat jujur membela hak-hak manusia.

Adakah yang melihat kerlip 'hidayah' di sosok seperti ibu Menteri Susi Pujiastuti? Pejuang kehidupan yang dari nol berjualan ikan. Berhenti sekolah, tetapi tidak berhenti membaca dan belajar. Di tangannya bisnis lalu berkembang besar. Ia kemudian jadi srikandi, mengangkat laut Indonesia disegani. Sosok pekerja keras. Penuh kasih sayang pada orang tua, keluarga dan sesama. Baktinya pada nusa bangsa sudah nyata. Beliau layak mendapat pelakat champion tingkat tinggi. Menjadi bagian dari yang disabdakan Nabi: sebaik-baik manusia adalah yang berguna bagi manusia lainnya. Tetapi... Ia tidak berhijab. Bahkan bertato. Sudah, tak perlu resah. Ibu Susi selesai dengan dirinya. Ia pun mungkin tak butuh pengakuan siapa-siapa.

Foto: keluarga King Abdullah of Jordania

Sumber : Status Facebook Nisa Alwis

Tuesday, June 11, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: