Mencintai Ahok

Oleh: Kajitow Elkayeni

Bukan perkara mudah untuk bisa melihat manusia secara utuh. Apalagi jika menyoal publik figur. Kita terbiasa digiring pemahaman hitam-putih. Framing ada di mana-mana. Media-media saling berebut kuasa untuk membuat sudut pandang. Dan banyak yang jadi korban.

Soal Rizieq misalnya, bagi pengagumnya, dia adalah super hero. Rizieq adalah gambaran imam besar yang ditunggu-tunggu umat. Keberaniannya laksana singa. Ketegasannya setara Umar. Tapi bagi pembencinya, Rizieq tak ubahnya hanya sekadar bajingan yang suka memaksakan kehendak.

Padahal, Rizieq tentu punya sisi lain. Kebaikan-kebaikan yang mungkin tak tersentuh lensa media. Rizieq punya tujuan yang tak terkabarkan kata-kata. Ia manusia, selalu ada ruang abu-abu dalam dirinya. Ia tak sepenuhnya bisa dianggap salah atau benar. Kebencian tanpa dasar akan menutupi kemungkinan itu.

Ahok sejatinya ada dalam aras pemahaman yang sama. Ia kasar. Betul. Namun apakah menjadi kasar tidak boleh? Apakah semua manusia harus lemah-lembut, penuh senyum, banyak basa-basi? Tidak. Manusia boleh marah, boleh sedih, boleh menyesal. Melepaskan emosi dasar ini berarti mengingkari kemanusiaan itu sendiri. Marah secara tepat, pada orang tertentu yang pantas, tentu boleh saja.

Nabi yang mulia saja pernah marah. Dalam Quran, Musa digambarkan temperamen, tapi ia tetap jadi manusia agung. Dulu ketika ia turun dari gunung Sinai, umatnya telah beralih keimanan dengan menyembah patung anak sapi. Nabi Musa mencengkeram kepala saudaranya dan menggenggam janggutnya, seraya melemparkan lauh yang dipegangnya. Lauh yang berisi perintah suci Tuhan.

Musa marah kepada saudaranya karena ia diam membiarkan kekufuran terjadi. Meskipun akhirnya ia bisa menjelaskan sikapnya itu. Musa memberikan kutuk yang mengerikan pada Samiri sang penghasut dan mengusirnya. Patung anak sapi itu dibakar, lalu dibuang ke laut. Nabi Musa marah, sangat marah, tapi kemarahannya tepat. Ia menolak kebodohan kaumnya. Jiwanya terdidik untuk tegas dan jujur. Ia tidak bisa menerima perbuatan keji di sekitarnya.

Jika nabi saja bisa marah, apalagi manusia biasa seperti Ahok? Namun kemarahan itu tentu masih dalam wilayah patut. Melihat bobroknya birokrasi DKI Jakarta, orang-orang jujur harus bisa marah. Untuk menemui RT saja terkadang sangat sulit. Semua hal ujung-ujungnya duit. Kebobrokan itu tak bisa hanya ditegur dengan kata-kata halus. Kerbau harus dilecut untuk memberinya pelajaran, bukan dielus-elus.

Di era pemerintahan Ahok, birokrasi lancar dan tertib. Tapi begitu Ahok cuti, semua kembali semrawut. Para PNS banyak yang mulai datang terlambat. Sampah mulai terlihat menumpuk dan dibiarkan. Para pedagang liar kembali menguasai jalan.

Orang-orang yang memahami kesemrawutan Jakarta mengerti kemarahan Ahok. Kebebalan Jakarta tak bisa dihadapi dengan sikap santun. Bani Israel yang bebal punya nabi yang temperamen seperti Musa, untuk membentuk mereka jadi lurus. Sama seperti kebebalan Jakarta. Ia membutuhkan sosok yang tegas dan tak mau kompromi.

Mencintai Ahok adalah persoalan hati. Ia didakwa banyak hal, termasuk soal reklamasi. Padahal, siapapun gubernur Jakarta tak mungkin mampu menghentikan reklamasi. Berani taruhan titit? Ayo Ahmad Dani maju. Hal itu akan melawan Kepres. Reklamasi hanya bisa dihentikan oleh Presiden. Ahok hanya operator. Tidak setuju reklamasi teluk Jakarta, gugat Presiden, bikin Kepres baru. Selanjutnya tanggung biaya yang telah dikeluarkan banyak perusahaan itu. Pakai duit mbahmu.

Ahok juga didakwa melecehkan Alquran. Proses itu tengah berjalan di pengadilan. Sudah banyak yang menjelaskan soal ini, baik dari segi bahasa maupun hukum. Ahok sudah menyangkal tuduhan itu, tak ada maksud untuk melecehkan. Ia juga telah minta maaf jika ucapannya dimaknai berbeda. Bahkan siap dihukum jika diputus pengadilan salah. Masih juga kurang?

Orang-orang di Kepulauan Seribu memahami persoalan ini dengan baik. Dan mereka tidak mempersoalkannya. Kasus ini menjadi ramai ketika pahlawan islam bernama Buni Yani itu membuat provokasi di media. Dan yang heboh justru kebanyakan dari luar Jakarta. Termasuk pseudo ulama bernama Abdullah Gymnastiar.

Padahal subyek dalam kalimat Ahok itu adalah politikus, bukan ulama. Merekalah yang menjual ayat untuk kampanye. Namun orang-orang marah sudah tidak perduli persoalan linguistik. Kemarahan itu ditumpangi kepentingan politik pilkada DKI Jakarta. Jadilah ia tontonan unjuk kekuatan massa untuk mengintervensi hukum.

Pembenaran semacam ini pun tidak berguna bagi orang yang sudah gelap hatinya dengan kebencian. Karena kebencian tak mengenal kebenaran. Kebencian tak memiliki agama. Padahal Nabi mengajarkan agar umatnya tidak membenci berlebihan, atau mencintai berlebihan.

Manusia bisa salah, Ahok manusia. Jikapun ia bersalah, ia telah meminta maaf dan siap dihukum. Kewajiban manusia beragama selanjutnya adalah memaafkan. Membuka hati selebar-lebarnya, melihat Ahok sebagai manusia seutuhnya.

Mencintai Ahok bukan berarti setuju dengan kesalahan-kesalahannya. Namun melihatnya dengan adil dan jujur sebagai manusia. Dengan mengerahkan perasaan yang mencuat dari dasar hati terdalam. Memberikan hak padanya untuk memperbaiki diri. Mengasihi bukan mengekalkan kebencian. Seperti yang ditunjukkan seorang nenek dalam foto itu. Karena kata orang bijak, puncak tertinggi dalam agama adalah cinta….

(Sumber: https://seword.com/politik/mencintai-ahok/ Status Facebook Kajitow Elkayeni)

Monday, January 2, 2017 - 20:30
Kategori Rubrik: