Mencoba Mengerti Alasan Polri Membebaskan Provokator

Oleh : Rudi S Kamri

Lebaran tahun 2019 ternyata merupakan hari kemenangan yang sebenarnya dari kelompok provokator bangsa LIEUS SUNGKHARISMA dan MUSTAFA NAHRA (Musnah). Sebaliknya merupakan kekalahan yang sangat menyesakkan dari kelompok akal sehat pendukung NKRI dan Pancasila. 

Jujur saya tidak tahu pasti apa alasan yang masuk akal yang bisa diterima dengan akal sehat sehingga Polda Metro Jaya memberikan pembebasan atau penangguhan penahanan bagi dua orang provokator itu. Dari segi manapun saya mencoba mencari celah pembenaran dari keputusan Polri untuk membebaskan dua orang itu. Dan akhirnya dengan menyesal harus saya katakan, saya tidak menemukan sedikitpun celah untuk bisa memahami keputusan tersebut.

 

Melihat rekam jejak LIEUS dan MUSNAH dalam memproduksi HOAX dan ujaran kebencian kepada Pemerintah dan akibat kerusakan sosial yang diakibatkan oleh ulah kedua orang itu, penangguhan penahanan kedua orang itu sangat tidak bisa diterima oleh akal sehat siapapun. Apalagi melihat video penangkapan LIEUS yang sempat viral di media massa, bagaimana dia terlihat begitu arogan melawan petugas kepolisian. Lalu hanya dalam hitungan hari kemudian dia dibebaskan kembali. Bagi saya Polri telah sukses mempermainkan hati rakyat yang total mendukung Pemerintah. 

Disamping itu trauma masyarakat tentang pembebasan Sri Bintang Pamungkas, Kivlan Zein, Rachmawati Soekarnoputri, AlKhathat dll yang pernah didakwa dan ditahan untuk kasus makar pada Desember 2016 menjelang demo 212 belum hilang dari ingatan kita. Sampai detik ini tidak ada kejelasan tindak lanjut dari kasus tersebut. Dan pada kenyataannya orang- orang itu tetap merasa bebas dan melakukan ujaran kebencian yang sama. Lalu apa bedanya dengan kaus LIEUS dan si MUSNAH ? Apakah polisi bisa menjamin kedua provokator itu tidak akan mengulangi perbuatan yang sama ? Jujur saya tidak yakin. Apalagi pembebasan mereka dilakukan menjelang sidang sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi tgl 11 Juni nanti.

Apapun alasannya dan pertimbangan yang disampaikan oleh juru bicara Kepolisian tentang keputusan penangguhan penahanan kedua provokator itu terlalu sangat normatif dan tidak bisa diterima oleh akal sehat. Jadi kali ini dengan sangat menyesal saya dan sebagian masyarakat Indonesia sangat kecewa dengan keputusan Polri. Seolah Polri hanya memberikan PHP kepada masyarakat.

Seharusnya pimpinan Polri punya kepekaan terhadap kekecewaan masyarakat akibat keputusan tersebut. Momentum dukungan masyarakat yang berakal sehat kepada pemerintah dan khususnya POLRI saat ini yang begitu besar seakan disia-siakan. Disamping itu seharusnya pimpinan Polri tahu persis kerusakan sosial yang begitu parah akibat dari perbuatan jahat mereka kepada masyarakat Indonesia. Kedua provokator itu harus diakui telah memecah belah kedamaian di negeri ini. 

Apakah selanjutnya Eggy Sudjana, Kivlan Zein dan Soenarko cs juga menyusul dibebaskan atau diberikan penangguhan penahanan juga ? Saya tidak tahu. Kalau akhirnya mereka juga dibebaskan juga, saya pastikan kekecewaan dan luka hati masyarakat Indonesia akan semakin dalam. Jadi jangan salahkan kalau kedepannya masyarakat akan menjadi cuek atau apriori dengan apapun yang dilakukan oleh Polri. 

Mudah-mudahan ini menjadi perhatian dan pertimbangan serius dari Pimpinan Polri agar tidak gegabah mengambil keputusan.

Menjawab judul tulisan ini, mencoba mengerti keputusan Polri dalam membebaskan sang provokator, terus terang saya blasssss tidak bisa mengerti. Maafkan saya......

Salam SATU Indonesia
06052019

(Sumber: facebook Rudi S Kamri)
Thursday, June 6, 2019 - 23:15
Kategori Rubrik: